Minggu, 3 Mei 2026

Wilayah Kalideres Tertinggi dalam Peningkatan Kasus DBD 2019

Di awal tahun 2019, ada tiga wilayah di Jakarta Barat yang paling menonjol yaitu wilayah Kalideres, Cengkareng, dan Kembangan.

Tayang:
Penulis: Joko Supriyanto |
Warta Kota/Zaki Ari Setiawan
ILustrasi. Penanganan korban DBD. 

Sejumlah kasus Demam Berdarah Dangue (DBD) di DKI Jakarta beberapa pekan ini terus mengalami peningkatan, tak terkecuali wilayah Jakarta Barat.

Pada tahun 2019 ini, Jakarta Barat menjadi salah satu wilayah yang paling menonjol kasus DBD ini.

Dari data yang diperoleh, awal tahun 2019, ada tiga wilayah di Jakarta Barat yang paling menonjol yaitu wilayah Kalideres, Cengkareng, dan Kembangan.

Dengan rasio kejadian tertinggi berada di wilayah Kalideres dengan rasio 16.94 per 100.000 penduduk.

Kepala seksi Pencengahan dan pengendalian Penyakit (P2P) Sudin Kesehatan Jakarta Barat, Nita, mengatakan hasil penyelidikan empidemiologi (PE) per 1 Januari hingga 27 Januari 2019 terdapat sebanyak 153 kasus.

"Yang paling menonjol berdasarkan hasil penyelidikan empidemiologi (PE) positif wilayah Kalideres sebanyak 32 kasus, Cengkareng 17 kasus, disusul Kembangan 10 kasus," kata Nita saat dikonfirmasi, Selasa (29/1/2019).

Sementara itu, wilayah Palmerah, Kebon Jeruk, Grogol Petamburan, Tambora, Taman Sari masih menjadi kawasan terendah terjadinya DBD.

Sedangkan hasil penyelidikan empidemiologi (PE) negatif total seluruhnya berjumlah 85 kasus.

Diungkapkan Nita, jika dibandikan pada tahun 2018, kasus DBD lebih rendah dimana wilayah cengkareng hanya terjadi 18 Kasus, Kebon Jeruk 11 kasus dan Kecamatan Grogol Petamburan yang hanya terjadi 14 kasus.

Peningkatan DBD justru berbadingkan terbalik pada Kecamatan Kalideres pada tahun 2018. Dimana rasio kejadian sangat kecil dan hanya 3 kasus.

Namun, justru di tahun 2019 justru Kalideres menjadi wilayah tertinggi yang terdampak DBD.

"Dibandingkan tahun 2018 memang terjadi peningkatan, dimana dimana paling tinggi terjadi di Kecamatan Cengkareng yaitu 18 kasus, tapi berbanding terbalik dengan Kecamatan Kalideres tahun lalu hanya 3 kasus," paparnya.

Jumantik Setiap Satu Rumah

Dalam upaya menanggulangi permasalahan DBD di Jakarta Barat, Sudin Kesehatan Jakarta Barat berkerja sama dengan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat membentuk kader jumatik disetiap rumah warga.

Hal itu dilakukan agar penanggulang DBD dapat dilakukan oleh masyarakat, sehingga masyarakat dapat memantau lingkungannya sendiri.

"Kami berupaya menanggulangi ini, yang pertama yaitu membentuk dalam satu rumah itu ada jumantik. Karena untuk menanggulangi itu kita harus bersama-sama dengan masyarakat, jadi setiap rumah itu ada jumantiknya," kata Nita.

Selain itu, pihaknya mengaku setiap hari Jumat juga digelar Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat.

Di mana menjangkau setiap titik-titik lokasi yang dinilai sulit dengan pengerahan petugas.

"Ada juga yaitu menaburkan abate ketempat penampungan air yang sulit kita untuk mengurasnya, jadi kita taburkan satu sendok bubuk, nanti di taburkan disana yang berdurasi selama 3 bulan," ujarnya.

Menurut, Nita yang paling efektif yaitu penerapan Menguras, Menutup dan Mendaur Ulang (3M) Plus setiap seminggu sekali karena dengan langkah itu dipastikan perkembang biakan nyamuk tidak akan terjadi.

Terlebih, masyarakat dapat memanfaatkan ikan cupang sebagai pemberantas jentik nyamuk.

"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan perubahan perilaku, yaitu demi 3M plus, karena itu yang paling efektif. Disamping itu teman puskesmas juga aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat," ucapnya.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved