Polsek Ciracas Dibakar

Bukan karena Kena Setang Motor, Ternyata Ini Pemicu Pengeroyokan Dua Anggota TNI di Ciracas

Dalam rekonstruksi tersebut, korban Kapten Komarudin digantikan oleh anggota Reskrimum.

Warta Kota/Rangga Baskoro
Polisi menggelar rekonstruksi kasus pemukulan dan pengeroyokan dua anggota TNI di Ciracas, Jakarta Timur, Senin (10/12/2018). Sebanyak 20 adegan diperankan langsung oleh lima tersangka, yakni Agus Priyantara, Herianto Pandjaitan, pasangan suami istri Iwan Hutapea dan Suci Ramdani, serta Depi. 

Namun di lain sisi, legislator Partai Gerindra itu juga tidak tahu rangkaian peristiwa yang akhirnya menyerang Mapolsek Ciracas.

"Saya enggak tahu kenapa rentetannya sampai ke Polsek. Mungkin polisi mau nanganinnya terlambat atau gimana, mungkin orang-orang itu dongkol gitu," tutur Asril.

Kronologis Polsek Ciracas Diserang dan Dibakar

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menceritakan kronologis kejadian perusakan dan pembakaran Mapolsek Ciracas, Selasa (11/12/2018) malam.

Sekelompok massa awalnya diketahui mendatangi Mapolsek Ciracas untuk menanyakan penangkapan seorang pria yang diduga jadi dalang pemukulan terhadap dua anggota TNI di kawasan Pertokoan Arundina, Jakarta Timur, Senin (10/12/2018).

"Sekelompok massa ini menanyakan berkaitan dengan pelaku pengroyokan yang terjadi di parkiran, di Cibubur. Sudah disampaikan oleh Kapolres bahwa pelaku sedang dalam pengejaran," kata Argo di Mapolda Metro Jaya, Rabu (12/12).

Namun demikian, mereka tak puas dengan jawaban polisi sehingga mengamuk dan merusak kantor Polsek Ciracas.

Ada dua orang anggota kepolisian yang dipukuli. Kapolres Ciracas Kompol Agus Widartono juga jadi korban.

Mapolsek Ciracas rusak berat. Oleh sebab itu, para tahanan yang ditahan di mapolsek untuk sementara dipindahkan ke Mapolda Metro Jaya.

"Jadi yang dipindahkan itu tahanan yang ada di Polsek Ciracas. Semua tahanan dipindahkan," katanya.

Kapolsek Ciracas Pingsan Dikroyok

Kapolsek Ciracas Kompol Agus Widartono menjadi salah satu korban luka dalam peristiwa perusakan dan pembakaran Mapolsek Ciracas, Selasa (11/12/2018).

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono. Menurut Argo Yuwono, Agus Widartono diduga dihajar massa saat peristiwa di Mapolsek Ciracas.

"Iya, Kapolsek Ciracas (menjadi korban)," ujar Argo Yuwono, di Mapolda Metro Jaya, Rabu (12/12).

Dari data yang dihimpun Polda Metro Jaya, Kapolsek Agus diduga pingsan akibat kejadian tersebut.

Agus Widartono mengalami luka lebam dan hingga kini masih dirawat di Rumah Sakit Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

Selain Kapolsek Agus, ada dua anggota polisi yang menjadi korban luka. Namun, keduanya sudah tidak dirawat di rumah sakit lagi,

"Dua sudah rawat jalan yang satu masih di rawat di RS Kramat Jati," kata Argo Yuwono.

Sementara kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Brigjen Pol Musyafak mengatakan bahwa saat ini kondisi Kapolsek Ciracas, Kompol Agus Widar sudah berangsur normal.

Sebelumnya kapolsek Ciracas dilarikan ke Rumah Sakit Polri akibat Polsek Ciracas Dibakar.

Menurutnya secara pemeriksaan psikologi, terdapat trauma yang dialami atas peristiwa tersebut. Meski begitu kondisinya sudah cukup normal.

"Tentunya ada trauma, yang dulu ceria sekarang engga ya," kata Brigjen Pol Musyafak di RS Polri Kramat Jati, Kamis (13/12/2018).

Menurutnya perawatan dan pemeriksaan yang akan dilakukan kepada Kapolsek Ciracas tentunya menunggu hingga kondisi fisik dan psikologisnya pulih. Sehingga jika seluruh fisik dan psikologisnya pulih, maka akan di izinkan pulang.

"Sampai sembuh baik dari fisik maupin psikologisnya. Sekarang masih dalam pengawasan dokter," ujarnya.

Kompol Agus Widar diketahui, hanya satu-satunya anggota Polri yang masih dalam perawatan tim medis Rumah Sakit Polri Kramat Jati, sementara tiga diantaranya warga sipil yang masih dalam proses pemeriksaan dan perawatan medis.

"Ada 4 yang dirujuk atau yang dibawa kesini. Yang pertama adalah Pak Agus Widar, sekarang masih kita rawat. Yang kedua saudara Tumpag, Pandu dan Kamal, merupakan warga sipil," ujarnya. 

Sudah Sehat 

Namun saat ini Kapolsek Ciracas, Kompol Agus Widar, sudah sehat dan telah kembali berdinas. 

Aktifitas Polsek Ciracas mulai kembali normal dalam hal bentuk layanan masyarakat, usai penyerangan dan pembakaran polsek Ciracas.

Bahkan tadi pagi anggota Polsek Ciracas mulai mengelar apel pagi seperti pada umumnya.

Tak hanya anggota kepolisian polsek Ciracas yang sudah kembali normal, rupanya kondisi fisik Kapolsek Ciracas Kompol Agus Widar pun juga sudah pulih.

Bahkan dengan luar biasa, walaupun masih sedikit sakit, Kapolsek Ciracas tetap memilih memimpin apel pasukan sebelum aktifitas polsek dimulai.

Saat ditemui Kapolsek Ciracas, Kompol Agus Widar, mengatakan bahwa seluruh layanan masyarakat yang berkaitan pengurusan SKCK, pembuatan surat kehilangan sudah dapat dilakukan di Polsek Ciracas.

"Sejak dua hari yang lalu dalam bentuk layanan sksck, laporan polisi, laporan kegiatan keramaian masyarakat, dan kegiatan patroli yang dilakukan oleh petugas kepolisian dalam hal mengantisipasi kegiatan kamtibmas di wilayah Ciracas, baik curat, curas, curanmor dan tawuran sudah dilakukan," kata Kompol Agus Widar, Jumat (14/12/2018).

Meski beberapa fasilitas rusak, namun segala bentuk layanan masyarakat menurutnya sudah dapat dilakukan, dengan seiringnya waktu proses renovasi Polsek Ciracas. Meski begitu layanan tetap berjalan dan tidak ada gangguan.

Pihaknya mengaku beberapa ruangan yang rusak, untuk sementara di kosongkan dan segala kegiatan dialihkan ke ruangan yang memang dalam kondisi tidak rusak.

"Fasilitas cukup memadai dengan ketentuan sop yang dicanangkan oleh kepolisian, mulai pembuatan skck, ada sidik jari, semuanya kita lakukan sudah sesuai ketentuanya. Baik itu komputernya," ujarnya.

Pihaknya mengaku akan siap melayanai masyakrat selama 24 jam kedapan dimulai hari ini. Sehingga masyarkat tak perlu khawatir, karena segala aktifitas Polsek Ciracas sudah kembali normal.

"Saya berharap tidak ada masyarakat yang was was karena polsek ciracas milik masyarakat dan kami menjamin keselamatan masyarakat sekitar, dalam hal sampai ke polsek membuat laporan atau kegiatan informasi," ucapnya.

Kesaksian pedagang kopi

Juliah, penjual kopi di samping Mapolsek Ciracas awalnya senang saat puluhan orang menyambangi warungnya pada Selasa sekitar pukul 20.30 WIB.

Massa bergerak dari arah Kramat Jati malam itu.

Spontan, Juliah langsung menawari dagangannya kepada puluhan orang itu, ia tak berpikir orang-orang tersebut akan rusuh di Mapolsek Ciracas.

Penjual kopi samping Mapolsek Ciracas sedang merapikan dagangannya Rabu (12/12/2018) pascapenyerangan massa pada Selasa (11/12/2018) malam. (Tribunnews.com/Fahdi Fahlevi)
"Saya nanya mau ke mana? Ada yang beli kopi. Mas mau ke mana sih rame-rame," ujar Juliah menceritakan malam itu.

Pertanyaan Juliah dijawab ringan puluhan orang yang duduk di warungnya. Lalu mereka pergi meninggalkan warung milik Juliah.

"Mau jalan-jalan aja bu. Terus jalan mereka," tambah Juliah.

Selang 30 menit, orang datang kembali dalam jumlah lebih banyak.

"Enggak taunya balik lagi, ramai banget. Terus ada yang bilang ayo kita ke TKP," jelas Juliah.

Juliah panik motornya di dalam Mapolsek Ciracas. Ia takut dengan banyaknya orang yang datang, akhirnya mereka motornya ditinggal di dalam Mapolsek Ciracas.

ia pun diminta menutup warungnya. Juliah pun terpaksa membawa barang seadanya yang bisa diselamatkan dari warung.

"Saya ambil radio sama tivi lalu bawa. Saya di pemadam diumpetin di situ, aduh warung saya, aduh suami saya, aduh adek saya pada di sini," beber Juliah.

Kerusuhan tersebut menurut Juliah terus terjadi hingga Rabu pukul 01.30 WIB. Dini hari itu ada empat mobil pemadam dikerahkan untuk memadamkan api.

Bakal Dihukum Berat 

Kapendam Jaya Kolonel Inf Kristomei Sianturi memastikan, anggota TNI yang terbukti ikut serta merusak dan membakar Polres Ciracas, Jakarta Timur, bakal diseret ke Pengadilan Militer.

"Pasti dong (kena pidana militer), harus peradilan militer. Ini lebih berat, saya pastikan lebih berat," ujar Kristomei Sianturi di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (15/12/2018).

Kristomei Sianturi mengungkapkan, sejumlah sanksi menunggu anggota TNI yang terbukti melakukan tindak pidana. Anggota TNI bisa dipenjara, dipecat, dan hilang pekerjaan jika benar turut serta melakukan perusakan.

Alasan Utang dan Investasi, Pemerintah Indonesia Tidak Akan mencampuri Kejahatan Kemanusiaan Uyghur

Jokowi: Jangan Sampai Budaya Bangsa yang Santun Hilang Gara-gara Ingin Menang

"Jadi saya minta bantuan masyarakat apabila ada yang mengetahui jika ada anggota TNI yang melakukan perusakan, laporkan kepada kami. Nanti kita usut," tegas Kristomei Sianturi.

Kristomei Sianturi mengungkapkan, Kodam Jaya telah membentuk tim investigasi untuk mengusut dugaan keterlibatan anggotanya dalam perusakan ini. Tim tersebut terdiri dari Kodam Jaya, Polisi Militer Angkatan Udara, dan Polisi Militer Angkatan Laut.

Sebelumnya, dua anggota TNI, yakni anggota TNI AL Kapten Komarudin dan anggota TNI AD Pratu Rivonanda, terlibat perkelahian dengan tukang parkir di kawasan Pertokoan Arundina.

Kejadian itu terjadi pada Senin 10 Desember lalu, bermula dari tukang parkir yang menggeser sepeda motor dan mengenai kepala Kapten Komarudin yang saat itu tengah mengecek knalpot sepeda motornya yang berasap.

Buntut dari peristiwa itu, sekelompok massa yang diduga anggota TNI merusak dan membakar Polsek Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (11/12/2018) sekitar pukul 23.00 WIB.

Massa juga membakar sejumlah kendaraan yang terparkir di Mapolsek Ciracas. Akibat kebakaran di Polsek Ciracas tersebut, empat mobil pemadam diturunkan.

Orangtua Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI Hanya Bisa Menangis

Sementara itu orangtua SR (24), perempuan terduga pelaku pengeroyokan anggota TNI mengaku tak menyangka anak bungsu dari dua bersaudara itu tersangkut kasus pengeroyokan anggota TNI di Ciracas.

Sebab menurut ayah SR, yang enggan disebutkan namanya, SR selama ini sampai ia menikah dengan IH (31) yang juga terduga pelaku pengeroyokan anggota TNI, adalah anak yang mandiri dan tak mau merepotkan anggota keluarga lainnya.

"Anak saya itu adalah anak baik. Sejak kecil tinggal sama saya dan sampai menikah, dia enggak pernah mau ngerepotin keluarga. Dia itu memang mandiri sekali. Di sekolah dulu juga dia enggak pernah bikin masalah," kata SR di rumah kontrakannya di Cipayung, Depok, Jumat (14/12/2018).

Di rumah itulah, SR dan suaminya IH dibekuk polisi, Kamis (13/12/2018).

Menurut ayah SR, anaknya itu pernah bekerja di beberapa toko di mal sebagai penjaga toko. "Setelah menikah, dia lalu tinggal mengontrak sama suaminya di Jakarta Timur," katanya.

Karenanya ia berharap ada hal yang baik terjadi pada SR dan IH setelah mereka dibekuk polisi, dari rumah kontrakannya.

"Waktu mereka dibawa polisi, kami bingung harus bagaimana. Saya cuma bisa nangis. Saya sudah sebulan gak ketemu anak saya, habis ketemu sehari, dia langsung dibawa polisi," kata ayah SR.

Menurutnya karena SR dan IH hanya sekitar sehari berada di rumah kontrakannya tak banyak yang mereka ceritakan kepadanya.

"Apalagi mereka datang-datang dalam keadaan gak enak badan dan sakit," kata dia.

Sehingga ayah SR mengaku tak tahu kronologis kejadian secara pasti. "Kalau kata mereka kronologis lengkapnya ada di CCTV Indomaret," kata ayah SR.

Menurutnya dari cerita singkat SR dan IH kepadanya, diketahui bahwa menantunya dipukul lebih dahulu. Sehingga itu menyulut perkelahian.

Ia menilai anaknya SR bersikap layaknya istri ketika suaminya dipukul. "Anak saya mau melerai perkelahian suaminya dan teman-teman juru parkir lain dengan anggota TNI di sana," kata dia.

"Jadi keterangan mereka, anak saya sebagai istri mau memisahkan dan enggak terima karena suaminya dipukul. Anak sama menantu saya bilang kronologis lengkap ada di CCTV Indomaret," kata ayah SR.

Penulis: Reza Deni

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved