Taruna ATKP Dibunuh Senior, Sang Ayah Sempat Olahraga Bersama dan Ungkap Ada Pelaku Lain

Korban bernama Aldama Taruna atau siswa di ATKP Makassar tewas dianiaya Muh Rusdi (21) lantaran dipukul bagian dadanya dan ulu hati.

Taruna ATKP Dibunuh Senior, Sang Ayah Sempat Olahraga Bersama dan Ungkap Ada Pelaku Lain
Kompas.com/ERICSSEN
Ilustrasi penganiayaan. 

Sebelum Aldama dianiaya seniornya dan meninggal dunia, Daniel mengaku sempat berolahraga bersama anaknya itu.

Suasana duka menyelimuti kediaman Almada Putra Pengkolan (19) Taruna Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) di Jl Leo Watimena 4, No 5 kompleks Landasan Udara (Lanud) Hasanuddin, Selasa (5/2/2019) malam. (muslimin emba/tribun-timur.com)
Suasana duka menyelimuti kediaman Almada Putra Pengkolan (19) Taruna Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) di Jl Leo Watimena 4, No 5 kompleks Landasan Udara (Lanud) Hasanuddin, Selasa (5/2/2019) malam. (muslimin emba/tribun-timur.com) (muslimin emba/tribun-timur.com)

"Tidak ada firasat sama sekali, paginya itu hari Minggu, saya olahraga bersama terus saya antar ke kampusnya. Dia (Almada) salaman sama saya, pelukan sama saya, hormat patah-patah ke saya, ternyata itu penghormatan terakhir dia ke saya," kenang Daniel dengan nada sedih.

Di mata Daniel, putranya adalah sosok yang ramah dan sopan terhadap orangtua dan sesamanya.

"Ramah anak saya itu pak, sopan, tidak tahu kalau di belakang kami, tapi kami selama ini didik dia (Aldama) sopan, dan teman tarunanya juga boleh ditanya, seperti apa anak saya itu," tutur Daniel.

Terkait kasus kematian Aldama, Polrestabes Makassar menetapkan satu tersangka, Muh Rusdi (21), yang merupakan senior korban di ATKP.

Muh Rusdi disangka melakukan penganiayaan terhadap Aldama yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.

Ada Pelaku Lain

Polrestabes Makassar menetapkan Muh Rusdi (21), sebagai pelaku penganiayaan yang mengakibatkan tewasnya Taruna Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Aldama Putra Pangkola (19), Selasa (5/2/2019)

Muh Rusdi merupakan senior Aldama di ATKP.

Ia (Muh Rusdi) melakukan penganiayaan terhadap Almada, Minggu (3/1/19).

Mendengar kabar penetapan tersangka penganiaya yang mengakibatkan tewasnya Taruna Tingkat satu ATKP itu, ayah Aldam, Pelda Daniel, berharap pihak kepolisian terus mengembangkan kasus penganiayaan yang berbuntut hilangnya nyawa seseorang itu.

"Saya ini masih sementara berduka, tapi begitu saya tahu sudah ada pelakunya dan positif ditetapkan sebagai tersangka, duka saya sedikit berkurang walau saya masih berduka. Jadi saya mohon pihak terkait yang berkecimpung di persoalan ini agar dapat menuntaskan kasus ini dan menghukum seberat-beratnya pelaku itu," kata Pelda Daniel.

Pelda Daniel menduga, pelaku penganiaya anaknya bukan hanya seorang.

Foto ATKP Makassar, Aldama (19) semasa hidupnya. (muslimin emba/tribun-timur.com)
Foto ATKP Makassar, Aldama (19) semasa hidupnya. (muslimin emba/tribun-timur.com) (muslimin emba/tribun-timur.com)

Ia pun berharap, jika masih ada pelaku lainnya yang terlibat dalam kematian putranya itu, agar dapat segera ditangkap.

"Kalau bisa dikembangkan pak, pokoknya saya harap kasus ini diusut sampai tuntas," tegas Daniel.

Pelda Daniel awalnya tidak menyangka putra semata wayangnya itu tewas dianiaya seniornya.

Awalnya, Daniel mengaku mendapat kabar dari pengasuh Aldama di ATKP, bahwa Aldama terjatuh dan berada di RS Sayang Rakyat, Minggu malam.

"Saya ditelpon malam-malam oleh pengasuh anak saya di ATKP, katanya bisa merapat ke RS Sayang Rakyat soalnya anak saya katanya jatuh, jadi awalnya perkiraan saya hanya luka atau patah. Pas saya tiba (di RS Sayang Rakyat) saya disambut pelukan dan berkata, bapak yang sabar yah... kami sudah berusaha tapi apa daya, disitulah saya langsung seperti tidak bisa berkata-kata lagi karena dipikiran saya anak saya sudah meninggal," cerita Daniel.

Daniel yang syok mendengar kabar anaknya telah tiada, pun berusaha tegar dan menenangkan diri.

"Beberapa saat, saya diberi air putih minum, saya bilang bisa saya lihat anak saya. Jadi saya diantar masuk ke UGD dan melihat anak saya sudah diselimuti," cerita Daniel dengan nada sedih.

Ia pun membuka kain penutup jenazah anaknya dan melihat langsung wajah Aldama.

"Saya buka kainnya, saya lihat wajahnya banyak luka-lukanya di kepalanya, di pelipis dan di bawah matanya," ujar Daniel.

Daniel pub menanyakan ke pengasuh Aldama di ATKP, terkait penyebab kematian putranya.

Namun, kata Daniel, pihak ATKP berusaha menutupi kasus penganiayaan yang menewaskan putranya dengan berkata terjatuh di kamar mandi.

"Saya tanya, anak saya ini mati karena apa. Dari ATKP, pengasuhnya itu bilang anak saya jatuh di kamar mandi," ungkap Daniel.

Namun, jawaban pihak ATKP tidak diterima Daniel, lantaran kondisi Aldama yang mengalami sejumlah luka di wajahnya.

"Jadi informasi-informasi ini seolah menutupi, jadi saya berharap kalau bisa jangan seperti ini, berbohong menutupi kasus ini, makanya saya tidak percaya anak saya jatuh di kamar mandi," ungkap Daniel.

Daniel begitu meyakini anaknya tewas dianiaya lantaran melihat sejumlah luka yang diderita anaknya.

"Saya tahu betul anak saya itu dianiaya, wong saya rasakan kok waktu pendidikan seperti apa penganiayaan itu," ujar prajurit TNI AU itu.

Ayah satu anak ini pun berharap agar kasus kematian anak semata wayangnya itu dapat diusut tuntas pihak kepolisian.

Saat ini, jenazah Aldama disemayamkan di rumah duka Jalan Leo Watimena 4, No 5 kompleks Landasan Udara (Lanud) Hasanuddin.

Rencananya, jenazah Aldama akan dimakamkan di pekuburan umum Parangalla, Rabu besok.

Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com dengan judul "Aldama Taruna ATKP Makassar Meninggal Dunia Dianiaya Senior: Ini Kronologi dan Penyebabnya" dan "Aldama Taruna ATKP Makassar Meninggal Dunia Dianiaya Senior: Ini Kronologi dan Penyebabnya" serta "Ayah Taruna ATKP Makassar yang Tewas Dianiaya: Pelakunya Bukan Hanya Seorang"

Editor: Panji Baskhara
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved