Pilpres 2019

Lima Alasan Reuni 212 Tak Signifikan Ubah Elektabilitas Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandi

HASIL survei LSI Denny JA mengungkapkan, Reuni 212 tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas kedua pasangan calon presiden.

Lima Alasan Reuni 212 Tak Signifikan Ubah Elektabilitas Jokowi-Maruf Amin dan Prabowo-Sandi
TRIBUNNEWS/DENNIS DESTRYAWAN
Peneliti LSI Denny JA memaparkan hasil survei terbaru terkait isu dan efek elektoral pasca Reuni 212, di Kantor LSI, Graha Dua Rajawali, Jakarta Timur, Jumat (2/11/2018). 

HASIL survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengungkapkan, Reuni 212 tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas kedua pasangan calon presiden.

Peneliti LSI Denny JA Adjie Alfaraby menerangkan, terdapat lima alasan kenapa Reuni 212 tidak banyak mengubah elektabilitas pasangan capres Joko Widodo-Maruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno secara signifikan.

Alasan pertama, ucap Adjie Alfaraby, mayoritas pemilih yang suka Reuni 212 sudah memiliki sikap yang sulit dipengaruhi oleh pimpinan Front Pembela Islam Rizieq Shihab.

Pelatih Persija Larang Ismed Sofyan Pensiun

"Terutama mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia bersyariah dan Presiden baru," ujar Adjie Alfaraby di Kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (19/12/2018).

Dari 54,5% pemilih yang suka dengan Reuni 212, ucap Adjie Alfaraby, 83,2% masih menginginkan NKRI berdasarkan Pancasila, dan hanya 12,8% yang pro NKRI Bersyariah yang diserukan oleh Rizieq Shihab.

"Kemudian, dari 54,5% yang suka dengan Reuni 212, 43,6% memilih Jokowi-Maruf. Sedangkan, 40,7% memilih Prabowo-Sandiaga," tutur Adjie Alfaraby.

Jokowi: Kebudayaan Itu Kegembiraan

Alasan kedua, berdasarkan hasil sigi LSI Denny JA, terdapat kelompok pemilih yang mengalami tren peningkatan dan penurunan dukungan terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Yang meningkat, dari dua organisasi Islam, yakni FPI dan Persaudaraan Alumni (PA) 212. Sedangkan, pemilih yang mengalami tren penurunan dukungan terhadap Prabowo Subianto, berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Alasan yang ketiga, lantaran tren kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Jokowi mengalami peningkatan. Jika dibandingkan dengan hasil sigi LSI pada November 2018 dan Desember 2018, masyarakat semakin puas dengan kinerja Jokowi.

PSI Usul Korupsi Orde Baru Masuk Materi Debat Capres, KPK: Korupsi yang akan Datang Paling Penting

"Jadi, faktor ketiga mengapa efek dari Reuni 212 tidak terlalu signifikan mempengaruhi elektabilitas, karena di saat yang bersamaan kepuasan kinerja terhadap Jokowi meningkat dari 69,4% di November menjadi 72,1% di Desember," jelas Adjie Alfaraby.

Alasan keempat, karena Maruf Amin, meski tidak meningkatkan elektabilitas Jokowi, namun dapat menjadi jangkar atau benteng Jokowi untuk pemilih muslim.

"Kiai Maruf tidak mendongkrak, tapi mampu menjadi jangkar Jokowi, sehingga pemilih muslim tidak terpengaruh," ulas Adjie Alfaraby.

Penyusunan Anggaran Salah Satu Sumber Korupsi, KPK Soroti Uang Pokir dan Ketok Palu

Sedangkan, alasan terakhir, lantaran Jokowi berbeda dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Bila pada Pilkada 2017 lalu Ahok dijerat kasus penodaan agama, tidak halnya dengan Jokowi.

"Ahok jadi common enemy atau musuh bersama karena adanya kasus penistaan agama. Jadi saat itu, Ahok dianggap musuh bersama Umat Islam. Sementara, pemilih muslim tidak melihat Jokowi sebagai common enemy," ucap Adjie Alfaraby.

Survei ini dilakukan dalam rentang waktu 5-12 Desember 2018, menggunakan metode multistage random sampling terhadap 1.200 responden. Survei menggunakan wawancara tatap muka langsung melalui kuesioner. Margin of error berada di kisaran kurang lebih 2,8 persen. (Dennis Destryawan)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved