CPNS 2018

Menpan Keluarkan Aturan Baru, Nilai Komulatif SKD CPNS 2018 255 Bisa Ikuti SKB

Peserta tes CPNS 2018 yang meraih nilai komulatif SKD minimal 255 bisa mengikuti tes kebidangan.

Menpan Keluarkan Aturan Baru, Nilai Komulatif SKD CPNS 2018 255 Bisa Ikuti SKB
Tribun Timur
Kisi-kisi soal CPNS 

Seperti diberitakan sebelumnya, tingkat kelulusan SKD CPNS tahun 2018 ini kurang dari 10 persen.

Selain itu, banyak formasi kosong lantaran pesertanya tidak ada yang memenuhi passing grade. Kalau kondisi itu dibiarkan, dikhawatirkan banyak formasi yang sudah ditetapkan tidak terisi.

Tanpa mengurangi kualitas CPNS yang direkrut, alokasi penetapan formasi CPNS tahun 2018 ini perlu dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan PNS sehingga tidak mengganggu pelayanan publik.

Kebijakan itu tak lepas dari kenyataan bahwa banyak peserta SKD yang nilai kumulatifnya cukup tinggi, meskipun ada salah satu kelompok soal yang tidak memenuhi ambang batas kelulusan sesuai ketentuan Peraturan Menteri PANRB No. 37/2018.

Apabila terdapat peserta yang nilai kumulatif SKD-nya sama, penentuan didasarkan secara berurutan mulai dari nilai Tes Karakteristik Pribadi (TKP), Tes Intelegensia Umum (TIU), dan Tes Wawasan kebangsaan (TWK).

“Tetapi kalau yang nilainya sama lebih dari tiga kali alokasi formasi, maka semua akan diikutsertakan mengikuti SKB,” ungkap Setiawan.

Untuk kelompok pelamar umum, nilai kumulatif SKD minimal yang diperkenankan mengikuti SKB adalah 255.

Ketentuan ini termasuk di dalamnya untuk jabatan dokter spesialis, instruktur penerbang, petugas ukur, rescuer, ABK, pengamat gunung api, penjaga mercusuar, pelatih/pawang hewan, penjaga tahanan, serta formasi untuk lulusan terbaik (cumlaude).

Sedangkan untuk formasi penyandang disabilitas, putra/putri Papua/Papua Barat, tenaga guru, tenaga medis/paramedis dari eks tenaga honorer K-II, nilai kumulatif SKD paling rendah 220.

Peraturan Menteri PANRB tersebut juga mengatur tata cara pengisian formasi yang belum terpenuhi setelah dilakukan integrasi nilai SKD dan SKB.

Seperti diatur dalam Peraturan Menteri PANRB No. 36/2018, SKD memiliki bobot 40 persen, sedangkan bobot SKB 60 persen. 

Hasil Kelulusan SKD CPNS 2018

Kini yang menjadi rasa penasaran berikutnya dari para peserta SKD CPNS 2018 adalah kapan hasil SKD CPNS 2018 diumumkan. 

Kepala Badan Kepegawaian Negara, Bima Haria Wibisana, menyebut bahwa kini setiap instansi sedang dalam tahap penyeleksian peserta yang dianggap lulus SKD murni maupun berdasarkan PermenpanRB 61/2018.

Hasilnya nanti akan dikirimkan kepada BKN untuk dimasukkan ke dalam sistem. 

Sehingga nantinya sistem yang akan menentukan peserta mana yang akan menjadi kelompok 1 dan kelompok 2 dalam SKB CPNS 2018, sekaligus sistem pula yang akan menentukan peserta yang bisa mengisi formasi lain yang tak sesuai dengan pilihan pertamanya. 

Kepala BKN Bima Haria Wibisana menyebut proses tersebut akan berjalan kurang lebih selama sepekan. 

Selama dalam tahap itu tak boleh ada instansi yang mengumumkan hasil SKD CPNS 2018. 

"Kita tak membolehkan mengumumkan terlebih dulu, karena nanti akan disistemkan dulu,"kata Bima Haria Wibisana dalam jumpa persnya, Kamis (22/11/2018).

Ya, berarti kurang lebih para pelamar CPNS 2018 harus bersabar sepekan lagi untuk tahu hasil kelulusan SKD CPNS 2018. Tetap sabar, dan belajar terus ya. Berdoa jangan lupa. 

Panselnas CPNS 2018 Badan Kepegawaian Nasional (BKN) belum mengumumkan kepastian sistem yang dipakai untuk mengisi formasi kosong akibat gugur massal di SKD CPNS 2018.

Sampai hari ini Panselnas CPNS 2018 masih terus melanjutkan rapat dan melakukan simulasi terhadap pilihan cara pengisian formasi kosong akibat gugur massal di SKD CPNS 2018. 

Sebelumnya antara Humas BKN, Humas Kemenpan RB,  dan Menteri PAN-RB, Syafruddin, memang terdengar berbeda-beda menyebut tanggal cara pengisian formasi kosong akibat gugur massal SKD CPNS 2018 akan diumumkan. 

Humas BKN menyebut cara pengisian formasi kosong akibat gugur massal SKD CPNS 2018 akan diumumkan. sebelum  tanggal 18 November 2018. 

Sedangkan humas Kemenpan-RB menyebut cara pengisian formasi kosong akibat gugur massal SKD CPNS 2018 akan diumumkan pada pekan kemarin. 

Sementara itu Menteri PAN-RB,  Syafruddin,  menyebut cara pengisian formasi kosong akibat gugur massal SKD CPNS 2018 baru akan diumumkan pada pekan ini. 

Tampaknya kini omongan Menpan RB, Syafruddin, yang akan jadi paling tepat terkait waktu pengumuman cara pengisian formasi kosong akibat gugur massal SKD CPNS 2018. 

Namun walau belum diumumkan, beberapa kali Kepala BKN, Bima Haria Wibisana, sudah mulai membocorkan cara yang akan dipakai untuk mengisi formasi kosong akibat gugur massal di SKD CPNS 2018.

Cara yang akan dipakai adalah dengan menggunakan sistem ranking dari mereka yang gugur karena salah satu soal di SKD CPNS 2018 tak memenuhi passing grade. 

Sehingga nantinya panitia akan menyisihkan lebih dulu mereka yang lulus passing grade untuk dirangkingkan dalam suatu formasi jabatan. 

Apabila kemudian masih ada formasi kosong akibat terlalu sedikitnya yang lulus passing grade dalam suatu formasi jabatan, maka panitia akan merangkingkan seluruh peserta berdasarkan nilai total. 

Mereka yang akan diambil adalah yang memiliki nilai total paling tinggi sesuai dengan banyaknyaa formasi kosong. 

Apabila ada 5 formasi masih kosong dalam suatu jabatan, maka urutan perangkingan 1 sampai 5 tertinggi yang berhak mengisi kekosongan tersebut. 

Tapi sampai saat ini belum diketahui batasan cara pengisian formasi kosong tersebut. 

Batasan yang dimaksud adalah apakah peserta SKD CPNS 2018 yang tak lulus passing grade di 2 jenis soal juga boleh ikut perangkingan, atau hanya mereka yang tak lulus passing grade di satu jenis soal  saja yang boleh ikut perangkingan?

Kepala BKN Bima Haria Wibisana berujar bahwa pihaknya memilih tak menurunkan passing grade karena khawatir CPNS yang lolos akan turun mutunya apabila hal tersebut dilakukan. 

Solusi Sistem Ranking Hasil Tes CPNS

Bima Haria Wibisana mengatakan, solusi sistem ranking itu diterapkan karena dikhawatirkan banyak formasi yang kosong akibat banyaknya peserta CPNS 2018 yang tidak lolos passing grade SKD.

Khususnya untuk posisi guru dan tenaga kesehatan yang sekarang banyak dibutuhkan.

Bima juga menjelaskan bahwa pihaknya tidak mau menurunkan passing grade.

Alasannya, penurunan passing grade dikhawatirkan akan merekrut Apartur Sipil Negara (ASN) yang tidak berkualitas.

 "Sekarang kalau di daerah bagaimana solusinya. Kita lihat kalau ini dibiarkan kosong bagaimana, kalau diisi bagaimana. Formasi tahun ini itu sebagian terbesar adalah guru dan tenaga kesehatan," kata Kepala BKN Bima Haria Wibisana melansir dari Kompas.com (16/11/2018).

"Kalau guru dan tenaga kesehatan kosong, ini siapa yang akan mengajarkan anak - anak. Kan lebih baik ada gurunya dari pada tidak sama sekali. Jadi itu perlu," tambahnya saat meninjau pelaksanaan seleksi CPNS di Kota Malang, Jumat (16/11/2018).

"Caranya bagaimana, kalau diturunkan passing grade, kan dapatnya PNS yang elek - elek (jelek - jelek). Balik lagi ke guru yang tidak berkualitas. Apakah kita mau anak - anak kita diajar oleh guru - guru yang tidak berkualitas. Nggak mau, siapa yang mau. Jadi harus bagus."

"Nah, mungkin penurunan passing grade itu tidak menjadi pilihan. Tapi anak - anak (peserta) tes ini yang passing gradenya belum memenuhi itu banyak yang skor totalnya tinggi sekali."

"Kemudian kita lakukan perankingan di sana. Yang jumlahnya tinggi - tinggi ini berapa orang sih, untuk mengisi formasi - formasi yang kosong itu. Itu kan tidak mengurangi passing grade. Artinya kita tidak menurunkan kualitas PNS-nya gitu," ungkapnya.

Rumus Jokowi Terkait Tidak Lulus Massal Tes CPNS

Ternyata dibalik gugur massal di SKD CPNS 2018 terdapat soal-soal yang mesti dikerjakan dengan rumus Jokowi. 

Soal-soal yang mesti dikerjakan dengan rumus Jokowi adalah beberapa soal tes intelegensi umum (TIU). 

Bahkan nantinya instansi yang SKBnya berupa tes potensi akademik (TPA) juga pasti akan berhadapan dengan soal-soal yang mesti dikerjakan dengan rumus Jokowi. 

Berdasarkan channel youtube 'Paman APIQ' yang memfokuskan kontennya untuk mengajari para pelamar CPNS, SBMPTN, dan lainnya untuk belajar matematika dengan cara yang mudah dan cepat. 

Paman APIQ mengajari bahwa untuk menyelesaikan soal matematika mengenai jarak, kecepatan, dan waktu haruslah dikerjakan dengan rumus Jokowi agar lebih mudah. 

Rumus Jokowi yang dimaksud Paman APIQ adalah aturan penghitungan jarak, waktu, dan kecepatan dengan menggunakan sistem piramida J (jarak)- K (kecepatan) - W (waktu). 

J ditaruh di atas, sedangkan K dan W membentuk kaki di piramida. 

Dari situ bisa diketahui bahwa untuk menghitung Jarak (J), maka hanya perlu dikalikan antaran K dan W. 

Sedangkan untuk mencari W atau K, hanya perlu dibagi antara J dan K atau J dan W. 

Dengan rumus Jokowi itu ternyata pelamar CPNS 2018 akan lebih mudah mengerjakan soal matematika dalam TIU maupun dalam SKD nanti. 

Editor: Suprapto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved