Breaking News:

Peringati HUT ke 47 Bogasari Gelar Pertunjukkan Wayang Kulit Lakon 'Semar Mbabar Jati Diri'

Pagelaran wayang kulit dengan Lakon Semar Mbabar Jati Diri disajikan di areal parkir Pabrik Bogasari, sejak Jumat (7/12) malam hingga Sabtu (8/12).

Warta Kota/Junianto Hamonangan
Direktur Indofood Franciscus Welirang saat memberikan sambutan sebelum pagelaran wayang kulit dengan Lakon Semar Mbabar Jati Diri dimulai di areal parkir Pabrik Bogasari, sejak Jumat (7/12) malam hingga Sabtu (8/12) subuh. 

PAGELARAN wayang kulit dengan Lakon Semar Mbabar Jati Diri disajikan di areal parkir Pabrik Bogasari, sejak Jumat (7/12/2018) malam hingga Sabtu (8/12/2018) subuh.

Pagelaran wayang kulit yang dibawakan dalang terkenal Ki Manteb Sudharsono itu sekaligus untuk memperingati HUT ke-47 Bogasari.

Direktur Indofood Franciscus Welirang mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus memperingati HUT ke-47 Bogasari dengan cara melestarikan budaya tradisional Indonesia.

“Ini merupakan bentuk ungkapan syukur Bogasari atas beroperasinya pabrik terigu pertama di Indonesia pada 29 November 1971. Melalui ulang tahun yang ke-47 ini, Bogasari ingin terus menunjukkan apresiasinya terhadap terhadap kekayaan budaya tradisional Indonesia,” ucapnya, Minggu (9/12/2018).

Pria yang akrab disapa Franky Welirang itu menambahkan wayang adalah warisan budaya yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal dan juga pertunjukan budaya yang perlu terus dilestarikan.

Wayang juga tidak hanya memberikan tontonan, tapi tuntunan sebagai pedoman hidup manusia.

“Kalau tidak ada pagelaran seperti ini, wayang kulit akan tergerus oleh zaman. Alangkah baiknya kita sebagai generasi penerus, bisa mempertahankan hiburan rakyat ini supaya tidak hilang. Walaupun tentu sudah kalah dengan hiburan lain yang lebih disukai anak muda,” ungkapnya.

Wayang kulit dengan Lakon Semar Mbabar Jati Diri bermula dari kesalahpahaman Batara Guru terhadap Ki Semar karena mengumpulkan para raja dan ksatria.

Tindakan itu dianggap sebagai makar dengan mengangkat Ki Semar sebagai pemimpin baru.

Kecurigaan tersebut tidak hanya sampai disitu, puncaknya Ki Semar diculik oleh tokoh yang sangat sakti suruhan Dewi Permoni dan Bethara Guru.

Namun dengan kesaktian Ki Semar dengan mudah melumpuhkan penculiknya.

Singkat cerita Ki Semar menuju Khayangan Suralaya guna menghadap Sang Hyang Wenang dan menjelaskan cerita sebenarnya bahwa tujuan forum itu untuk menyadarkan para pemimpin negara dan ksatria agar segera melakukan pertaubatan nasional.

Apa yang dilakukan Ki Semar merupakan pengejawantahan fungsi dirinya selaku pengayom para raja dan ksatria.

Akhir cerita Sang Hyang Wenang memberi dukungan dan wejangan tentang ajaran “Memayu ayuning bawana” yang mana harus diwujudkan dan ditempuh secara bertahap melalui “Memayu ayuning jiwa”, “Memayu ayuning keluarga”, “Memayu ayuning sasomo”, “Memayu ayuning negara dan bangsa”.

Setelah tahapan itu tercapai maka “Memayu ayuning bawana” akan tercapai pula. (jhs)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved