Tahun Ini Ada 966 Kasus Body Shaming di Indonesia, 374 Perkara Sudah Diselesaikan Polisi

Bila kasus pengejekan ini melibatkan UU ITE, ia menyebut kepolisian membutuhkan saksi ahli ITE, bahasa, dan pidana.

Tahun Ini Ada 966 Kasus Body Shaming di Indonesia, 374 Perkara Sudah Diselesaikan Polisi
herzindagi.info
Stop Body Shaming 

MABES Polri mengungkap ada 966 kasus body shaming alias ejekan rupa fisik di seluruh Indonesia pada tahun 2018.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, ejekan rupa fisik ini termasuk dalam kategori pencemaran nama baik.

"Dari jumlah itu yang sudah diselesaikan ada 374 kasus. Kasus seperti ini memang polisi juga harus berhati-hati, khususnya menyangkut penerapan UU ITE," ujar Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (28/11/2018).

Jangan Mengejek Fisik Orang Lain di Media Sosial, Ancaman Hukumannya Penjara Enam Tahun

Bila kasus pengejekan ini melibatkan UU ITE, ia menyebut kepolisian membutuhkan saksi ahli ITE, bahasa, dan pidana.

Untuk mencegahnya, polisi telah melakukan pendekatan edukatif, dengan memberikan literasi-literasi digital, baik melalui medsos maupun media mainstream.

Dedi Prasetyo berharap dengan itu masyarakat jadi tidak mudah mengejek orang dengan sarana media.

Terima Penghargaan dari KemenPAN-RB, Anies Baswedan Merasa Tertantang

"Kita sering sampaikan, saring dulu sebelum sharing. Karena jejak digital yang sudah terlanjur dikirimkan itu tidak bisa dihapus. Dan jejak digital itu bisa digunakan sebagai alat bukti dalam suatu peristiwa pidana. Orang yang merasa dirugikan, dia punya hak untuk melaporkan ke pihak kepolisian," paparnya.

Di sisi lain, Polri mencoba menggunakan pendekatan yang lebih humanis dan progresif, dengan mempertemukan kedua belah pihak.

"Artinya kita menawarkan agar pelapor dan terlapor duduk bersama untuk saling koreksi," jelasnya.

Terima Surat Pemberitahuan dari Panitia Reuni 212, Polisi Siapkan Pola Pengamanan

Jenderal bintang satu itu juga menyoroti banyaknya anak di bawah umur yang kerap melakukan kasus ejekan rupa fisik.

Ia juga mengimbau agar penegakan hukum menjadi langkah terakhir dalam kasus ini. Aspek mediasi, kata dia, harus dikedepankan.

"Kalau untuk di bawah umur kita lakukan UU Perlindungan Anak. Hukumannya kita menerapkan restorasi justice. Namun, mediasi yang lebih diutamakan," tuturnya.

"Penegakan hukum ini adalah upaya terakhir oleh penegakan hukum, ketika upaya-upaya pencegahan lain tidak bisa dilakukan. Kita mediasi dulu intinya," sambung Dedi Prasetyo. (Vincentius Jyestha)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved