Buku Tumbuh Bagai Ilalang: Studi Deskriptif Proses Belajar Transformatif Waria dan Gay di Jakarta

Buku Tumbuh Bagai Ilalang: Studi Deskriptif Proses Belajar Transformatif Waria dan Gay Pekerja Seks di Jakarta

Buku Tumbuh Bagai Ilalang: Studi Deskriptif Proses Belajar Transformatif Waria dan Gay di Jakarta
Istimewa
Launching buku Tumbuh Bagai Ilalang. 

WARTA KOTA, PALMERAH--- Lingkaran diskriminasi, kekerasan dan stigmatisasi yang menyasar kelompok lesbian gay biseks dan transgender (LGBT) menjadi faktor pendorong ketertutupan yang sebenarnya merugikan bagi anggota komunitas itu sendiri dan berdampak serius pada kepentingan publik.

Upaya pemerintah untuk mendorong penghapusan stigma dan diskriminasi menjadi persoalan penting untuk mengurangi risiko penularan infeksi HIV & AIDS serta memberikan kesempatan bagi komunitas LGBT dalam keragaman manusia dan menikmati hak-hak dasarnya.

Hal tersebut merupakan nukilan dari buku Tumbuh Bagai Ilalang yang dirilis oleh Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya.

Buku ini merupakan pengembangan dari skripsi Kevin Suhardjo S Psi mengenai dinamika perubahan pekerja seks waria dan gay di Jakarta di bawah bimbingan Prof. Irwanto, Ph.D.

Metode penulisan buku ini adalah wawancara terbuka metode life-history pada 10 waria dan lima gay di Jakarta.

Didapati berbagai peristiwa diskriminatif dan stigmatisasi pada kedua kelompok subyek dari berbagai pihak (Institusi keluarga, komunitas, sekolah, tempat kerja hingga peraturan negara) yang mempengaruhi struktur kognitif dan perspektif subyek terhadap dirinya sendiri.

“Kompleksitas masalah kaum Transgender lebih besar karena adanya konflik internal terkait tubuh dan seksualitasnya, sementara kaum Gay lebih mengarah pada hal tanggung jawab dan perspektif gender karena tidak mengalami konflik batin dalam tubuhnya,” kata Prof Irwanto PhD, dalam keterangan tertulisnya diterima Warta Kota, Kamis (29/11/2018).

Hal tersebut terjadi karena gaya hidup dan ekspresi yang dianggap tidak memenuhi norma-norma perilaku yang diterima secara sosial dan religius menjadi tantangan kelompok subyek, termasuk pencitraan buruk yang mengundang kebencian masyarakat.

“Yang diperlukan oleh semua orang, apakah Anda putih, hitam, keriting, mancung, pesek, dan sebagainya, adalah kesempatan yang sama. Kesempatan untuk menjadi manusia yang sama. Oleh karena itu mereka menjadi bagian yang harus memberikan kesempatan itu tanpa memikirkan yang lain,” katanya.

Menurut Kevin Suhardjo, gaya hidup berisiko dan tersembunyi akibat stigmatisasi dan diskriminasi menjadi hal merugikan bagi anggota komunitas itu sendiri dan akan berdampak serius pada kepentingan publik.

“Penghapusan stigma dan diskriminasi menjadi persoalan penting untuk mengurangi resiko penularan infeksi HIV & AIDS serta memberikan kesempatan bagi komunitas LGBT dalam keragaman manusia dan menikmati hak-hak dasarnya,” paparnya.

Fenomena LGBT bukan masalah baru dan lokal dimana fenomena ini menjadi gaya hidup yang diglorifikasikan maupun dibenci dan dihakimi.

Prevalensi infeksi HIV dikalangan Waria dan Gay menunjukkan angka yang cukup besar yaitu 22 persen untuk kaum Waria dan delapan persen untuk kaum gay sehingga menyebabkan kaum transgender dan gay mendapat sorotan lebih banyak dan tajam dari masyarakat.

Sejak tahun 1990, jumlah kasus infeksi baru pada kaum LGBT tidak pernah menurun karena ekspresi seksual yang terbuka, terutama kaum waria.

Penelitian United Nations Population Fund (UNFPA) dan United Nations Development Programme (UNDP) di empat negara (Indonesia, Myanmar, Nepal dan Sri Lanka) menunjukkan kaum ini mengalami kekerasan bertubi-tubi hingga terperangkap dalam lingkaran kekerasan karena tidak adanya jaminan bertahan hidup dari pekerjaan lain.

Tagar Uninstallgojek Ramai di Medsos gara-gara Isu LGBT, Ini Tanggapan Manajemen GO-Jek

Ongky Dicekoki Miras Sebelum Dijamah dan Ditelanjangi oleh Pelaku LGBT

Bahas LGBT dalam RUU KUHP, Ketua DPR Temui Ketua MUI

Penulis: Ign Agung Nugroho
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved