Tepis Pernyataan Prabowo, Politisi PPP Sebut Profesi Driver Ojek Tidak Hina

Pernyataan capres nomor urut 02, Prabowo Subianto, terus menuai kecaman terkait pernyataannya tentang profesi tukang ojek.

Tepis Pernyataan Prabowo, Politisi PPP Sebut Profesi Driver Ojek Tidak Hina
Wartakotalive.com/Dwi Rizki
Sejumlah tukang ojek online menunggu penumpang berhenti di pinggir jalan di sekitar Stasiun KA Palmerah, Jakarta Pusat, Jumat (19/1/2018). 

PERNYATAAN capres nomor urut 02, Prabowo Subianto, terus menuai kecaman terkait pernyataannya tentang profesi tukang ojek.

Teddy Yulianto, Ketua Yayasan Teddy Yulianto mengatakan profesi menjadi driver ojek tidak hina.

Bahkan, Teddy berpendapat kehadiran driver ojek sangat membantu masyarakat Jakarta lebih mudah dan cepat sampai tujuan.

"Dari dulu yang memanfaatkan ojek motor tidak hanya dari kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah saja. Semua lapisan masyarakat pernah menggunakan ojek motor. Apalagi sekarang ini ada ojek online," kata Teddy, Jumat (23/11/2018).

Teddy pun menegaskan mayoritas driver ojek online minimal berpendidikan SMA.

Dengan begitu dapat dipastikan mengerti teknologi dan dapat membaca peta.

"Kalau kita naik ojek online, tidak perlu lagi mengarahkan driver ke tempat tujuan. Mereka bisa baca peta, kita hanya diam duduk saja sampai di tempat tujuan," ujarnya.

Caleg DPRD DKI dari PPP dapil Jakarta Selatan ini menyinggung soal program wajib belajar selama 12 tahun yang dicanangkan pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Katanya, untuk memastikan semua masyarakat dapat menyelesaikan pendidikan minimal SMA merupakan tanggung jawab bersama, khususnya para penggiat Pusat kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

"Saya sejak dulu prihatin dengan bidang pendidikan. Melalui PKBM Starisa School, Yayasan Teddy Yulianto membantu masyarakat yang terkendala dalam persoalan pendidikan," tuturnya.

Menurut Teddy, masalah pendidikan masyarakat tidak selalu karena persoalan ekonomi saja.

Banyak hal yang bisa menyebabkan seseorang tidak dapat menyelesaikan pendidikannya hingga SMA.

"Untuk persoalan ini, PKBM Starisa setiap tahunnya dibantu oleh warga melakukan 'sweeping' siapa yang belum tamat SMA. Hasilnya diketahui, yang tidak tamat SMA usianya di atas 30 tahun, mungkin karena dulu hanya dicanangkan hanya sampai SD saja," imbuh Teddy.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved