Moeldoko Minta Semua Pihak Waspadai 'Revolusi Jari' Jika Tidak Ingin Menjadi Bangsa Tertinggal

KEPALA Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko membahas fenomena 'revolusi jari'.

Moeldoko Minta Semua Pihak Waspadai 'Revolusi Jari' Jika Tidak Ingin Menjadi Bangsa Tertinggal
TRIBUNNEWS/SENO TRI SULISTIYONO
Moeldoko di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/11/2018). 

KEPALA Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko membahas fenomena 'revolusi jari'.

Hal itu ia sampaikan saat memberikan sambutan dalam 'Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang Kehumasan dan Hukum Seluruh Indonesia', yang digelar Kementerian Dalam Negeri.

Menurutnya, saat ini sebuah berita hanya dibuat melalui kecepatan kurang dari satu menit. Hal itulah yang ia sebut sebagai 'revolusi jari', di mana banyak orang mempercayai berita yang muncul sepersekian detik.

Ibu-ibu di Jakarta Utara Diminta Belanja Pakai Keranjang, Jangan Kantong Keresek

"Saat ini kita, saya menjuluki ada sebuah revolusi jari, di mana sebuah berita ditentukan kecepatan untuk 30 detik," ujar Moeldoko di Birawa Hall, Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

Moeldoko kemudian menambahkan, saat ini banyak masyarakat yang mengonsumsi berita namun tidak ditelusuri kebenarannya. Sebagian di antara mereka, katanya, 'menelan' informasi tersebut secara penuh.

"Kita baca berita tanpa tahu kebenaran dan seterusnya, apakah berita itu benar atau tidak, masa bodo," jelas Moeldoko.

Hasto Kristiyanto Beri Nilai 3 untuk Puisi Doa yang Ditukar Karya Fadli Zon

Oleh karena itu, ia menjuluki era saat ini bukan merupakan 'revolusi mental', namun 'revolusi jari', karena secara masif bisa mengubah pola pikir seseorang.

"Untuk itu saya mengatakan, revolusi jari ini luar biasa. Bukan revolusi mental, bukan, (melainkan) revolusi jari," kata Moeldoko.

Fenomena tersebut secara tegas ia tekankan harus diwaspadai, lantaran bisa membuat rakyat berpikir 'pendek', dan bangsa bisa tertinggal hanya karena isu yang belum jelas kebenarannya.

"Situasi-situasi ini harus kita waspadai, kalau tidak, kita menjadi tertinggal dan ditinggal situasi," ucapnya. (Fitri Wulandari)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved