Hari Guru Nasional

4 Guru Hebat Ini Jadikan TGB Muhammad Zainul Majdi Gubernur NTB 2 Periode dan Hapal Quran

Inilah 4 Guru Hebat yang antarkan TGB Muhammad Zainul Majdi jadi gubernur 2 periode di NTB

Wisata Lombok
Tuanku Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi, Gubernur NTB yang merupakan gubernur yang hafal Al Quran. 

HARI Guru Nasional diperingati setiap tanggal 25 November.

Sejumlah tokoh publik telah memberi kesaksian seputar Hari Guru Nasional dan bercerita terkait guru-guru mereka.

Sebelumnya, Prof Mohammad Mahfud MD menceritakan pengalaman saat sekolah di Madura bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional 2018.

Calon Wakil Presiden (Cawapres) Sandiaga Uno pun di akun media sosialnya telah membagikan video bersama guru SMA-nya di Pangudi Luhur, Jakarta.

Kali ini, Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi tak mau ketinggalan.

Ada 4 guru hebat TGB Zainul Majdi yang diceritakan melalui akun instagramnya.

Keempat guru tersebut, kata TGB Zainul Majdi, memiliki kemahiran dalam sejumlah bidang ilmu. 

Ada guru matematika, sejarah, dan fiqih.

TGB Zainul Majdi adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dua periode, 2008-2018. Peran guru-guru hebat itu tentu sangat besar terhadap kesuksesan dia.

TGB Zainul Majid, doktor lulusan perguruan tinggi di Kairo, Mesir, adalah seorang yang hapal Al Quran.

"Bagi saya, semua guru saya adalah orang hebat," ujar TGB Zainul Majdi melalui akun instagramnya, Senin (26/11/2018). 

Rayakan Hari Guru, Mahfud MD Ceritakan Kisah Haru Bersama Guru SD-nya 58 Tahun Lalu

Google Ucapkan Selamat Hari Guru Nasional 2018 untuk Indonesia

Hari Guru Nasional: 7 Pahlawan Nasional Ini Ternyata Berprofesi sebagai Guru Top

Hari Guru Nasional: 7 Artis Ngetop Ini Berprofesi sebagai Guru, No 7 Lulusan Columbia University

Inilah 4 Guru Hebat TGB Zainul Majdi. 

 1. Ustaz Sahar

Ada Ustadz Sahar yang mengajar matematika dengan ilustrasi ilmu waris, sambil tak henti menyelipkan ajaran tentang kehidupan. "

Pulang sekolah nanti, apa yang ada makan saja, tidak perlu menunggu lauk lengkap, toh nanti bakal jumpa dalam perut".

"Sederhana dan menyederhanakan," ujar TGB Zainul Majdi terkait sosok guru Sahar.

2. Ustaz Masnun

Ada Ustadz atau Ustaz Masnun yang menguraikan sejarah dengan sangat menarik.

Diujung, kata Zinul Majdi, Ustaz Masnun selalu bilang, "Itukan versi pengarang buku ini, kalau versi saya lain lagi".

Pernyataan Ustaz Masnun itu seakan mengingatkan bahwa sejarah bisa beragam wajah. 

3. Tuan Guru Yusuf Makmun

Ada Tuan Guru Yusuf Makmun dengan ketenangan menakjubkan.

Saat mengaji Usul Fiqh di rumah Tuan Guru Yusuf Makmun,  seekor ular menyusup dari pintu yang setengah tertutup.

TGB Zainul Majdi menggambarkan Tuan Guru Yusuf sebagai guru yang mempunyai 'kesaktian', ilmu yang tinggi.

"Saya dan teman terloncat, beliau dengan tenang menangkap dan membuang ular keluar. Ajiiibbb," ujar TGB Zainul Majdi.

4. Maulana Syekh Ninikda Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Dan tentu saja Guru Besarku Maulana Syekh Ninikda Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan.

"Matahari inspirasiku, kata Beliau. Tak henti berputar dalam keadaan apa pun. Menerangi , menumbuhkan dan menghangatkan," ujar Zainul Majdi.

Inilah status TGB Zainiul Majdi di akun instagramnya.

@tuangurubajangBagi saya, semua guru saya adalah orang hebat.

Ada Ustadz Sahar yang mengajar matematika dengan ilustrasi ilmu waris, sambil tak henti menyelipkan ajaran tentang kehidupan. "Pulang sekolah nanti, apa yang ada makan saja, tidak perlu menunggu lauk lengkap, toh nanti bakal jumpa dalam perut". Sederhana dan menyederhanakan. . .

Ada Ustadz Masnun yang menguraikan sejarah dengan sangat menarik. Diujung, Beliau selalu bilang, "Itukan versi pengarang buku ini, kalau versi saya lain lagi". Seakan mengingatkan bahwa sejarah bisa beragam wajah. . .

Ada Tuan Guru Yusuf Makmun dengan ketenangan menakjubkan. Saat mengaji Usul Fiqh dirumah Beliau, seekor ular menyusup dari pintu yang setengah tertutup. Saya dan teman terloncat, Beliau dengan tenang menangkap dan membuang ular keluar. Ajiiibbb. . .

Dan tentu saja Guru Besarku Maulana Syekh Ninikda Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, pendiri Nahdlatul Wathan. Matahari inspirasiku, kata Beliau. Tak henti berputar dalam keadaan apapun. Menerangi , menumbuhkan dan menghangatkan. . .

Selamat Hari Guru Nasional!

Darma baktimulah cahaya untuk negeri.

Status TGB Zainul Majdi ini kemudian mendapat komentar sejumlah netizen (warganet).

yuliyuli7890Slmt hari guru .. Pengorbananmu tiada tara utk anak didikmu... Jasamu akan kami kenang selamanya... Engkau pahlawan tanpa tanda jasa...

andi_joget1374Selamat Hari guru untuk semua guru2 guru ngaji guru skolah dll dan untuk pak TGB yang tiyang sendiri sudah menggap lebih dari guru walau pembelajaran hanya sering sya dapatkan dengan menonton vidio2 cramah paq TGB

ryusfatherSedih hati karna ada yg menyebut sebagian dari mereka "ilegal"

Mahfud MD Ceritakan Kisah Haru Bersama Guru SD-nya 58 Tahun Lalu

MAHFUD MD ikut memberikan ucapan selamat guru 2018 yang jatuh pada Minggu (25/11/2018). 

Bahkan Mahfud MD memberikan cerita harunya yang terjadi 58 tahun antara Mahfud MD dan guru SDnya di Madura. 

Tapi sebelumnya, sebaiknya kita tahu dulu mengapa hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November.

Dikutip dari tribunnews.com, ternyata hal itu ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.

Hari Guru Nasional sebagai tanda terbentuknya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Melansir dari Banjarmasin Post, peringatan Hari Guru Nasional di beberapa negara bahkan dijadikan hari libur nasional, sedangkan di Indonesia dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah.

Dilansir Tribunnews.com dari berbagai sumber, Hari Guru Nasional bermula dari organisasi perjuangan guru-guru pribumi pada zaman penjajahan Belanda yang berdiri pada tahun 1912.

Organisasi tersebut bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang beranggotakan dari berbagai guru dengan latar pendidikan yang berbeda-beda.

Dengan berkembangnya PGHB, kemudian muncullah organisasi-organisasi guru yang lain.

Masing-masing terdiri dari Persatuan Guru Bantu (PGUB), Perserikatan Guru Desa (PGD), Persatuan Guru Ambachtsschool (PGAS), Peserikatan Normaalschool (PNS), Hogere Kweekschool Bond (HKSB), dan masih banyak lagi.

Di tahun 1932, PGHB diubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI).

Perubahan nama dengan mencantumkan Indonesia dibelakangnya membuat pemerintah Hindia Belanda terkejut.

Kata Indonesia yang mencerminkan semangat kebangsaan tersebut sangat tidak disukai oleh Belanda.

Pada zaman pendudukan Jepang, segala organisasi dilarang, sekolah ditutup, PGI pun tidak melakukan aktivitasnya kembali.

Setelah Indonesia merdeka, PGI menggelar Kongres Guru Indonesia pada 24-25 November 1945 di Kota Surakarta.

Kemudian pada tanggal 25 November 1945, Persatua Guru Republik Indonesia (PGRI) mulai terbentuk.

Hari itu juga ditetapkan sebagai Hari Guru namun belum ada keputusan resmi dari Pemerintah.

Baru di tahun 1994, Hari Guru resmi diperingati melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994.

Cerita Mahfud MD

Mahfud MD menceritakan kisahnya dengan sang guru SD saat ia kecil dalam satu postingan terbaru di akun instagramnya @mohmahfudmd.

Mahfud MD menceritakan bahwa saat ia duduk di sekolah dasar tahun 1960an, orangtuanya memiliki sikap berbeda dengan orangtua zaman sekarang. 

Orangtua zaman sekarang kerap marah terhadap guru saat anaknya dimarahi, di zaman Mahfud MD, orangtua justru senang apabila sang anak dimarahi oleh gurunya. 

Inilah postingan Mahfud MD selengkapnya :

'SELAMAT HARI GURU. Waktu SD sy bersekolah di desa di Madura. Kalau sy dimarahi oleh guru, orang tua sy mendatangi guru dan mengucapkan terimakasih. Kalau sy dimarahi oleh orng tua, guru sy menasehati agar sy patuh pd orng tua. Tak ada orng tua melabrak guru krn anak dihukum guru.

Setiap Hari Guru, terngiang di telinga lagu Hymne Guru. Kalau mendengar Hymne Guru hati sangat terharu, tersayat rindu pd guru. Guru sy dulu sering mengajak sy menginap di rumahnya utk les tambahan. Bayarnya hny secangkir minyak tanah utk nyala lampu selama les. Itu tahun 1960-an'.

Editor: Suprapto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved