Setelah Diawasi Puluhan CCTV Tidak Membuat Tawuran di Pasar Rumput Berakhir

Aksi saling kejar dan saling lempar dilakukan, yang membuat arus lalu lintas terganggu.

Setelah Diawasi Puluhan CCTV Tidak Membuat Tawuran di Pasar Rumput Berakhir
Warta Kota/Feryanto Hadi
Ilustrasi. Dua kelompok pemuda di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, melakukan aksi tawuran di Jalan Rambutan, Kawasan Saharjo, Tebet, Jakarta, Selasa (22/1/2019) malam. 

Aksi tawuran dua kelompok pemuda dari wilayah Pasar Manggis, Jakarta Selatan dengan pemuda dari Menteng, Jakarta Pusat kembali pecah pada Selasa (5/2/2019) malam.

Aksi ini seolah menjadi cibiran terhadap sejumlah upaya yang dilakukan pemerintah kota Jaksel bersama kepolisian yang sebelumnya melakukan sejumlah penanganan agar aksi tawuran tak lagi terulang.

Mulai spanduk ancaman pidana terhadap pelaku tawuran hingga pemasangan puluhan kamera CCTV sepertinya tak mempan meredam permusuhan kedua kubu.

Bentrok terjadi di ruas Jalan Sultan Agung.

Aksi saling kejar dan saling lempar dilakukan, yang membuat arus lalu lintas terganggu.

Camat Setia Budi, Dyan Airlangga menyebut, peristiwa berawal karena adanya aksi saling provokasi kedua kelompok.

"Kalau berdasarkan informasi yang kami dapat, awal itu terjadi provokasi baik dari pihak Menteng Tenggulun Jakarta Pusat dan Pasar Manggis Jaksel," ujar Dyan, Rabu (6/2/2019)

"Awalnya selalu dari provokasi, seperti dari sana mereka memprovokasi kemudian yang satu merespon, begitu pun sebaliknya, itu awal kejadian dari tiga peristiwa tawuran terakhir itu," imbuhnya.

Dari rekaman video yang beredar, aksi tawuran berlangsung mendebarkan.

Kedua kubu membekali dengan senjata tajam.

Namun, polisi mengkonfirmasi belum adanya laporan korban dari peristiwa itu.

Dyan menyebut, aksi tawuran terekam kamera pengawas hingga kemudian polisi datang berusaha membubarkan massa.

"Itu sudah masuk pantauan kami dan terekam cctv juga, sudah kami berikan pada polisi juga dan ini menjadi target karena mereka sudah melanggar hukum akan segera kami tindak," katanya.

Dyan menyebut, aksi tawuran dilakukan seperti mencari celah saat tidak ada penjagaan dari pihak kepolisian.

"Mehadiran polisi selalu ada, tapi para pelaku ini pintar melihat titik lengah, misalnya seperti para petugas sedang shalat, makan, nah di titik itu lah mereka beraksi. Memang informasi yang didapat itu ada juga pelaku yang bertugas memantau kehadiran polisi di lokasi, jadi ketika tidak ada polisi maka langsung pecah tawuran tersebut," imbuhnya.

Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Indra Jafar mengungkapkan, saat ini tim kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam terkait penyebab tawuran.

Kapolres enggan berspekulasi mengenai dugaan tawuran dilakukan untuk pengalihan isu masuknya pasokan narkoba ke kawasan itu.

"Ini aparat dari Polsek dan Polres masih mendalami, masih menyelidiki. Sebenarnya motifnya apa sih? Cuma memang belum ada yang diamankan," ungkapnya.

"Semua informasi dari masyarakat akan kami dalami untuk mengetahui motif tawuran kok sampai berulang seperti itu. Soal peredaran narkoba kami juga sudah banyak mendengar informasi tapi belum ada bukti yang mengarah ke sana," imbuh Kombes Indra.

Kapolres menambahkan, kawasan itu memang kerap terjadi tawuran. Para pelaku tawuran, dikatakan Indra, memanfaatkan kelengahan petugas kepolisian yang biasa berjaga di kawasan itu.

"Di situ memang ada pos polisi. Namun, saat ini kan kami sedang banyak kegiatan pengamanan pemilihan presiden nih. Jadi banyak aparat yang fokus di pengamanan pilpres. Mungkin masyarakat memanfaatkan kelengahan petugas juga," katanya.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved