Kasus Rocky Gerung

Rocky Gerung Nilai Pelapor Dirinya Terkait Kitab Suci adalah Fiksi Butuh Forum Dialog Akademis

Rocky Gerung menilai, pelapor yang mempolisikan dirinya atas dugaan penodaan agama membutuhkan forum percakapan akademis agar tidak gagal paham.

Rocky Gerung Nilai Pelapor Dirinya Terkait Kitab Suci adalah Fiksi Butuh Forum Dialog Akademis
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Rocky Gerung, didampingi kuasa hukumnya, Haris Anzar, usai memberikan klarifikasi ke Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (2/2/2019), terkait pernyataannya bahwa kitab suci adalah fiksi yang dianggap menista agama. 

Rocky Gerung menilai pelapor dirinya terkait Kitab Suci adalah fiksi butuh forum dialog akademis agar tidak gagal paham atas makna pernyataannya. Rocky dianggap menista agama oleh pelapor.

MANTAN dosen filsafat Universitas Indonesia (UI) Rocky Gerung menilai, pelapor yang mempolisikan dirinya atas dugaan penodaan agama karena pernyataannya bahwa kitab suci adalah fiksi, membutuhkan forum percakapan akademis agar tidak gagal paham atas makna pernyataannya.

"Mungkin beliau membutuhkan percakapan akademis tapi nggak punya forum. Nggak tahu ada imajinasi dari mana, tiba-tiba melaporkan kasus yang sudah satu tahun," kata Rocky usai memberi klarifikasi atas pelaporan dirinya di Mapolda Metro Jaya, Jumat (1/2/2019) malam.

"Atau mungkin ada suara dari belakang baliho partai, nggak ngerti juga," kata Rocky.

Menurur Rocky kegagalanpahamnya pelapor, membuat pelapor membabi buta dan mempolisikan dirinya.

Salah satu pendiri Setara Institute itu mengatakan, ada dua hal substansi yang ia terangkan dalam klarifikasi ke penyidik.

Rocky Gerung Tak Tahu Kejelasan Kasusnya Usai Klarifikasi Kitab Suci Apakah Berlanjut atau Distop

Pelapor Amati Penyataan Rocky Gerung Soal Kitab Suci Fiksi dari YouTube

Rocky Gerung Dicecar 20 Pertanyaan di Polda Metro Jaya

"Saya diperiksa, intinya adalah mencari klarifikasi tentang istilah fiksi. Rupanya pelapor gagal paham membedakan antara fiksi dan fiktif. Padahal sudah berkali-kali saya terangkan bahkan sangat jelas di situ, bahwa fiksi itu adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi. Dan itu penting dan baik. Beda dengan fiktif yang cenderung mengada-ada. Jadi itu intinya," papar Rocky.

Rocky mengaku, ia menerangkan bahwa dirinya adalah peneliti dan pengajar, sehingga memaknai kata fiksi termasuk kata kitab suci sebagai sebuah konsep.

"Dan itu konteksnya adalah untuk mengajarkan dengan metodologi yang disebut Silogisme Eskatologik. Jadi ini suatu kasus yang sebenarnya disidangkan di ruang seminar, bukan dilaporkan oleh yang bersangkutan itu. Ya yang bersangkutan pasti kurang pengetahuan dan konsep-konsep dasar. Jadi itu intinya," papar Rocky.

Ia mengatakan total ada 20 pertanyaan yang diajukan penyidik dalam klarifikasi ini.

Halaman
123
Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved