Breaking News:

Strategi Cegah Perkawinan Anak

Siapa pun calon pengantinnya, baik salah satu, maupun kedua mempelai yang masih berusia anak, merupakan bentuk pelanggaran hak anak.

Penulis: Gopis Simatupang | Editor:
hukumpedia.com
Ilustrasi mengapa perkawinan anak harus ditolak 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Siapa pun calon pengantinnya, baik salah satu, maupun kedua mempelai yang masih berusia anak, merupakan bentuk pelanggaran hak anak.

Pelanggaran hak anak, sebutnya, juga merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Demikian disampaikan oleh Lenny Rosalin, Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA),

"Dari segi pendidikan, pasti banyak anak yang putus sekolah karena sebagian besar anak yang menikah di bawah usia 18 tahun tidak melanjutkan sekolahnya," ujar Lenny beberapa waktu lalu.

Menurut Lenny, selain memutus pendidikan, perkawinan anak juga berdampak pada kesehatan ibu dan anak.

Hamil dalam usia anak mempunyai risiko kesehatan yang lebih besar terhadap angka kematian ibu dan anak dibandingkan orang dewasa karena kondisi rahimnya rentan.

"Sementara, dampak ekonominya adalah munculnya pekerja anak. Anak tersebut harus bekerja untuk menafkahi keluarganya. Maka ia harus bekerja dengan ijazah, keterampilan, dan kemampuan yang rendah. Sehingga mereka akan mendapatkan upah yang rendah juga," katanya.

Peneliti sekaligus dosen Universitas Paramadina, Suraya, menerangkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perkawinan anak.

Antara lain ekonomi keluarga, utang keluarga yang dibebankan pada anak perempuan yang dianggap sebagai aset, pendidikan rendah, pendapatan rendah, interpretasi agama dan keluarga, serta stereotip pada anak perempuan.

"Fenomena lainnya yang menyebabkan tingginya angka perkawinan anak adalah tingginya tingkat kehamilan di kalangan perempuan muda," katanya.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved