KPU Tegaskan Orang Gila Tidak Boleh Memilih, yang Mereka Data Adalah Orang dengan Gangguan Jiwa

Sekali lagi, Arief Budiman menegaskan, KPU tidak pernah mendata warga yang sudah dinyatakan gila masuk dalam daftar pemilih.

KPU Tegaskan Orang Gila Tidak Boleh Memilih, yang Mereka Data Adalah Orang dengan Gangguan Jiwa
Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Arief Budiman, mencoba menduduki Kotak Suara yang terbuat dari karton tebal kedap air di Kantor KPU RI, Jakarta Pusat, Senin (17/12/2018). 

KETUA Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman membantah adanya informasi yang menyatakan pihaknya turut mendata calon pemilih berstatus gila, ke daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2019.

"Itu berita hoaks KPU dibilang sudah mendata orang gila dalam daftar pemilih. Saya tahu informasi bohong ini menyebar," kata Arief Budiman dalam acara Rapat koordinasi Kehumasan dan Hukum 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

Bantahan Arief Budiman ini menyusul pertanyaan salah seorang peserta Rakornas asal Bengkulu yang menyampaikan isu soal KPU membolehkan orang gila memilih berkembang di daerahnya.

Jawab Tudingan Prabowo Subianto Soal Kebocoran Anggaran, Jokowi: Bocor! Bocor! Bocor!

Sekali lagi, Arief Budiman menegaskan, KPU tidak pernah mendata warga yang sudah dinyatakan gila masuk dalam daftar pemilih. KPU hanya mendata dan mendatangi warga yang punya gangguan kesehatan jiwa.

"Orang gila itu tidak boleh memilih. KPU hanya mendata warga sebagai pemilih yang memiliki kesehatan jiwanya terganggu, bukan gila ya, bukan orang gila yang di jalanan enggak pake
baju dan makan apa saja di jalan," jelasnya.

KPU heran isu-isu seperti ini diangkap ke permukaan, utamanya menjelang pelaksanaan Pemilu 2019. Padahal, menurutnya, Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2008 sudah memutuskan warga yang terganggu jiwanya namun masih punya kesadaran untuk memilih, bisa diikutsertakan untuk menyalurkan hak pilihnya. Hal itupun sudah diterapkan pada pelaksanaan Pemilu 2009 dan 2014 lalu.

Jelang Hari Dilan, Ridwan Kamil Janjikan Bangun Taman Dilan di Bandung

"Pada Pemilu 2009 dan Pemilu 2014 juga boleh warga yang memiliki gangguan jiwa ikut pemilu. Kok, sekarang isunya KPU membolehkan orang gila ikut memilih," tuturnya.

Arief Budiman menjelaskan, pengertian dari seseorang dengan gangguan jiwa ialah penyakit tersebut tidak permanen. Mereka hanya sedang terganggu jiwanya, dan bisa pulih kembali seperti biasa.

Sedangkan yang didata oleh KPU ialah mereka yang sedang jalani rehabilitasi alias tengah memulihkan stres. Sebab, hal ini berbeda dengan orang yang sudah berstatus gila.

Jokowi Salah Sebut Jumlah Outlet Sang Pisang, Kaesang Pangarep Koreksi Lewat Twitter

"Kita kalau diperiksa kejiwaan kita bisa dibilang terganggu. Saya saja yang setiap saat mikirin kotak suara, surat suara, kadang stres, dan kalau diperiksa mungkin dibilang terkena gangguan jiwa. Yang penting dia tidak gangguan jiwa permanen dan mampu memilih dalam pemilu," beber Arief Budiman.

"Yang kita data, orang-orang yang sedang jalani rehabilitasi, memulihkan stres-nya. Istilahnya bukan orang gila, tapi orang dengan gangguan jiwa. ODGJ atau orang dengan gangguan jiwa, masih boleh memilih," terangnya. (Danang Triatmojo)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved