Sisa Konstruksi Lampu Penerangan Jalan Umum Bahayakan Pejalan Kaki di Kota Bekasi

Belasan fondasi bekas tiang lampu penerangan jalan umum dan plang kendaraan di jalur pedestrian Jalan Djuanda, Kota Bekasi, membahayakan pejalan kaki.

Penulis: Fitriyandi Al Fajri | Editor:
Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri
Belasan fondasi bekas tiang lampu penerangan jalan umum atau PJU dan plang kendaraan di jalur pedestrian Jalan Djuanda, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, membahayakan pejalan kaki. 

WARTA KOTA, BEKASI--- Belasan fondasi bekas tiang lampu penerangan jalan umum atau PJU dan plang kendaraan di jalur pedestrian Jalan Djuanda, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, membahayakan pejalan kaki.

Ironinya, fondasi bekas tiang ini berada di depan Plaza Pemerintah Kota Bekasi dan biasa dijadikan akses pejalan kaki menuju Stasiun Bekasi.

Salah seorang pejalan kaki, Rahmawati (40) mengatakan, keberadaan bekas tiang lampu penerangan jalan umum ini tentu membahayakan pengguna jalan.

Selain bisa membuat pejalan kaki tersandung, tiang sisa konstruksi yang menyeruak juga bisa melukai orang yang terjatuh di bagian permukaannya.

"Tiangnya memang sudah tidak ada, tapi besi bekas konstruksi tidak dipotong seluruhnya. Ini tentu membahayakan pengguna jalan," kata Rahmawati, Rabu (19/12/2018).

Menurut dia, jalur pedestrian harus dibuat senyaman dan seaman mungkin bagi pejalan kaki untuk beraktivitas.

Sebagai pengguna jalan, para pejalan kaki tentu memiliki hak yang sama dengan pengendara lain di jalan raya.

"Kalau kondisinya seperti ini, mau memberikan kenyamanan dan keamanan dari mana?" keluhnya.

Pejalan kaki lainnya, Wibowo (35), mengaku terheran dengan keberadaan fondasi bekas tiang tepat di jalur pedestrian.

Dia juga mempertanyakan penataan pedestrian yang dilakukan pemerintah, karena terkesan mengabaikan kepentingan pengguna jalan.

Menurutnya, sebagai ruang khusus pejalan kaki, seharusnya jalur pedestrian steril dari gangguan apapun. Dengan kondisi seperti ini, kata dia, tentu membahayakan pengguna jalan apalagi kalangan disabilitas.

"Pejalan umum saja bisa tersandung, lalu bagaimana dengan kenyamanan dan keamanan bagi penyandang disabilitas," imbuhnya.

Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitourus, mengatakan, pembangunan pedestrian harus mempertimbangkan mobilitas pejalan kaki dengan skema jarak 1-2 kilometer.

Bagi tempat yang memiliki jumlah pejalan kaki cukup tinggi, kata dia, idealnya harus diprioritaskan.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved