Pemilu 2019
Jargon Emak-emak dalam Kampanye Dinilai Mengecilkan Makna Perempuan
KETUA Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Mike Verawati menilai, perempuan telah dijadikan komoditas politik selama masa kampanye Pemilu 2019.
Penulis: |
KETUA Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Mike Verawati menilai, perempuan telah dijadikan komoditas politik selama masa kampanye Pemilu 2019.
Menurut dia, peserta Pemilu mengangkat isu perempuan ke permukaan. Namun, hanya sebatas kepentingan untuk mendongkrak popularitas pasangan calon presiden-calon wakil presiden.
"Iya degradasi. Istilah atau jargon emak-emak yang diangkat dalam kampanye justru malah mengecilkan makna dari perempuan itu sendiri," kata Mike, dalam sesi diskusi di Media Center KPU, Rabu (12/12/2018).
• Lima Referensi Lokasi Makan Malam Natal Bersama Keluarga
Dia menjelaskan, perempuan seharusnya tidak hanya digambarkan sebagai seseorang yang mengurus dapur keluarga, tetapi juga perempuan dalam banyak latar belakang.
Dia menjelaskan, perempuan dapat berperan dalam pembangunan. Dia mencontohkan, banyak tokoh perempuan yang juga cukup berprestasi dan mempunyai konsep bagus di dalam pembangunan negara.
"Ketika hanya bicara emak-emak akhirnya kembali mendomestifikasi, seolah-olah perempuan urusannya hanya di dapur, masak, menyediakan makanan, padahal kiprah perempuan juga banyak," paparnya.
• KPK Cokok Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar, Terkait Suap Anggaran Pendidikan
Sehingga, dia menilai tidak tepat apabila pasangan capres-cawapres hanya membahas soal harga-harga sembako yang seolah-olah dapat diklasifikasikan sebagai isu ekonomi.
Seharusnya, kata dia, perempuan dapat menjadi poros ekonomi masyarakat, terutama di desa.
"Sekarang banyak perempuan yang menjadi kades, jadi lurah, RT, dan jabatan-jabatan lain. Bahkan, yang sebenarnya menunjukkan perempuan urusannya bukan lagi dapur, sumur, dan kasur," bebernya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/logo-pemilu-2019_20171003_075505.jpg)