Pilpres 2019

Alasan Mantan Pendukung Jokowi dan Prabowo Pindah ke Lain Hati

Mata Najwa ungkap alasan pendukung Jokowi dan Prabowo pindah ke lain hati, salah satunya karena komitmen dan intervensi kepada masing-masing kandidat

SUHU politik jelang Pemilihan Presiden (Pipres) 2019 kian memanas.

Menyusul Reuni Akbar 212, para barisan mantan pendukung kandidat Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) mulai mengorek kegagalan mantan idolanya.

Pernyataan para mantan pendukung tersebut terekam dalam program acara Mata Najwa yang diunggah kembali lewat Channel Youtube @NajwaShihab; pada Rabu (5/12/2018) lalu.

"Memang tidak ada kawan dan lawan abadi di dalam politik, istilah itu tergambar dalam peta politik lima tahunan jelang Pilpres. Mantan kawan bisa jadi lawan, begitu pula sebaliknya," ungkap Najwa.

Kapitra Ampera: Reuni 212 Diisi Hate Speech, Pokoknya Mereka Kelompok Paling Benar

Dinilai Ikuti Gaya Donald Trump, Kubu Jokowi Sarankan Prabowo Jadi Capres Amerika Serikat Saja

Dalam kesempatan tersebut, Najwa mengundang dua orang dari masing-masing mantan pendukung yang sebelumnya membela Joko Widodo maupun Prabowo Subianto pada Pilpres 2014 silam.

Kubu mantan pendukung Jokowi yang kini mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno antara lain Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean dan Laksamana TNI purnawirawan Tedjo Edhy Purdijatno mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia.

Sementara, kubu mantan pendukung Prabowo yang kini mendukung Joko Widodo antara lain, Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jawa Barat, Dedi Mulyadi dan Pengacara Habib Rizieq Shihab, Kapitra Ampera.

Kesempatan pertama dibeikan kepada Ferdinand Hutahaean mengutarkan alasannya mengapa dirinya pindah mendukung Jokowi.

Ferdinand Hutahean Buktikan Alasan Pemimpin Indonesia Harus Fasih Berbahasa Inggris

Korupsi di Era Soeharto Sistemik, Hampir Tak Mungkin Bisa Dipecahkan

Ferdinand beralasan, Jokowi yang sebelumnya dianggap memahami ajaran Trisaksi Presiden Republik Indonesia, Soekarno rupanya salah.

Momen tersebut ketika Jokowi sudah menang dan menyusun Kabinet Kerja Jilid Pertama.

Halaman
123
Penulis: Dwi Rizki
Editor: Dian Anditya Mutiara
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved