Breaking News:

Pariwisata

Pesona Gunung Bromo yang Selalu Sayang untuk Dilewatkan

Terlalu sayang dilewatkan jika tidak mengunjungi kawasan Taman Nasional (TN) Bromo Tengger Semeru, bila berlibur ke wilayah Jawa Timur.

Penulis: | Editor: Hertanto Soebijoto
Warta Kota/Lilis Setyaningsih
Para wisatawan memanfaatkan libur Natal dan Tahun Baru 2019 dengan mengunjungi berbagai obyek wisata, di antaranya ke Gunung Bromo, Jawa Timur. 

TERLALU sayang dilewatkan jika tidak  mengunjungi kawasan Taman Nasional (TN) Bromo Tengger Semeru, bila berlibur ke wilayah Jawa Timur.

Walaupun,  bisa jadi  sudah lebih dari satu kali, mengunjungi tempat wisata yang oleh Kementerian Pariwisata ditetapkan menjadi ‘Bali Baru’ ini.

“Ke Bromo tuh mau foto kaya apa selalu bagus hasilnya. Apalagi kita ke Bromo kan nggak dengan orang yang sama. Kemarin dulu sama kantor, lalu dua tahun lalu sama teman-teman, sekarang baru dengan keluarga,” ucap Santi (40) warga Jakarta kepada Wartakotalive.com, pekan lalu.

Ia mengaku sudah 3 kali ke Bromo, dan tidak merasa bosan.

Hasil foto dengan latar belakang TN Bromo Tengger Semeru memang dari sudut manapun,  hasil fotonya akan terlihat indah, dan memukau.

Hamparan pasir di Gunung Bromo
Hamparan pasir di Gunung Bromo (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Komunitas fotografi seringkali menjadikan lokasi ini sebagai hunting foto.  

Deny, pemandu yang mendampingi kami mengatakan, wisata ke Gunung Bromo memang tidak pernah sepi.

Pengunjung sepi hanya  bila  Pemerintah setempat memang  melarang adanya orang di kawasan  yang namanya berasal dari salah satu dewa Agama Hindu, yakni Brahma. 

 Gunung Bromo merupakan gunung yang aktif.

Gunung setinggi 2.392 mdpl (meter di bawah permukaan laut) tercatat pernah meletus tahun 2004, 2010, dan terakhir Februari 2016.

“Apalagi kalau malam tahun baru, parkir bisa jauh dan pengunjung harus berjalan kaki atau ojek, bisa lebih 2 km,” kata Deny.

Sementara ojek akan leluasa menerapkan tarif karena banyak pengunjung yang enggan berjalan kaki.

Untuk  menuju kawasan Gunung Bromo, pengunjung harus menyewa mobil jeep.

Jeep ini bisa berisi antara 6-7 orang dengan sewa antara Rp 550.000-650.000 tergantung dari mana.

Wartakotalive.com naik jeep dari Desa Sukapura Probolinggo yang untuk sampai Pananjakan sekitar 40 menit.

Beruntung malam itu, jeep kami bisa parkir mendekati ke Pos Pananjakan 1.

Kawasan wisata Gunung Bromo yang tetap menarik minat wisatawan untuk berkunjung, meski sebelumnya pernah mengunjunginya.
Kawasan wisata Gunung Bromo yang tetap menarik minat wisatawan untuk berkunjung, meski sebelumnya pernah mengunjunginya. (Warta Kota/Lilis Setyaningsih)

Hanya sekitar 50 meter saja harus berjalan kaki.

Walaupun sudah dekat dengan pos, pengojek masih tetap ‘merayu’ untuk naik ojek.

Dengan iming-iming akan capek bila harus berjalan kaki.

Mengenai hal ini perlu kehati-hatian dan sebaiknya bertanya dulu ke pemandu yang mendampingi kita.

Pasalnya, tidak saat malam Tahun Baru saja, ojek ini agak ‘nakal’ mengajak pengunjung naik ojek tersebut.

 Seperti pengalaman Wartakotalive.com yang masih ditawari ojek padahal jarak dengan pos  kurang dari 20 meter.

Untungnya sudah pernah dan mengerti bahwa jarak ke pos sudah dekat.

“Memang begitu ojek disini. Jadi harus hati-hati. Lebih baik bertanya malah sebaiknya yang menawar pemandunya saja. Karena pemandu lebih tahu jarak ke posnya sudah dekat apa masih jauh,” ujar Deny.

Begitu juga ketika naik kuda. Jangan langsung naik kuda saja. Apalagi sudah terpengaruh anak-anak yang sudah ingin naik kuda.

Sebaiknya menanyakan tarifnya dulu sebelum ‘dicekik’ tarifnya oleh pemandu kuda.

Untuk mengeliling lautan pasir sampai pura, tarifnya antara Rp 75.000 sampai Rp 100.000.

Namun, bila tidak bertanya, dan langsung naik kuda saja,  bisa jadi sang pemandu kuda akan menerapkan tarif minimal  Rp 150.000.

Kendati demikian, pesona kawasan Gunung Bromo memang memukau banyak pengunjung.

Tidak hanya wisatawan lokal, wisatawan mancanegarapun banyak berkunjung ke gunung yang berada di di 4 perbatasan wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Lumajang ini.

Berikut  ini 5 pesona yang ada di kawasan Taman Nasional Bromo, Tengger, Semeru:

1.  Melihat proses matahari terbit

Keindahan munculnya matahari terbit di ufuk Timur akan terasa berbeda.

Walaupun harus berangkat dari penginapan dini hari, dengan dingin yang menusuk dibawah 10 derajat celcius.

Dengan suhu serendah itu, pengunjung harus  menggunakan baju penghangat, sarung tangan, serta topi kupluk.

Agak berbeda dengan turis mancanegara yang terkadang terlihat hanya mengenakan kaos pendek saja.

Namun, rasa dingin dan menunggu akan terbayar dengan pemandangan indah serta hangat.

Diawali dengan semburat kekuningan, perlahan-lahan matahari pun muncul.

Seiring munculnya sinar matahari, akan terlihat juga pemandangan memukau di kawasan tersebut.

Ada Gunung Bromo, lautan pasir, serta Gunung Semeru.

Ada empat pos yang biasa dijadikan lokasi melihat sunrise.

Ada pos Pananjakan 1, Pananjakan 2, Bukit Cinta, dan Bukit Kingkong.

Favorit pengunjung di Pananjakan 1 dan 2.  

Namun seringkali cepat penuh, sehingga pemandu akan mengarahkan ke Bukit Cinta dan Bukit Kingkong yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan Pananjakan.

Tidak perlu khawatir yang ingin melaksanakan shalat Subuh di pos Pananjakan.

Ada tempat shalat dan berwudhu, serta toilet dengan membayar seiklasnya.

Air yang digunakan untuk berwudhu diangkut dari bawah pos, sehingga selayaknya kita memberikan apresiasi dengan memberikan sejumlah uang sebagai penggantian air.  

2.   Melihat  kawah (kaldera) Bromo

Setelah puas di atas pos, bisa melanjutkan ke lautan pasir dan menuju kawah atau  kaldera Bromo.

Untuk menuju kawah, jarak yang ditempuh menanjak sekitar 1,5 kilometer.

Bisa melalui jalur yang agak terjal atau bisa memilih lewat tangga yang jumlahnya mencapai 250 anak tangga.

Bisa juga menyewa kuda. Kaldera inilah yang dijadikan lokasi inti upacara Kasada bagi warga Tengger.

Upacara ini dilaksanakan setiap tahun pada hari ke 14 Bulan Kasada sesuai perhitungan Agama Hindu.

Tahun 2018, upacara Kasada telah berlangsung pada 29-30 Juni lalu.

Di lokasi inipun menjadi spot foto favorit pengunjung.

3.      Lautan pasir hitam

 Tempat Gunung Bromo dan Gunung Batok berada, terdapat lautan pasir hitam.

Di lautan pasir ini juga terdapat Pura yang dinamai Pura Luhur Poten.

Pura ini juga dijadikan tempat upacara Kasada bagi warga Tengger.

Foto di lautan pasir juga favorit. Kita bisa berfoto dengan latar belakang gunung Batok, atau deretan jeep yang parkir, atau juga dengan jeep yang kita sewa.

Kita juga tidak perlu takut kelaparan, karena di lokasi ini banyak warung atau tenda yang menyediakan makanan dan minuman.

Sesampainya di lautan pasirpun,  biasanya sinar matahari sudah cukup menghangatkan tubuh. Sehingga jaket, sarung tangan dan juga kupluk bisa dilepas.

4.      Bukit dan savana Teletubbies.

Bukit nan hijau dengan hamparan savana lagi-lagi jadi spot foto yang sayang untuk dilewatkan.

Di lokasi ini juga bagi yang ingin naek kuda mengelilingi bukit teletubbies juga bisa.

Bukit dinamai Teletubbies karena mirip dengan latar belakang film anak-anak Teletubbies yang pernah disukai beberapa tahun lalu.

Bagi yang ingin buang air kecil atau besar juga tersedia toilet portable, serta warung yang menyediakan mi instan, bakso, serta minuman dan gorengan.

5.  Dari film 'Pasir Berbisik'

Film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastrowardoyo tahun 2001 lalu,  mengambil syuting di lautan pasir Bromo.

Lokasi persis pengambilan syuting film inilah yang kemudian dinamai “Pasir Berbisik’ oleh para pemandu dan pengunjung.

Selain tempat pengambilan lokasi film Pasir Berbisik, lokasi tersebut dinamai Pasir Berbisik, karena bila terkena angin ada suara desis persis seperti ular yang berdesis atau suara berbisik.

Walahualam. Yang pasti, lokasi ini juga jadi favorit pengunjung untuk berfoto.

Tidak sedikit pengunjung membawa properti selendang atau kain untuk berfoto.

Angin yang sering berhembus di lokasi tersebut, membuat kain jadi berkibar secara natural tanpa perlu membawa kipas angin.

Setelah kelima lokasi dikunjungi, perjalanan mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pun selesai.

Rasa kantuk biasanya mendera begitu jeep yang kita naiki berjalan menuju arah pulang.

Rasa lelah dan kantuk akan segera hilang begitu tidur beberapa saat.

Tapi kenangan, pengalaman dan foto niscaya akan sulit hilang akan pesona Gunung Bromo. (Lilis Setyaningsih

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved