News

Orangtua Pindahkan GNS ke Sekolah Lain

Dilihat dari kediamannya, keluarga GNS tampaknya bukan orang yang teramat susah dalam hal ekonomi. Pantauan Warta Kota, Selasa (29/1/2019) petang.

Orangtua Pindahkan GNS ke Sekolah Lain
Warta Kota
Rumah keluarga GNS di Kampung Sidamukti, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Selasa (29/1/2019). 

Depok, Warta Kota. GNS (10) gadis yang duduk di kelas IV SDIT Bina Mujtama, Bojonggede, Kabupaten Bogor, diberitakan menjalani hukuman push-up sebanyak 100 kali akibat belum membayar iuran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), Senin (28/1/2019).

Rumah keluarga GNS di Kampung Sidamukti, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Selasa (29/1/2019).
Rumah keluarga GNS di Kampung Sidamukti, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Selasa (29/1/2019). (Warta Kota)

Itu merupakan hukuman push-up kedua kalinya yang dialami GNS karena masalah yang sama. Namun, setelah peristiwa terakhir, GNS tidak mau lagi kembali ke sekolah karena takut kembali dihukum push-up. Saat ini, orangtua GNS sedang mencari sekolah lain untuk gadis malang itu.

Dilihat dari kediamannya, keluarga GNS tampaknya bukan orang yang teramat susah dalam hal ekonomi. Pantauan Warta Kota, Selasa (29/1/2019) petang, meski berada di pemukiman padat dan hanya memiliki akses masuk berupa gang sempit, rumah yang berada di Kampung Sidamukti, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, itu cukup besar dan berlantai dua. Di dalam rumah tampak terparkir sebuah sepeda motor.

Dayat (47), ayah GNS, bekerja sebagai karyawan pabrik di Jalan Raya Bogor, tak jauh dari rumahnya. Sementara ibunya tidak bekerja alias ibu rumah tangga. GNS memiliki dua kakak laki-laki yang usianya terpaut cukup jauh.

Saat ditemui di rumahnya, Dayat tidak mau berbicara banyak tentang peristiwa viral yang dialami anaknya itu. Dia takut salah ngomong. Yang jelas, katanya, masalah itu sudah diselesaikan di SDIT Bina Mujtama, Selasa pagi.

"Tadi pagi saya sudah ke sekolah sama istri juga, di sana ketemu sama kepala sekolah. Ada dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan polisi juga," ujar Dayat kepada Warta Kota.

Namun, Dayat mengakui, saat ini dia memang tengah mencari sekolah lain sebagai tempat putrinya menimba ilmu. Dia memutuskan mengeluarkan anaknya itu dari SDIT Bina Mujtama. Namun, dia membantah keluarnya GNS dari sekolah akibat peristiwa viral itu. Sudah lebih dari sepekan, anaknya belum lagi kembali ke sekolah.

"Bukan karena itu (trauma dihukum push-up). Memang lagi mau pindah sekolah juga," kilahnya.

Dikatakan Dayat, peristiwa yang viral itu sebenarnya sudah terjadi lebih dari sepekan lalu. Dia membantah anaknya dihukum push-up 100 kali. Menurutnya, GNS hanya push-up 10 kali.

Saat itu, dia juga tidak mempermasalahkan hukuman push-up itu karena ada pula anak lain yang dapat hukuman serupa karena telat bayar SPP. Makanya, Dayat kaget mengapa masalah itu baru muncul dan sampai viral.

"Saya kemarin sebenarnya enggak tahu apa-apa, karena saya kan kerja. Nah, pulang kerja, tahu-tahu rame di rumah karena katanya anak saya dihukum push-up," bilang Dayat.

Setelah itu, Dayat ogah berbicara lagi. Dia juga tak menjawab ketika berusaha dikonfirmasi soal telatnya pembayaran SPP. Dia pamit masuk ke dalam rumah dan menyudahi obrolan. "Sudah ya, takut salah lagi. Saya mau salat," tutupnya. (gps)

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved