Pemerintah Jakarta Utara Akan Tanam Eceng Gondok di Kali Sentiong, Ini Saran dari Peneliti LIPI

Sifat enceng gondok yang sangat cepat tumbuh, bila tidak dikendalikan, dikhawatirkan menimbulkan masalah di masa depan.

Pemerintah Jakarta Utara Akan Tanam Eceng Gondok di Kali Sentiong, Ini Saran dari Peneliti LIPI
Warta Kota/Lilis Setyaningsih
Prof. Dr. Gadis Sri Haryani, Peneliti Ahli Utama Pusat penelitian Limnologi-LIPI 

Rencana Pemerintah Kota Jakarta Utara yang akan menanam enceng gondok di Kali Sentiong atau Kali Item perlu disikapi dengan hati-hati.

Sifat enceng gondok yang sangat cepat tumbuh, bila tidak dikendalikan, dikhawatirkan menimbulkan masalah di masa depan.

Prof. Dr. Gadis Sri Haryani, Peneliti Ahli Utama Pusat penelitian Limnologi-LIPI mengatakan untuk satu batang enceng gondok dalam satu tahun bisa menutup sekitar 7 hektar permukaan air.

Pemerintah Daerah Jawa Tengah saja cukup kerepotan menangani enceng gondok di Rawa Pening, Ambarawa.

Begitu juga Pemerintah Gorontalo dalam menangani Danau Limboto.

Alat berat yang diberi nama Felon ini sedang mengangkat eceng gondok yanag memenuhi Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.
Alat berat yang diberi nama Felon ini sedang mengangkat eceng gondok yanag memenuhi Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara. (Warta Kota/Fitriyandi Al Fajri)

Menurut Gadis, eceng gondok memang efektif untuk menjernihkan air yang disebabkan karena polutan, baik yang berasal dari organik maupun anorganik.

"Eceng gondok memang bersifat fitoremediasi. Artinya, bisa menyerap senyawa organik dan anorganik," kata Gadis yang dihubungi Wartakota, Kamis (29/11/2018).

Namun, sifatnya yang sangat cepat tumbuh, membutuhkan kehati-hatian ketika ingin menanam enceng gondok.

Selain itu, ditakutkan dapat mengganggu makhluk hidup lain di Kali Item.

Pada malam hari nanti dikhawatirkan dapat mengambil oksigen di sekitar Kali Item.

Sampah yang menumpuk di Kali Sentiong, Kamis (8/12).
Sampah yang menumpuk di Kali Sentiong, Kamis (8/12). (Rangga Baskoro)

Untuk itu, Gadis mengingatkan, pentingnya pengaturan tanaman ini jika benar-benar akan digunakan untuk tujuan membersihkan Kali Item.

"Eceng gondok mudah hidup. Ketika di tempat hidupnya banyak polutan, akan diserap. Polutan itu seperti pupuk. Ia bisa hidup dan cepat berkembang biak," tutur Gadis.

Bila ingin tetap menggunakan enceng gondok, ia menyarankan agar dilakukan pengaturan agar jangan sampai menyebar.

Namun, Gadis lebih menyarankan agar Kali Sentiong diatasi dari sumbernya.

"Sumbernya dari mana itu yang harus dicari. Bukan hanya mengatasi secara instan saja. Tapi sebaiknya diatasi sumbernya," ucap Gadis.

Ia menjelaskan, sumber polusi Kali Item berasal dari limbah industri dan limbah rumahan. Sebaiknya limbah-limbah tersebut dibuatkan tempat pengolahan limbah sebelum air dibuang ke kali.

"Daripada 'mengobati' lebih baik dicegah dari sumbernya," tutur pakar limnologi itu.

Ia menyarankan, Pemerintah Provinsi DKI membuatkan tempat pengolahan limbah yang bersifat komunal, misalnya beberapa industri dibuatkan satu tempat pengolahan limbah.

Begitu juga rumah-rumah yang biasanya langsung membuang limbah ke sungai dibuatkan pengolahan limbah bersifat komunal.

Bila limbah-limbah itu telah diolah, polusi dan bau akan teratasi.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kota Jakarta Utara ingin memanfaatkan eceng gondok sebagai bagian upaya naturalisasi sungai di wilayah pesisir.

Wacana tersebut rencananya akan diterapkan di Kali Sentiong atau Kali Item, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Wakil Wali Kota Jakarta Utara Ali Maulana Hakim mengatakan, pihaknya yang mengusulkan penanaman eceng gondok di Kali Sentiong atau Kali Item. (*/lis)

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Murtopo
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved