Info Kementerian

Menperin Yakin Kinerja Industri Manufaktur Tumbuh Positif

Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada November 2018 sebesar 50,4. Angka di atas 50 masih menunjukkan level ekspansif.

Menperin Yakin Kinerja Industri Manufaktur Tumbuh Positif
Dok. Humas Kementerian Perindustrian
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto didampingi Sekjen Kemenperin Haris Munandar menerima cenderamata dari perwakilan Tsinghua University pada acara kelulusan Co-CLASS The Fourth Industrial Revolution System Transformation di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 4 Desember 2018. 

Apalagi, Indonesia butuh 17 tenaga kerja yang tidak “buta” teknologi digital di tahun 2030. Berdasarkan survei McKinsey, peluang ekonomi digital akan meningkatkan nilai tambah terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia 200 miliar dollar AS pada tahun 2030. Dengan implementasi industri 4.0, diyakini pula mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2 persen.

“Aspirasi besar Making Indonesia 4.0 adalah menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030,” ungkap Menperin.

Sasaran tersebut, bisa tercapai dengan peningkatan kembali neto ekspor sebesar 10 persen, produktivitas naik dua kali lipat, dan anggaran riset mencapai dua persen dari PDB.

Diikuti 27 peserta

Sekretaris Jenderal Kemenperin, Haris Munandar menyampaikan, program Co-CLASS angkatan pertama diikuti 27 peserta dari kementerian dan lembaga, perusahaan industri, dan perguruan tinggi. Program ini wujud dari pelaksanaan Letter of Intent (LoI) antara Kemenperin dengan UID dan Tsinghua University yang ditandatangani Mei 2017 lalu. Kegiatan Co-CLASS dimulai sejak Mei 2018 melalui berbagai lokakarya.

“Mereka mendapatkan enam kali workshop, yang meliputi orientation workshop, foundation workshop, sensing workshop, deep-dive workshop, prototyping workshop dan final workshop sekaligus acara kelulusan,” terangnya.

Dari program ini, ada aksi nyata yang muncul dari lima kelompok Co-CLASS untuk membuat prototipe solusi. Haris menyebutkan, materi pembelajaran yang diberikan selama Co-CLASS berfokus pada peningkatan kapasitas pemimpin di era industri 4.0 dengan penekanan tentang sharing vision, membuat keputusan strategis, meningkatkan kesadaran dalam diri, membangun kemitraan, dan menjadi manusia pembelajar. 

“Mereka juga mendapatkan materi dari beberapa narasumber internasional terkait Mental Model, U theory, System Thinking maupun Human Literacy,” ujarnya.

Pendiri UID, Cherie Salim, merasa bangga dilibatkan dalam program ini, terutama dengan adanya prototipe ide dalam upaya pengembangan industri nasional yang berdaya saing global di era digital.

“Kami optimistis bahwa dengan adanya rasa saling percaya lintas sektor, yakni pemerintah, pelaku bisnis, dan akademisi, akan mampu melewati tantangan dan menggambil peluang di era industri 4.0 atau ekonomi digital,” tandasnya.

Penulis:
Editor: Ichwan Chasani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved