Kecamatan Cilandak Gelar Lomba Kampung Bebas Jentik

Kecamatan Cilandak kembali mengadakan Lomba Kampung Bebas Jentik diperuntukan bagi setiap RW yang berada di kelurahan wilayah kecamatan.

Kecamatan Cilandak Gelar Lomba Kampung Bebas Jentik
Istimewa
Foto ilustrasi: Tim jumantik memeriksa wadah berisi air yang dapat menjadi sarang jentik di Kelurahan Muncul, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Minggu (3/2/2019). 

KECAMATAN Cilandak, Jakarta Selatan, kembali mengadakan Lomba Kampung Bebas Jentik (KJB) di 2019.

Lomba tersebut diperuntukan bagi setiap RW yang berada di kelurahan wilayah kecamatan tersebut.

Camat Cilandak Tomy Fudihartono, mengatakan, Kampung Bebas Jentik diadakan dengan tujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue), dan menurunkan angka kejadian penyakit DBD di Kecamatan Cilandak.

"Program Kampung Bebas Jentik telah ditetapkan sejak 2017 melalui SK Camat," ujar Tomy Fudihartono, Kamis (7/2/2019).

Tomy menjelaskan, dalam lomba ini, setiap kelurahan akan mengirimkan dua RW yang akan menjadi perwakilan untuk dinilai.

RW yang merupakan perwakilan, merupakan RW yang memang tengah memiliki kasus DBD tertinggi di kelurahan tersebut.

Ini Cara Ukur Kap Depan Mobil Saat Parkir Agar Pas dan Tak Nabrak

Ketua RT Kaget Akibat Sebuah Peristiwa di Rumah Bripda Puput Nastiti Devi Pada Malam Hari

Konflik RUU Permusikan, Jerinx SID Sindir Vlog Anji Manji Acuan Para Domba

"Justru dengan adanya penilaian KBJ ini, memotivasi menggerakkan semua potensi yang ada di RW nya masing-masing. Karena selama ini kan Jumantik yang lebih aktif itu kan kader. Tapi dengan adanya KBJ ini semua akhirnya aktif. Baik masyarakatnya, pengurus RT/RW, ataupun tokoh masyarakat lainnya, " kata Tomy Fudihartono.

Untuk periode penilaian sendiri, lanjut Tomy, akan menggunakan periode secara triwulan. Ini berarti, setiap RW yang mengikuti lomba, akan mendapatkan empat kali penilaian dalam setahun.

"Setiap tiga bulan sekali kita nilai. Jadi nanti setiap triwulan itu tiap RW bisa sama atau berbeda yang memimpin. Namun penilaian akhir adalah pada saat semua RW telah mengikuti dari triwulan I hingga IV. Nanti ditotal secara keseluruhan hasil yang mereka dapatkan dari seluruh triwulan," ujar Tomy Fudihartono.

Tomy menuturkan, ada beberapa kriteria yang menjadi penilaian dalam lomba ini, salah satunya adalah inovasi yang dilakukan oleh RW-RW tersebut.

"RW itu biasanya ada inovasi, kayak sekarang yang digalakkan pembuatan perangkap nyamuk. Atau biasanya ada RW yang menaruh ikan cupang di lokasi-lokasi yang ditengarai sering menjadi tempat jentik nyamuk, ataupun menanam pohon anti nyamuk, ada juga yang memberikan denda kepada warganya apabila kedapatan ada jentik nyamuk. Kalau inovasinya kelihatan lebih maksimal, pasti nilainya akan diberikan 8 atau 9," papar Tomy Fudihartono.

Tomy menambahkan, yang melakukan penilaian dalam kegiatan tersebut merupakan gabungan dari instansi sektoral seperti pihak kecamatan dan juga Puskesmas.

"Kami juga melibatkan dari KPKP, Kehutanan, PPAPP, dan juga Lingkungan Hidup untuk penilaian KBJ," kata Tomy Fudihartono.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved