Novel Baswedan Diteror

Penyelesaian Kasus Penyerangan Novel Baswedan Lamban, Saut Situmorang Sampai Dibilang Kambing

Saut Situmorang mengakui tidak ada kemajuan berarti dalam penyelidikan kasus itu, menimbulkan persepsi liar di masyarakat.

Penyelesaian Kasus Penyerangan Novel Baswedan Lamban, Saut Situmorang Sampai Dibilang Kambing
Tribunnews.com/Irwan Rismawan
SAUT Situmorang, Wakil Ketua KPK 

WAKIL Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang mengungkapkan, tekanan untuk segera menyelesaikan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan, juga sering ditujukan kepada dirinya dan pimpinan KPK lainnya.

Tekanan kepada pimpinan KPK itu menurutnya semakin besar ketika 600 hari sejak kasus itu terjadi, tak ada kemajuan penyelidikan yang signifikan dalam kasus itu.

Bahkan, dirinya mengaku pernah disebut ‘kambing’ karena dinilai lamban dalam mengupayakan penyelesaian kasus itu.

Tak Ada Izin, Anies Baswedan Bakal Audit Bangunan di Lokasi Longsor Kalisari

“Dalam berbagai kesempatan saya sampaikan bahwa pimpinan KPK terus berusaha agar kasus itu cepat terungkap dan terselesaikan, karena saya pun berpikir bagaimana bila kejadian yang sama menimpa saya. Salah kalau ada yang bilang pimpinan KPK santai dalam menghadapi kasus itu, bahkan sampai ada yang pernah mengatakan saya kambing,” ungkapnya, ditemui di Hotel Akmani, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (10/12/2018).

Namun, Saut Situmorang enggan mengungkapkan siapa yang menyebut dirinya seperti itu. Saut Situmorang mengakui bahwa hingga 600 hari terjadinya penyerangan kepada Novel Baswedan, belum ada kemajuan berarti dalam penyelidikannya di tahun ini.

“Kasus Novel memang belum selesai dan tim KPK bersama tim dari Polri masih terus bekerja hingga saat ini, walaupun tahun ini memang tidak ada kemajuan berarti,” paparnya.

Anies Baswedan Kasih Pilihan: Mau Longsor Atau Cari Tempat Lain yang Lebih Aman?

Saut Situmorang mengakui tidak ada kemajuan berarti dalam penyelidikan kasus itu, menimbulkan persepsi liar di masyarakat.

Namun, dirinya mengaku KPK belum mau menanggapi persepsi-persepsi itu, untuk bekerja senyap agar mencapai kemajuan yang signifikan.

“Memang framing-framing di luar itu belum diklarifikasi, seperti apakah yang dipanggil sebagai saksi tidak bersedia dimintai keterangan. Kita bekerja senyap dulu saja supaya tidak banyak noise, sehingga hasilnya signifikan,” bebernya. (Rizal Bomantama)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved