Pilpres 2019

Priyo Budi Santoso: Prabowo Reinkarnasi Bung Karno dan Pak Harto

Dia melihat figur proklamator Indonesia tercermin pada diri Prabowo Subianto.

Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha
Calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, naik mobil golf berkeliling saat Deklarasi Kampanye Damai di Kawasan Monumen Nasional, Jakarta Pusat, Minggu (23/9/2018). 

PRIYO Budi Santoso, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, memandang pernyataan Prabowo Subianto soal Indonesia punah syarat makna.

Dia menjelaskan, seorang pemimpin baik memberikan pengertian kepada bangsa.

Menurut dia, mantan Danjen Kopassus itu berupaya menghipnotis Bangsa Indonesia supaya berhati-hati agar tidak membuat negara secara sosial, ekonomi, dan politik tidak semakin hancur-hancuran.

"Ini seorang pemimpin kadang kala dengan kata-kata menghentak Pak Prabowo mirip pidatonya, dan mungkin sebagian reinkarnasi dari gayanya Bung Karno muda," ujar Priyo Budi Santoso ditemui di Kantor KPU, Rabu (19/12/2018).

Mitra Kukar Degradasi, Rahmad Darmawan Sekolah Lagi

Dia melihat figur proklamator Indonesia tercermin pada diri Prabowo  Subianto.

Kedua tokoh bangsa tersebut mempunyai kesamaan saat menyampaikan pidato.

Namun, kata mantan politikus Partai Golkar itu, Prabowo Subianto juga mengingatkan kepada sosok Soeharto, Presiden kedua Republik Indonesia.

Atas dasar itu, Partai Berkarya mengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pemilu 2019.

"Saya sendiri kemarin dalam pidato sambutan saya mewakili Partai Berkarya, saya melihat pada diri Pak Prabowo itu menyerap dua energi besar, ialah gayanya Bung Karno dan gayanya Pak Harto," katanya.

Satu-satunya Pemain yang Rasakan Juara pada 2001 dan 2018, Masa Depan Bepe di Persija Belum Jelas

Pada kesempatan itu, Priyo Budi Santoso menyoroti ucapan Indonesia punah.

Dia menjelaskan, Indonesia punah apabila salah urus.

Untuk itu, dia menambahkan, Indonesia harus diurus secara baik.

"Kami negeri yang kaya raya yang juga bisa berdikari dengan hebat dengan kekuatan sendiri, tidak memungguk pada orang asing, tenaga asing sana sini, ya kami bisa selamat. Tetapi kalau sebaliknya terjadi, ya kami bisa punah sebagai bangsa. Punah seperti apa? Seperti Uni Soviet hancur berantaskan tinggal kenangan, yang terjadi Rusia dan seterusnya," paparnya. (*)

Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved