Mantan Mahasiswa Ceritakan Pengalamannya Saat Dibimbing Jimly Terkait Hari Guru Nasional

Titi banyak mendapat ilmu dari Jimly yang juga menjadi dosen pembimbingnya dalam membuat karya tulis ilmiah.

Mantan Mahasiswa Ceritakan Pengalamannya Saat Dibimbing Jimly Terkait Hari Guru Nasional
Warta Kota/Joko Supriyanto
Ilustrasi. Mantan Ketua MK, Jimly Asshiddiqle, datang ke Pasar Rebo untuk meminta Agustinus Woro turun dari atas papan reklame di Pasar Rebo. 

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraeni menceritakan pengalamannya menjadi murid dari Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jimly Asshiddiqie.

Saat mengenyam pendidikan S1 dan S2 di Fakultas Hukum UI, Titi banyak mendapat ilmu dari Jimly yang juga menjadi dosen pembimbingnya dalam membuat karya tulis ilmiah (tesis) S2 soal Hukum Tentang Hubungan Negara dan Masyarakat.

"Saya ujian skripsi, salah satu pengujinya beliau. S2 beliau adalah pembimbing saya. Kalau interaksi intensif justru memang ketika saya S2, karena beliau dosen pembimbing tesis saya. Dari semua mahasiswa jurusan program hukum tata negara, saya yang tesisnya satu-satunya dapat nilai A. Jadi, betul-betul berkesanlah," kata Titi di Jakarta, Selasa (27/11).

Bagi Titi, menjadi murid dari mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu adalah pengalaman yang sangat berkesan. Ia menyebut Jimly adalah sosok yang tegas dan memiliki jangkauan ilmu tata negara yang luas.

"Sosok beliau di mata saya adalah orang yang tegas, sangat memahami seluk beluk hukum tata negara, pengetahuannya, dan jangkauan keilmuannya soal hukum tata negara sangat luas, dan beliau figur guru yang ketika mengajar dan memberikan ilmu itu sangat impresif atau sangat berkesan," ujarnya.

Tak hanya unggul dalam teori, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu disebut Titi, juga mampu mengartikulasikan gagasan, pemikiran, dan ide-idenya secara baik.

"Karena, tidak hanya beliau itu unggul di dalam tulis menulis, atau karya tulis ilmiah, hukum, pemikiran, opini, dan sebagainya, tetapi beliau juga orang yang artikulatif. Kombinasi yang tidak banyak akademisi yang unggul dalam karya ilmiah tapi juga mampu mengartikulasikan gagasan, pemikiran, dan ide-idenya secara baik," paparnya.

Kemampuan mengartikulasikan ide dan gagasan ini, lanjut Titi, juga diaplikasikan Jimly saat di MK maupun ketika menjabat Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Karenanya Titi menilai, Jimly adalah sosok bertangan dingin.

"Ketika beliau menjadi ketua DKPP juga membangun dan menjaga marwah penyelenggara pemilu di tengah ketidaktahuan publik soal lembaga itu apa dan mau dibawa kemana, beliau dengan tangan dinginnya itu bisa mentransformasi kelembagaan negara menjadi lembaga yang dihormati, punya marwah, dan berpengaruh gitu. Itu kan tidak hanya bakat memimpin ya, tapi bakat dan kemampuan memimpin yang baik menurut saya," ungkap Titi.

Dari uraian tersebut Titi berkesimpulan, mantan Ketua Dewan Penasihat Komnas HAM itu bukan hanya seorang pemimpin, tapi juga layak disebut sebagai inovator.

"Jadi dalam konteks sosok Prof Jimly sebagai pemimpin itu sudah tidak usah diragukan. Bukan hanya pemimpin bagi saya beliau itu inovator, jadi beliau adalah orang yang penuh dengan ide, dan gagasan baru, tidak hanya menemukan tetapi tetapi juga bisa merealisasikan apa yang dipikirkan dan apa yang dibayangkan itu yang tidak banyak dimiliki oleh akademisi maupun tokoh publik di negara kita," katanya.

Penulis: Rangga Baskoro
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved