Selasa, 9 Juni 2026

Kolom Trias Kuncahyono

Cogito Ergo Sum

Kini, diktum cogito ergo sum, “aku berpikir karena itu aku ada”, sering diplesetkan menjadi, antara lain, “aku membuat hoaks, karena itu aku ada”,

Tayang:
Editor: PanjiBaskhara
Istimewa
Rene Descartes 

Mengapa untuk menunjukkan esksitensinya orang harus melakukan sesuatu, melakukan tindakan yang merugikan orang lain?  Apa itu sekadar, selain untuk menunjukkan eksistensinya, untuk pemuasan diri.

Menjelang “pesta merayakan perbedaan”, pesta demokrasi 17 April 2019, yang semestinya dipersiapkan dengan penuh suka cita, yang terjadi justru sebaliknya. Saban hari, tersebar luas berita-berita hoaks, ujaran-ujaran kebencian, fitnah dan lain sebagainya.

Semua itu, membuat orang, terutama yang berdiri berseberangan, terus menumpuk rasa permusuhan; sementara yang berdiri di tengahpun semakin muak dengan semua itu. Memang, penyebaran berita palsu, hoaks dapat memenuhi tujuan-tujuan tertentu, mempengaruhi keputusan politik, dan demi keungungan ekonomi.

“Berita bohong adalah tanda sikap intoleransi dan hipersensitif, dan hanya akan menyebarkan arogansi serta kebencian. Itulah akhir dari kehonongan,” begitu pendapat Paus Fransiskus (The Truth Will Set You Free—Fake News and Journalisme for Peace, 2018).

Paus masih menambahkan, berita palsu tapi bisa dipercaya ini, menjadi awal keributan. Karena menangkap perhatian orang-orang dengan memberikan stereotip serta prasangka sosial umum yang bisa mengeksploitasi emosi sesaat, seperti kegelisahan, penghinaan, kemarahan, dan frustasi.

Cerita-cerita palsu dapat menyebar dengan cepat sehingga penyangkalan pun tidak mampu memperbaiki kerusakan yang terjadi. Akibatnya, banyak orang yang dapat dengan cepat menjadi kaki tangan penyebaran gagasan yang bias dan tidak berdasar meski sebenarnya tidak bersedia.

Maka itu, plesetan dari diktum cogito ergo sum, tersebut di atas bisa dikatakan sebagai tindakan yang tanpa hati, pun pula tak bernalar; tidak mempertimbangkan suara hati.

Mengutip pendapat Franz Bockle (1921-1941) seorang teolog moral dari Swiss, ada tiga suara hati: pertama sebagai yang mendahului suara hati, di mana suara hati memberikan pertimbangan pilihan untuk bertindak mengenai apa hasil yang akan diterima jika manusia memutuskan sesuatu yang berbeda. Pada tahap ini, kebijaksanaan seseorang merupakan hal yang penting.

Kedua, keputusan aktual dari suara hati, dan manusia bertanggungjawab atas tindakannya. Ketiga, konsekuensi suara hati. Suara hati yang baik, mengafirmasi keputusan yang diambil, yang diwujudkan dalam rasa damai atau sebaliknya jika keputusan itu salah menimbulkan penyesalan yang mendalam.

Akan tetapi, mereka yang memilih memelesetkan diktum cogito ergo sum,  tidak memiliki pertimbangan suara hati, dan tidak mempunyai perasaan. Barangkali, pada waktu itu, karena ambisinya yang meluap-luap, menggelora, mereka mampu membungkam suara hatinya sendiri.

Sumber: WartaKota
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved