Polsek Ciracas Dibakar

Komisi I DPR: Jiwa Korsa Tentara Tinggi, Bukan karena Cemburu Gara-gara Polisi Kaya-kaya

Legislator Partai Gerindra itu melihat bentuk pelecehan jika seorang TNI berpakaian seragam dinas kemudian dipukuli oleh preman.

Komisi I DPR: Jiwa Korsa Tentara Tinggi, Bukan karena Cemburu Gara-gara Polisi Kaya-kaya
Warta Kota/Adhy Kelana
Sejumlah petugas Polisi Militer TNI AL melintas di depan Mapolsek Ciracas pasca penyerangan sekelompok orang tak dikenal, Rabu (12/12/2018). 

WAKIL Ketua Komisi I DPR Mayjen (Purn) TNI Asril Hamzah Tanjung berpendapat, seorang prajurit TNI memiliki jiwa korsa (korps satuan) yang tinggi, baik kepada atasan maupun rekannya.

Hal itu ia sampaikan menanggapi insiden penyerangan Mapolsek Ciracas yang diduga karena adanya pengeroyokan oleh juru parkir, terhadap dua anggota TNI di daerah Ciracas.

“Banyak orang mengira tentara cemburu ke polisi karena polisi kaya-kaya, saya rasa bukan itu. Karena tentara itu jiwa korsanya sangat tinggi. Itu kalau enggak dipelihara jiwa korsanya gimana mau perang, melempem kalah terus nanti,” kata Asril kepada wartawan, Jumat (14/12/2018).

Sebelum Polsek Ciracas Dibakar Massa, Sore Harinya Ada Orang Naik Motor Berkeliling dan Tanya-tanya

Asril mengatakan, jiwa korsa bagi prajurit TNI telah dipupuk sejak masa pendidikan. Hal itu dikarenakan tugas TNI untuk bertempur, maka jika tidak memiliki jiwa Korsa akan lemah.

“Karena dia tugas utamanya perang, bertempur kalau jiwa korsanya tidak tinggi pasti kalah. Karena dia orang perang kok gimana, ya jadi pandai-pandai lah,” paparnya.

Legislator Partai Gerindra itu melihat bentuk pelecehan jika seorang TNI berpakaian seragam dinas kemudian dipukuli oleh preman.

Ini Beda Istilah KKB dan KSB di Papua

“Kalau pakai baju preman masih masuk akal lah. Ini baju dinas lagi, loreng, bawa anak lagi. Tentara kita enggak dihargai,” ucapnya.

Sebelumnya, dua anggota TNI, yakni anggota TNI AL Kapten Komarudin dan anggota TNI AD Pratu Rivonanda, terlibat perkelahian dengan tukang parkir di kawasan Pertokoan Arundina.

Kejadian itu terjadi pada Senin 10 Desember lalu, bermula dari tukang parkir yang menggeser sepeda motor dan mengenai kepala Kapten Komarudin, yang saat itu tengah mengecek knalpot sepeda motornya yang berasap. (Fahdi Fahlevi)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved