Pengamat Prediksi Kenaikan Tarif Ojek Daring Berpotensi Pangkas Pertumbuhan Ekonomi

PENGAMAT ekonomi memperkirakan kenaikan tarif ojek daring berpotensi mengurangi Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 0,3 persen.

Pengamat Prediksi Kenaikan Tarif Ojek Daring Berpotensi Pangkas Pertumbuhan Ekonomi
Warta Kota/Henry Lopulalan
RIBUAN pengemudi ojek online (ojol) memadati ruas Jalan Jenderal Gatot Subroto saat aksi unjuk rasa di depan gedung Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (23/4/2018). 

PENGAMAT ekonomi memperkirakan kenaikan tarif ojek daring berpotensi mengurangi Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 0,3 persen.

"Dengan luasnya operasional mereka saat ini, besaran kenaikan tarif tersebut bisa berpengaruh sekitar 0,2-0,3 persen terhadap pertumbuhan ekonomi," kata Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi, menjawab pers di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Perkiraan tersebut berdasar asumsi kenaikan tarif sebesar 42 persen dari rata-rata saat ini Rp 2.200 per kilometer, menjadi Rp 3.100 sesuai usulan Tim 10.

Jawab Tudingan Prabowo Subianto Soal Kebocoran Anggaran, Jokowi: Bocor! Bocor! Bocor!

Data penelitian Research Institute of Socioeconomic Development (Rised) terhadap rencana kenaikan tarif mencatat, saat ini konsumen menempuh jarak sekitar 8,8 kilometer per hari dengan kisaran tarif rata-rata Rp 2.200 per kilometer.

Survei dilakukan terhadap 2.001 responden yang tersebar di 10 provinsi dan berlangsung selama dua minggu pada Januari 2019.

Fithra Faisal Hastiadi menilai, dengan cakupan operasional ojek daring yang luas, kenaikan tarif akan berdampak terhadap 10 sektor usaha, mulai dari bisnis kuliner, pariwisata, hotel, hingga pakaian jadi. Sementara, setiap Rp 100 juta investasi yang dikeluarkan oleh 10 sektor ini, menyerap tenaga kerja 15-20 orang.

Jelang Hari Dilan, Ridwan Kamil Janjikan Bangun Taman Dilan di Bandung

Kini, ojek daring memang tak cuma mengantar penumpang, operasionalnya justru sudah semakin luas, mulai dari melayani pesan antar makanan, belanja kebutuhan pokok, sampai jasa logistik untuk konsumen perorangan dan e-commerce.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2018, sektor transportasi-komunikasi tercatat tumbuh dari 5,04 persen menjadi 6,14 persen. Sektor restoran-hotel juga ikut tumbuh dari 5,31 persen menjadi 5,85 persen.

"Perlu diketahui bahwa pertumbuhan di kedua sektor ini ikut ditopang oleh kehadiran aplikator Grab dan Go-Jek," ujarnya.

Jokowi Salah Sebut Jumlah Outlet Sang Pisang, Kaesang Pangarep Koreksi Lewat Twitter

Menurut Fithra, itu semua berpotensi terjadi akibat kenaikan tarif ojek daring yang berdampak terhadap keputusan konsumen, untuk meninggalkan penggunaan jasa transportasi berbasis aplikasi.

Padahal, selama ini mereka dipakai sebagai sarana penghubung ke transportasi umum lain seperti stasiun dan halte Bus Trans Jakarta. Keadaan ini bisa mendorong masyarakat untuk kembali menggunakan kendaraan pribadi.

Belum lagi dampaknya terhadap penurunan pendapatan mitra pengemudi akibat anjloknya jumlah konsumen mereka. Padahal, mitra pengemudi ojek daring di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari dua juta orang.

Jokowi Ungkap Kaesang Pangarep Kini Mulai Merambah ke Bisnis Ikan Lele

"Pendapatan mereka naik dua kali lipat setelah bergabung ke ojek daring. Bayangkan kalau tarif naik dan pendapatan mereka turun karena sepi order," ulas Fithra.

Karena itu, tambah dia, sangat mungkin jumlah pekerja sukarela (unpaid family worker) yang saat ini sebesar 13 persen dari total pekerja, bakal melonjak signifikan. Padahal, jumlah itu sudah lebih tinggi ketimbang negara-negara tetangga, seperti Filipina 8,3 persen, Malaysia 4,4 persen, dan Singapura 0,8 persen. (Edy Sujatmiko)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved