Tsunami Pantai Anyer

Anang Hermansyah Tolak Ide Pasha Ungu soal 22 Desember 'Hari Duka Cita Musik Indonesia'

"Ide Hari Duka Cita bagi musik Indonesia atas peristiwa yang menimpa Seventeen Band tampak populis, tapi tidak menyasar pada substansi," kata Anang.

Anang Hermansyah Tolak Ide Pasha Ungu soal 22 Desember 'Hari Duka Cita Musik Indonesia'
WARTA KOTA/ARIE PUJI WALUYO
Anang Hermansyah ketika ditemui di kediamannya, Vila Cinere Mas, Depok, Jawa Barat, Rabu (22/8/2018). 

ANGGOTA Komisi X DPR RI Anang Hermansyah menolak ide Pasha Ungu yang ingin menetapkan 22 Desember sebagai "Hari Duka Cita Musik Indonesia" untuk mengenang tragedi musibah tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) malam yang menewaskan 437 orang, termasuk beberapa personel grup band Seventeen.

Anang dalam pernyataan yang disiarkan Atara pada Sabtu (5/1/2019) menegaskan, ia tidak sependapat dengan ide Pasha yang kini menjadi Wakil Wali Kota Palu, Sulawesi Tengah itu.

Anang justru menyarankan agar Pasha membuat kebijakan yang lebih konkret terhadap musik di Indonesia, khususnya di Palu.

Anang mencontohkan, Pasha bisa membuat peraturan daerah (perda) terkait performing right terhadap pemakaian lagu di ranah bisnis seperti rumah karoke, kafe, hotel termasuk konser musik di Kota Palu.

"Itu jauh lebih bermanfaat dan bentuk penghormatan bagi pekerja seni dan musik,"  kata Anang.
   
"Ide Hari Duka Cita bagi musik Indonesia atas peristiwa yang menimpa Seventeen Band tampak populis, tapi tidak menyasar pada substansi," kata Anang yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Belanda.
   
Anang mengatakan, peristiwa yang menimpa Seventen Band pada akhir Desember lalu semestinya dapat memantik pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk membuat sistem yang ajeg terkait pelaksanaan UU Nomor 28/2014 tentang Hak Cipta. 
   
"Musibah yang menimpa Seventeen mestinya menjadi pemantik pemerintah untuk membuat sistem terkait performing right. Begitu semestinya cara pemerintah menghormati musibah yang menimpa Seventen Band," kata Anang, politisi dari Partai Amanat Nasional.
 

Ketua KPK Tidak Ingin Terkesan Ditarik ke Ranah Politik, KPU Coret Nama Bambang Widjojanto

Tsunami Selat Sunda menelan korban 437 jiwa, di antaranya tiga personel Seventeen Band.

Beberapa kru juga turut menjadi korban. 
   
Saat kejadian, Seventeen sedang tampil dalam sebuah acara di Pandeglang, Banten.

Seventeen tampil di kawasan Tanjung Lesung untuk memeriahkan acara gathering PLN. 
   
Ketika mereka tampil sekitar pukul 21.30 WIB, arus pasang mendadak menghantam panggung.

Kejadian berlangsung saat Seventeen baru menyanyikan lagu kedua untuk menghibur penonton. 
   
Air pasang mendadak naik ke permukaan dan menyeret seluruh orang yang ada di lokasi, termasuk personel Seventeen yang saat itu berada di panggung.

Panggung roboh diterjang tsunami. 
   
Saat arusnya surut, personel Seventeen ada yang bisa menyelamatkan diri.

Halaman
12
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved