IFLC: Prihatin Penanganan Kasus Prostitusi Online, Ada 5 Sikap Komnas Perempuan

Indonesia Feminist Lawyers Club menyatakan prihatin atas tindakan dari Polda Jawa Timur.

IFLC: Prihatin Penanganan Kasus Prostitusi Online, Ada 5 Sikap Komnas Perempuan
Istimewa
Indonesia Feminist Lawyers Club atau IFLC selaku mitra advokasi dari Komnas Perempuan menyatakan prihatin atas tindakan dari Polda Jawa Timur dalam penanganan perkara atas saksi korban prostitusi online. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Indonesia Feminist Lawyers Club atau IFLC selaku mitra advokasi dari Komnas Perempuan menyatakan prihatin atas tindakan dari Polda Jawa Timur dalam penanganan perkara atas saksi korban prostitusi online.

Penanganan perkara prostitusi online itu membuat saksi korban mengalami hujatan dan telah divonis sebelum vonis pengadilan.

"Kami tidak membela dalam hal perbuatan melawan hukum dari saksi korban, jika memang setelah diselidiki jelas memenuhi unsur. kan tetapi saksi korban mempunyai hak sebagai manusia, sebagai perempuan dan seyogyanya inisial tetap harus ada dan diblur wajahnya, akan tetapi yang terjadi sebaliknya," kata Nur Setia Alam, Ketua IFLC, dalam keterangan resminya diterima Warta Kota, Jumat (11/1/2018).

Nur Setia mengatakan, IFLC meminta pertanggungjawaban Kapolda Jawa Timur agar dapat memberikan tindakan-tindakan atas proses pemberitaan yang akan menjadi perbuatan pengulangan dan legal.

"Padahal ada hak-hak atas kemanusiaan yang harus diperoleh oleh saksi korban," kata Nur Setia.

Terkait hal itu Komnas Perempuan menyatakan sikap, yakni :
1. Agar penegak hukum berhenti mengekspos secara publik penyelidikan prostitusi online yang dilakukan.

2. Agar pihak media tidak mengekploitasi perempuan yang dilacurkan, termasuk dalam hal ini artis yang diduga terlibat dalam prostitusi online.

3. Agar media menghentikan pemberitaan bernuansa misigonis dan cenderung menyalahkan perempuan.

4. Agar masyarakat tidak menghakimi secara membabi buta kepada perempuan korban eksploitasi industri hiburan.

5. Semua pihak untuk kritis dan mencari akar persoalan, bahwa kasus prostitusi online hendaknya dilihat sebagai jeratan kekerasan seksual, dimana banyak perempuan ditipu, diperjualbelikan, tidak sederhana pandangan masyarakat bahwa prostitusi adalah kehendak bebas perempuan yang menjadi 'pekerja seks', sehingga mereka rentan dipidana/dikriminalisasi.

Kasus Prostitusi Online: Polri Minta Dua Mucikari Artis yang Masuk DPO Segera Serahkan Diri

Praktik Prostitusi, Polisi Ungkap Prostusi Online di Kalibata City Bertarif Rp 500.000

Transaksi Prostitusi Online Mucikari Vanessa Angel Capai Rp 2,8 Miliar

Penulis: Ign Agung Nugroho
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved