Selasa, 28 April 2026

Ada Korelasi Antara Seni Kreatif dan Kesuksesan

Memupuk kreativitas anak sejak dini melalui karya seni memiliki dampak positif pada kebahagiaan dan masa depan anak.

Penulis: |
Warta Kota/Nur Ichsan
Lomba Menggambar Hari Pendidikan. 

Memupuk kreativitas anak sejak dini melalui  karya seni memiliki dampak positif pada kebahagiaan dan masa depan anak.

Psikolog  Anak Samanta Ananta mengatakan, terdapat korelasi yang kuat antara anak yang melakukan seni kreatif dan kesuksesan mereka di masa dewasa.

  “Anak-anak yang aktif membuat karya seni cenderung lebih memiliki banyak ide positif untuk penemuan teknologi. Melalui seni, anak-anak  belajar untuk berpikir out of the box. Sehingga merekapun lebih terlatih untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi,” kata Samanta saat menjadi pembicara di acara Kick off Koko Olimpiade 2019 di Lewis & Carrol, Selasa (22/1/2019).

Selain itu, menciptakan dan mengamati seni dapat mengurangi hormon kartisol atau hormon stress.

Sebaliknya, melakukan sesuatu yang anak-anak sukai akan melepaskan hormon endorphin, yakni hormon yang memberikan rasa bahagia.

Tidak  hanya itu, kreativitas yang lebih besar menimbulkan kebahagiaan yang  lebih mendalam. Proses kreatif itu sendiri merupakan sumber kebahagiaan bagi kebanyakan orang.

Dengan memiliki kreativitas, seseorang juga lebih mampu memecahkan masalah kecil yang menimpanya setiap hari. 

“Pada saat menggambar, pikiran anak teralihkan ke hal yang positif, mood yang lebih positif, rileks, serta fokus mengerjakan tugas,” ujarnya.

Salah satu karya seni yang perlu distimulasi ke anak adalah menggambar. Beri kertas atau alat gambar, dan biarkan anak-anak mengekspresikan gambarnya. Kesalahan tersering orangtua yang membuat anak enggan menggambar adalah terlalu banyak intervensi terhadap hasil gambar anak dan juga pewarnaannya. Misalnya orangtua ‘protes’ dengan menanyakan mengapa warna gunung berwarna biru,  atau mengapa anak hanya menggambar dua gunung saja, tanpa gambar yang lain.

 “Jangan-jangan anak menggambar gambar itu-itu saja, karena anak kurang diberi wawasan dan pengalaman. Sehingga anak hanya tahu gambar itu saja. Terpenting jangan ada judgement,” kata Samanta.

Sebaliknya justru diberi kata-kata yang memberi semangat. Misalnya, gambar kamu kali ini sudah lebih ‘berani’ dari gambar sebelumnya.  

Anak  perlu diberi inspirasi dengan mengajak ke museum,  pantai, atau kebun bintang, dan juga ke kelas menggambar.

Ajak teman-temannya juga biar semangat ketika mengikuti les menggambar. Selain itu, beri alat-alat gambar yang beraneka jenis.

Dari cat air, akrilik, dan pinsil warna, serta media gambarnya. 

Gimana bila anak-anak terutama balita lebih suka mencoret-coret di tembok rumah?

Samanta menyarankan agar, ada satu tembok rumah yang khusus disediakan anak-anak untuk mencoret-coret sebebas-bebasnya.

Tembok itu mudah dibersihkan atau dicat kembali sehingga anak-anak bisa puas mencoret-coret di dinding tersebut.

“Jangan dilarang, tapi beri kebebasan di satu tembok terpilih tersebut. Dengan memberikan satu tembok tersebut, anak juga diajari tanggungjawab,” katanya.

Sebaliknya bila ternyata anak tidak ada minat untuk belajar menggambar, sebaiknya orangtua mengenalkan dengan mewarnai terlebih dahulu.

Gambarnya jangan yang besar dulu, tapi yang kecil sehingga cepat diselesaikan.

Bisa juga ganti  suasana saat mewarnai. Ketika berlibur ke pantai atau ke tempat yang disukai anak,  orangtua sediakan print  out gambar-gambar lucu dan kecil dulu untuk diwarnai. Bila anak mampu menyelesaikan pewarnaan gambar tersebut, dipuji.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved