Gunung Soputan Meletus

5 Fakta Erupsi Gunung Soputan Tak Terkait Gempa Palu

SETELAH Gunung Soputan di Semenanjung Minahasa, Sulut, erupsi, banyak yang bertanya apakah ada hubungannya dengan fenomena gempa dan tsunami Palu.

Antara Foto/Adwit B Pramono
LETUSAN stromboli Gunung Soputan dengan estimasi ketinggian 400 m dari puncak, terpantau dari Desa Lobu, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Rabu (3/10/2018). Letusan stromboli tersebut disertai leleran lava pijar ke arah Timur Laut, dengan estimasi jarak luncur 2500 m serta kolom letusan setinggi 2.000-3.000 m dari puncak 

SETELAH Gunung Soputan yang ada di semenanjung Minahasa, Sulawesi Utara erupsi, banyak yang bertanya apakah ada hubungannya dengan fenomena gempa dan tsunami Palu.

Menjawab pertanyaan itu, Kepala bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menegaskan tidak ada hubungannya.

"(Gunung Soputan erupsi) akibat banyak gempa kuat terjadi di sekitar Soputan dalam dua bulan terakhir," kata Daryono kepada Kompas.com, Rabu (19/12/2018).

Berdasar data dari sumber resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, data aktivitas gunung Soputan sejak Agustus hingga awal Oktober 2018 mengalami peningkatan signifikan.

Berikut analisis Daryono yang juga Vice President Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI) Divisi Mitigasi Bencana Kebumian terkait aktivitas Gunung Soputan, yang dipaparkan dalam beberapa fakta:

1. Naik status dari 'Waspada' ke 'Siaga' 

Pada 3 Oktober 2018 pukul 01.00 WITA tingkat aktivitas Gunung Soputan dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga). Periode erupsi Gunung Soputan kemudian terjadi pada 3 sampai 4 Oktober 2018.

Setelah itu aktivitas Gunung Soputan cenderung mengalami penurunan, namun pada Sabtu (15/12/2018) mulai pukul 17.00 WITA data seismik menunjukkan adanya peningkatan yang cepat dan signifikan.

"Peningkatan kegempaan terus terjadi dan akhirnya pada Minggu 16 Desember 2018 pukul 01.02 WITA terekam gempa letusan dengan amplitudo maksimum 40 mm (overscale) dengan durasi 598 detik, disertai suara gemuruh yang terdengar dengan intensitas lemah-sedang dari Pos Pengamatan Gunung Soputan yang berada di Silian Raya (sekitar 10 km di sebelah Baratdaya puncak Gunung Soputan)," tulis Daryono dalam analisis resminya yang diterima Kompas.com.

Pada hari Minggu 16 Desember 2018 sekitar pukul 03.09 WITA teramati sinar api di atas puncak Gunung Soputan dan tinggi kolom erupsi ± 3.000 m di atas puncak (± 4.809 m di atas permukaan laut) dengan kolom abu berwarna kelabu dan intensitas tebal.

Selanjutnya pada pukul 05.40 WITA tinggi kolom erupsi ± 7.000 m di atas puncak (± 8.809 m di atas permukaan laut) dengan kolom abu berwarna kelabu dan intensitas tebal.

2. Gempa tektonik picu aktivitas magmatik

Halaman
1234
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved