MPR Dukung Mata Pelajaran PMP Diajarkan Lagi di Sekolah-sekolah, Ini Alasannya

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Mahyudin menegaskan dukungannya agar mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila kembali diajarkan di sekolah

MPR Dukung Mata Pelajaran PMP Diajarkan Lagi di Sekolah-sekolah, Ini Alasannya
ANTARA FOTO/Maulana Surya
Arsip foto. Tuntut Pengembalian Kurikulum PMP Anggota TNI AD, Kopral Partika Subagyo menggelar aksi tunggal bertajuk Moral Bangsa Semakin Rusak di kawasan Manahan, Solo, Jawa Tengah, Senin (11/5). Dalam aksinya, Kopral Partika Subagyo menuntut dikembalikannya mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila dalam kurikulum sekolah dan penataran Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila. () 

WAKIL Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Mahyudin menegaskan dukungannya agar mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) kembali diajarkan di sekolah-sekolah.

Menurut Mahyudin, di Balikpapan, Minggu (2/12/2018), saat sosialisasi empat pilar MPR, hal itu menjadi aspirasi dari guru-guru di sekolah-sekolah.

"Hal ini sudah saya sampaikan kepada Presiden Jokowi dan berharap Pemerintah menyikapi dan menindaklanjutinya," ujar Mahyudin.

Mahyudin mengatakan, pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) saat ini tidak mencukupi, karena pendidikan moralnya ditinggalkan.

Padahal pendidikan moral sangat penting untuk diajarkan, terutama menghadapi perkembangan teknologi dan tuntutan zaman globalisasi.

Perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat "banjir" informasi dan semakin menghilangkan batas-batas negara. Akibatnya membuat ancaman juga meningkat. 

"Untuk itu, tanpa kemampuan membentengi diri sendiri, berbagai ideologi dari luar yang membahayakan ideologi negara Pancasila, semakin mudah berkembang," kata Mahyudin.

Hal ini bila tidak diantisipasi akan membuat ancaman radikalisme semakin meningkat dan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

"Di zaman internet ini, semua informasi bisa diakses, di sinilah kita perlu mengantisipasi," ujar Mahyudin.

Bersifat laten

Anggota MPR Popong Otje Djundjunan yang menjadi pembicara sosialisasi empat pilar MPR mengatakan, ancaman terhadap ideologi bersifat laten.

"Artinya terus menerus akan berusaha mengganti ideologi negara sampai kiamat nanti," kata Popong Otje Djundjunan.

Untuk itulah PMP dibutuhkan untuk diajarkan kembali di sekolah-sekolah, guna memperkuat nilai-nilai dasar negara.

Mahyudin dan Popong menyosialisasikan empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika kepada Himpunan Wanita Karya.

Selain itu, keduanya juga memberikan sosialisasi di hadapan Forum Komunikasi Perumahan Atas Air (FKPPA) Balikpapan di Pemukiman Atas Air Marga Sari.

Wapres: Tak perlu dimasukkan kurikulum

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pendidikan moral pancasila (PMP) tidak perlu dimasukkan kembali ke dalam kurikulum mata pelajaran di sekolah, karena pemberian contoh hidup berbangsa secara langsung dinilai lebih efektif.

"Justru kita memberikan contoh bahwa pelaksanaan pancasila ini begini, keadilannya begini. TIdak hanya dengan memasukan kurikulum, seakan-akan semua beres. Tidak," kata Wapres Jusuf Kalla kepada wartawan di Kantor Wapres Jakarta, Selasa.

Wapres JK mengatakan pendidikan pancasila memang penting diterapkan di sekolah, namun perlu evaluasi agar mata pelajaran tentang pancasila tersebut menjadi efektif diterapkan di kehidupan bermasyarakat.

"Memang penting pancasila itu, tapi perlu juga dievaluasi, cara bagaimana. Ya, kan belum tentu dia diberikan lagi pelajaran (secara) massal, langsung orang semua (menjadi) baik, belum tentu," tambahnya.

Untuk meningkatkan kehidupan bermasyarakat berdasarkan pancasila, Wapres mengatakan hal tersebut cukup ditambahkan saja ke dalam mata pelajaran yang sudah ada saat ini, yaitu Pendidikan Kewarganegaraan (PKN).

"Kan kita sudah lakukan itu, tetap ada kan, karena itu muncul lagi saran tentang revolusi mental atau muncul pancasila. Kalau terlalu banyak (pelajaran) juga kan masyarakat atau murid-murid bingung nanti," katanya.

Sebelumnya, Kemendikbud mengusulkan akan kembali memasukkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) untuk menguatkan nilai-nilai Pancasila sejak dini di lingkungan sekolah.

Terkait usul tersebut, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan pun senada dengan Mendikbud bahwa PMP perlu dihadirkan kembali dengan menyesuaikan kondisi sekolah saat ini.

"Saya setuju namun metodenya harus disesuaikan dengan kondisi saat ini. Sekarang kita hilang pelajaran Pancasila dan penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)," kata Zulkifli di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa.

Wiranto: Mengalami degradasi

Halaman
12
Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved