Pimpinan KPK Diteror

Amnesty Indonesia: Teror ke Pimpinan KPK akibat Kasus Kekerasan Novel Baswedan Tak Terungkap

Peristiwa teror terhadap pimpinan KPK merupakan akibat dari belum terungkapnya kasus kekerasan yang dialami penyidik KPK Novel Baswedan.

Amnesty Indonesia: Teror ke Pimpinan KPK akibat Kasus Kekerasan Novel Baswedan Tak Terungkap
Istimewa
ILUSTRASI Aksi teror dengan bom molotov 

DIREKTUR Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan, pelemparan bom molotov ke rumah pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) merupakan serangan terhadap pembela hak asasi manusia ( HAM).

“Ini adalah bentuk nyata teror terhadap pembela hak asasi manusia di sektor antikorupsi. Tidak tanggung-tanggung serangan terjadi pada level pimpinan KPK," ujar Usman melalui keterangan tertulisnya, Rabu (9/1/2019).

Menurut Usman, mereka yang berprofesi sebagai petugas penegak hukum juga bisa disebut sebagai pembela HAM.

Teror Tak Ciutkan Nyali Pimpinan dan Pegawai KPK untuk Berantas Korupsi

Sebab, mereka yang bekerja di sektor antikorupsi juga ikut mendorong kemajuan dan perlindungan HAM melalui pemberantasan korupsi.

Praktik korupsi, kata Usman, merupakan kejahatan yang bisa berakibat pada hilang atau berkurangnya kapasitas dan sumber daya negara guna memenuhi hak-hak publik di bidang ekonomi, sosial dan budaya.

USMAN Hamid, Direktur Amnesty International Indonesia
USMAN Hamid, Direktur Amnesty International Indonesia (Kompas.com/Nabilla Tashandra)

Belum Terungkap

Lebih lanjut ia mengatakan, peristiwa pimpinan KPK diteror merupakan akibat dari belum terungkapnya kasus kekerasan yang dialami penyidik KPK Novel Baswedan.

Sudah satu tahun lebih, polisi belum dapat mengungkap pelaku dan motif di balik penyiraman air keras yang menimpa Novel.

"Ini menunjukkan adanya keberulangan akibat ketiadaan hukuman atau impunitas terhadap pelaku penyerangan," kata Usman.

Ia pun meminta kepolisian segera mengungkap pelaku dan dalang terkait teror yang dialami oleh 2 pimpinan KPK tersebut.

Halaman
12
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved