Revitalisasi Satu Buoy Pendeteksi Tsunami, BPPT Butuh Anggaran Rp 5 Miliar

BPPT membutuhkan butuh dana sebanyak Rp 5 miliar untuk merevitalisasi satu buoy pendeteksi tsunami agar bisa ditempatkan di Selat Sunda.

Revitalisasi Satu Buoy Pendeteksi Tsunami, BPPT Butuh Anggaran Rp 5 Miliar
@Sutopo_PN
Jaringan buoy tsunami di perairan Indonesia sudah tidak beroperasi sejak 2012. Sebagian besar alat pendeteksi tsunami tersebut ternyata milik negara asing. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT membutuhkan butuh dana sebanyak Rp 5 miliar untuk merevitalisasi satu buoy pendeteksi tsunami agar bisa ditempatkan di Selat Sunda.

Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya ALam BPPT, Hammam Riza, mengatakan, BPPT terus berupaya merevitalisasi alat pendeteksi tsunami, yang akan dinamai Buoy Merah Putih, supaya bisa segera dipasang di perairan Gunung Anak Krakatau dan sekitarnya.

"BPPT siap untuk menempatkan buoy di sekitar Gunung Anak Krakatau. Buoy ini penting sebagai peringatan dini, agar penduduk di wilayah yang berpotensi terkena tsunami memiliki waktu untuk dapat dievakuasi ke shelter terdekat," kata Hammam seperti dilansir Antaranews.com, Kamis (3/1/2019).

Menurut Hammam, revitalisasi satu unit buoy berikut pemasangan dan pemeliharaannya membutuhkan biaya sekitar Rp 5 miliar.

"Revitalisasi ini kami oprek lagi buoy yang dahulu sudah rusak akibat vandalisme. Kami gunakan panel tenaga surya untuk sumber tenaganya, serta kami upayakan semua sensornya lengkap kembali. Butuh waktu, semoga dengan adanya dana khusus bisa lebih cepat prosesnya hingga pemasangan," kata Hammam.

Menurut informasi dari para nelayan, perairan di sekitar buoy biasanya penuh dengan ikan sehingga menarik para nelayan untuk memancing di sekitarnya.

Hamam berharap ke depan kondisi itu tidak lagi memicu aktivitas yang bisa menimbulkan kerusakan buoy.

Ia menekankan pentingnya peran publik dalam menjaga buoy.

"Publik harus semakin peduli terhadap pentingnya teknologi untuk membangun sistem peringatan dini yang handal seperti buoy ini. Jika buoy sudah ada, kepada masyarakat dihimbau agar perlunya menjaga bersama, karena ini alat yang dibangun negara supaya tetap selamat," katanya.

Ia menjelaskan buoy yang dipasang 100 sampai 200 kilometer dari pantai dapat mengirimkan informasi data terkini mengenai gelombang tinggi di tengah laut yang diduga berpotensi menimbulkan tsunami.

Halaman
12
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved