BNPB Prediksi Tidak Ada Musim Kemarau Panjang Tahun 2019

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi puncak curah hujan di Indonesia tahun depan terjadi pada Bulan Januari.

BNPB Prediksi Tidak Ada Musim Kemarau Panjang Tahun 2019
TRIBUNNEWS/YANUAR NURCHOLIS MAJID
Kepala BNPB Willem Rampangilei di BNPB, Jakarta Timur, Rabu (19/12/2018). 

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memprediksi puncak curah hujan di Indonesia tahun depan terjadi pada Bulan Januari.

"Puncak musim hujan di tahun 2019 kami prediksi pada Bulan Januari. Ada potensi tinggi terjadinya banjir, longsor, dan puting beliung," ujar Kepala BNPB Willem Rampangilei, di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu (19/12/2018).

Ia juga memprediksi musim hujan dan musim kemarau tahun depan tergolong normal. Hal itu lantaran tidak ditemukannya fenomena El Nino dan La Nina yang intensitasnya menguat selama 2019.

Sejak Boaz Solossa pada Musim 2013, Belum Ada Lagi Pemain Indonesia yang Jadi Topscorer Liga 1

"Jadi kami prediksi tidak ada musim kemarau yang berkepanjangan," kata Willem Rampangilei.

Selain itu, bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan puting beliung diprediksi tetap akan mendominasi bencana selama 2019.

"Diprediksi lebih dari 95 persen adalah hidrometeorologi," ucap Willem Rampangilei.

Komisi II DPR akan Bentuk Pansus Bila Kemendagri Tak Ungkap Kasus Tercecernya Ribuan KTP Elektronik

Selama 2018, BNPB mencatat tren bencana di Indonesia meningkat dibanding 2017. Hingga per 14 Desember 2018, BNPB mencatat telah terjadi 2.426 bencana di Tanah Air.

"Bencana paling banyak banjir, longsor, puting beliung, masih tetap mendominasi bencana," cetus Kepala BNPB Willem Rampangilei di BNPB, Jakarta Timur, Rabu (19/12/2018).

Dari 2.426 bencana yang terjadi selama 2018, mengakibatkan 4.231 orang meninggal dan hilang, 6.948 orang luka-luka, 9,9 juta orang mengungsi dan terdampak, serta 374.023 unit rumah rusak.

Ketua DPR Dorong Pemilu Pakai Sistem e-Voting

Pada periode yang sama, yaitu 1 Januari hingga 14 Desember, jumlah korban meninggal dan hilang naik sebanyak 1,072 persen dibanding 2017.

Tren kenaikan itu juga diikuti korban luka-luka yang naik 597 persen, korban mengungsi dan terdampak naik 176 persen, serta jumlah rumah rusak naik menjadi 3,559 persen.

Willem Rampangilei menyebut gempa bumi NTB dan gempa bumi yang disusul tsunami likuifaksi di Sulteng, adalah penyebab kenaikan dampak bencana di tahun 2018.

"Pada tahun 2017 tidak ada kejadian gempa bumi dan tsunami yang berskala besar, yang menimbulkan dampak bencana yang besar," jelas Willem Rampangilei. (Yanuar Nurcholis Majid)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved