Pilpres 2019

Prabowo Subianto: Jangan Disebut Lagi Menteri Keuangan, tapi Menteri Pencetak Utang

CALON presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melontarkan kritik keras terkait utang pemerintah yang dinilai sudah tak wajar.

Prabowo Subianto: Jangan Disebut Lagi Menteri Keuangan, tapi Menteri Pencetak Utang
Reuters via dw.com
PRABOWO Subianto 

CALON presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melontarkan kritik keras terkait utang pemerintah yang dinilai sudah tak wajar.

Prabowo Subianto berpandanganm situasi ini tidak bisa dibiarkan carut marut. Menurutnya, kinerja pemerintah sekarang tidak andal dalam mengatasi pertumbuhan ekonomi, sehingga harus berutang ke Bank Dunia.

"Menurut saya, jangan disebut lagi Menteri Keuangan, tapi mungkin Menteri Pencetak Utang. Bangga untuk utang, yang bayar orang lain," ujar Prabowo Subianto saat deklarasi dukungan Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (APTSI) di Padepokan Pencak Silat, TMII, Jakarta Timur, Sabtu (25/1/2019).

Jalan Perimeter Utara Bandara Soekarno-Hatta yang Baru akan Dibuka pada 1 Maret 2019

Namun demikian, Prabowo Subianto mengaku tidak jemawa bisa mengubah keadaan secara instan.

"Saya bukan orang sakti yang bisa dengan tongkat 'simsalabim' selesai, tidak bisa. Ibarat penyakit ini stadium lumayan parah. Utang menumpuk terus," sambung Prabowo Subianto.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, batasan aman atau tidaknya besaran utang pemerintah, diatur dalam Undang-undang Keuangan Negara nomor 17/2003.

Jadi Janda, Gisella Anastasia Sedih tapi Lega

Disebutkan pada Pasal 12 ayat (3), bahwa defisit anggaran dimaksud dibatasi maksimal 3 persen dari produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan jumlah pinjaman dibatasi maksimal 60 persen dari PDB.

Dengan total utang Rp 4.418,3 triliun, maka rasio utang sebesar 29,98 persen dari total PDB yang berdasarkan data sementara sebesar Rp 14.735,85 triliun. Itu artinya, masih di bawah batas yang ditentukan Undang-Undang Keuangan Negara.

"Debt to GDP ratio sepengetahuan saya, itu 30 persen, enggak tinggi. Tapi kita tidak katakan mau sembrono. Kan enggak juga. Kita harus hati-hati, defisit makin diperkecil. Apakah dengan defisit kemarin Rp 1,7 triliun, itu besar? Apakah itu berarti pemerintah ugal-ugalan? Ya enggak lah," paparnya, di Kompleks Istana, Jakarta Pusat, Rabu (23/1/2019).

"Indonesia sekarang growth di atas 5 persen dan defisitnya di bawah 2 persen. Jadi, tidak relevan statement IMF itu untuk Indonesia, karena berarti kita kan makin hari akan makin menurun," tambah Sri Mulyani. (Reynas Abdila)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved