VIDEO: Sidang Tipikor, Konglomerat Medan ini Pakai Tongkat

Konglomerat asal Medan, Tamin Sukardi hari ini, Kamis (13/12/2018) menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Konglomerat asal Medan, Tamin Sukardi hari ini, Kamis (13/12/2018) menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Hadir di persidangan, Tamin Sukardi yang juga pemilik objek wisata Taman Simalem Resort di jalan Km 9 Sidikalang, Kabupaten Tanah Karo ini menggunakan bantuan tongkat.

Meski usianya tidak lagi muda, Tamin Sukardi yang menggunakan kemeja putih dibalut jas hitam dan celana bahan hitam ini tampak menyimak dakwaan yang dibacakan jaksa KPK.

Diketahui, Tamin Sukardi diadili karena diduga menyuap Hakim Pengadilan Negeri Medan terkait penanganan perkaranya di Pengadilan Negeri Medan.

Selain Tamin Sukardi, tangan kanannya, yakni Hadi Setiawan juga diadili karena ikut membantu Tamin Sukardi untuk memberikan uang suap. Persidangan keduanya dilakukan terpisah.

?Konglomerat Tamin Sukardi didakwa bersama-sama dengan Hadi setiawan alias Erik menyuap hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Medan, Merry Purba sebesar 280.000 dollar Singapura.

Dalam surat dakwaan, diungkap pula penyerahan uang kepada Merry diberikan melalui panitera pengganti pada Pengadilan Tipikor Medan, Helpandi.

"Terdakwa turut serta melakukan, memberikan atau menjanjikan sesuatu terhadap Hakim Merry Purba untuk mempengaruhi putusan perkara dirinya berjumlah ?280.000 dollar Singapura," ujar jaksa KPK, Putra Iskandar, Kamis (13/12/2018) di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Dari uang 280 ribu dollar Singapura, sebanyak
150 ribu dollar Singapura telah diberikan kepada Panitera Pengganti PN Tipikor Medan, Helpandi untuk diteruskan ke hakim Merry Purba. Sedangkan sisanya yakni 130 dollar Singapura akan diberikan kepada Hakim Anggota I, Sontan Merauke Sinaga.

Suap diberikan dengan tujuan agar Merry Purba memberikan keringanan hukuman kepada Tamin selaku terdakwa korupsi penjualan tanah yang masih berstatus aset negara.

Merry Purba merupakan salah satu anggota majelis hakim yang menangani perkara Tamin. Sementara ketua majelis hakim perkara Tamin adalah Wakil Ketua PN Medan Wahyu Prasetyo Wibowo. Dalam vonis yang dibacakan pada 27 Agustus 2018, Mery menyatakan dissenting opinion.

Tamin divonis 6 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan dan uang pengganti Rp132 miliar. Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa yakni 10 tahun pidana penjara dan denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan dan uang pengganti Rp132 miliar.

Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved