Breaking News:

Kasus Rocky Gerung

Rocky Gerung Nilai Pernyataan Kitab Suci Fiksi Disidangkan di Seminar, Bukan Dipolisikan

Rocky Gerung mengaku ia menerangkan bahwa dirinya adalah peneliti dan pengajar, sehingga memaknai kata fiksi termasuk kata kitab suci sebagai konsep.

Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Pengamat Politik, Rocky Gerung penuhi panggilan kepolisian terkait kasus penodaan agama di Ditkrimsus Polda Metro, Jakarta Selatan, Jumat (1/2/2019). Ia berjalan sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah langit biru. 

Mantan dosen filsafat Universitas Indonesia (UI) Rocky Gerung menilai pernyataannya yang menyebutkan kitab suci adalah fiksi sebenarnya lebih tepat disidangkan di seminar dan bukan dilaporkan ke polisi.

"Jadi ini suatu kasus yang sebenarnya disidangkan di ruang seminar, bukan dilaporkan oleh yang bersangkutan itu. Ya yang bersangkutan pasti kurang pengetahuan dan kecerdasan. Jadi itu intinya," kata Rocky Gerung setelah memberi klarifikasi selama 4,5 jam di Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Jumat (1/2/2018) malam.

Rocky Gerung keluar dari ruang pemeriksaan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Jumat (1/2/2019) malam sekira pukul 20.40.

Ia berada di ruang pemeriksaan sejak pukul 16.00 dan dimintai klarifikasi atas laporan dugaan penodaan agama, akibat pernyataan Rocky bahwa kitab suci adalah fiksi di acara ILC di TV One, April 2019 lalu

Menurut Rocky Gerung ada dua hal substansi yang ditanyakan penyidik dalam klarifikasi ini.

"Intinya adalah mencari klarifikasi tentang istilah fiksi. Rupanya pelapor gagal paham membedakan antara fiksi dan fiktif," kata Rocky Gerung usai memberi klarifikasi di Polda Metro Jaya,

"Padahal sudah berkali-kali saya terangkan bahkan sangat jelas disitu, bahwa fiksi itu adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi. Dan itu penting dan baik. Beda dengan fiktif yang cenderung mengada-ada. Jadi itu intinya," lanjutnya.

Kemudian, Rocky mengaku ia menerangkan bahwa dirinya adalah peneliti dan pengajar, sehingga memaknai kata fiksi termasuk kata kitab suci sebagai konsep.

"Dan itu konteksnya adalah untuk mengajarkan dengan metodologi yang disebut Silogisme Eskatologik. Jadi ini suatu kasus yang sebenarnya disidangkan di ruang seminar, bukan dilaporkan oleh yang bersangkutan itu. Ya yang bersangkutan pasti kurang pengetahuan dan kecerdasan. Jadi itu intinya," papar Rocky Gerung.

Ia mengatakan totalnya ada 20 pertanyaan yang diajukan penyidik dalam klarifikasi ini. "Semuanya ada 20 pertanyaan," kata Rocky Gerung.

Halaman
1234
Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Panji Baskhara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved