Kolom Maryono Basuki

Hikayat Merdeka atau Mati, Pesan-Pesan Pahlawan

Mayat bergelimpangan di selokan dan pinggir jalan. Sampai tanggal 14 November 1945 pemuda Surabaya (mengklaim) sudah berhasil merontokan pesawat.

Hikayat Merdeka atau Mati, Pesan-Pesan Pahlawan
youtube.com
Sutomo atau dikenal dengan sebutan Bung Tomo, pahlawan nasional

Pertempuran tiga hari yang dianggap telah selesai itu merupakan permulaan menuju pertempuran yang digolongkan sebagai salah satu pertempuran terdahsyat sepanjang abad ke-20, Pertempuran 10 November 1945.

Korban jatuh di pihak Inggris, dalam pertempuran tiga hari, seorang perwira tinggi (Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern Mallaby, Komandan Brigade ke 49 Inggris), lebih dari 15 perwira dan 217 prajurit Inggris terbunuh.

Letnan Jenderal Christison, komandan SEAC, Komandan Pasukan Sekutu di Indonesia), tidak mau kehilangan muka.

Perundingan dengan Kepala Negara RI merupakan bagian dari taktik militer untuk menyiapkan serbuan besar atas kota Surabaya.

Sehari setelah perundingan Soekarno – Christison, menurut "Report Proceedings for November 1945, Public record office, ref N0 203/5384/X/3.1426", Inggris mendaratkan 1500 pasukan melalui kapal HMS Cavalier dan HMS Carron. Dua hari kemudian, Panglima Divisi Infanteri Inggris India Kelima, Mayor Jenderal Robert Mansergh mendarat bersama 24 ribu prajurit yang diperkuat panser, tank dan meriam.

Ditambah sisa-sisa pasukan Mallaby, kekuatan Inggris mencapai sekitar 30 ribu prajurit.

A.2  Pertempuran 10 November

Pada tanggal 9 November 1945 Inggris mengeluarkan ultimatum yang disebarkan melalui udara. Isi ultimatum:

1) Semua pemimpin Indonesia termasuk pemimpin pergerakan, pemimpin pemuda, kepala polisi, petugas radio, harus melapor kepada Inggris dengan batas waktu jam 18.00 tanggal 9 November 1945.

2) orang-orang Indonesia yang membawa senjata harus meletakkan senjata di tempat-tempat yang telah ditentukan.

3) selanjutnya, mereka harus menyerahkan diri dengan meletakkan tangan di atas kepala.

4) semua pemimpin - pemimpin Indonesia harus menandatangani dokumen sebagai pernyataan menyerah tanpa syarat, kemudian ditawan.

5) jika ultimatium tidak ditaati Inggris akan menghancurleburkan seluruh kota Surabaya hingga rata dengan tanah. Ultimatum yang sungguh-sungguh merendahkan martabat bangsa Indonesia.

*** 

SETELAH pembicaraan tingkat tinggi di pihak Republik Indonesia, akhirnya Gubernur Soerjo melalui radio pada pukul 23.00 malam menolak ultimatum Inggris dan memutuskan Surabaya akan melawan sampai titik darah penghabisan.

Inggris merealisasikan ultimatumnya, menghancurleburkan Surabaya hingga rata dengan tanah.

Sejak pukul 06.00 tanggal 10 November 1945, selama 24 jam penuh selama tiga hari, meriam kapal perang armada Laksamana Peterson (yang terdiri atas satu kapal penjelajah dan tiga kapal perusak) menghujani kota Surabaya dengan peluru-peluru kaliber 28 sentimeter, sementara pesawat terbang Royal Air Force menjatuhkan bom Napalm (kanesten berisi zat kimia berbentuk pasta yang terbakar begitu pecah di darat).

Bom meledak membentuk  bola api raksasa, menghanguskan apapun dalam radius 100 meter dari pusat ledakan.

Mansergh masih belum puas dan masih butuh tambahan kekuatan. Mansergh minta tambahan delapan pesawat tempur P-47 Thunderbolt, dua De Havilland Dh.88 Mosquito, 21 tank Sherman dan sejumlah kendaraan lapis baja dengan persenjataan Bren Gun Carrier.

Tiga puluh ribu serdadu Inggris-India bergerak melewati puing-puing gedung-gedung di pusat kota Surabaya yang hangus terbakar.

Jembatan Merah (penghubung daerah perniagaan Kembang Jepun melewati Kalimas menuju Gedung Karesidenan),  Gemblongan, pusat perkulakan Whiteaway Laidlaw & Co.

Tunjungan, Kaliasin, Darmo menjadi lautan api. Batalyon Rajputna membabi-buta memberondong orang-orang Indonesia yang tak jelas persenjataannya dengan senapan mesin.

Pertempuran dahsyat terjadi di jalan-jalan kota. Pemuda Surabaya menghadang serbuan tentara Inggris dengan senjata Senapan Kavaleri tipe 38 dan 44, Pistol Mitraliur Type 100, Senapan mesin ringan Tipe 11-99, Senapan mesin berat Tipe 92, Granat Fragmentasi Tipe 10 – 91 – 97 – 99.

Terdapat lebih dari 37 ribu pucuk senjata api lengkap dengan pelurunya yang dibagikan ke kelompok pemuda. Senjata ini adalah rampasan dari Jepang. Sisanya menggunakan senjata tradisional (keris dan bambu runcing).

Perlawanan Indonesia berlangsung dua tahap, pengorbanan diri secara fanatik, diikuti dengan cara yang lebih terorganisir dan efektif, mengikuti petunjuk latihan militer Jepang,” tulis David Wehl.

Orang-orang yang hanya bersenjatakan keris tiba-tiba muncul dari gang-gang perkampungan kota menyerang tank-tank Sherman.

Mayat bergelimpangan di selokan dan pinggir jalan. Sampai tanggal 14 November 1945 pemuda Surabaya (mengklaim) sudah berhasil merontokan tujuh pesawat musuh.

Sebuah pesawat dengan pilot Letnan Penerbang Osborn yang ditumpangi Brigadir Robert Guy Loder-Symonds, Komandan Kesatuan Artileri Militer Inggris, jatuh pada pukul 09.50 pada 10 November, hari pertama pertempuran Surabaya.

Puluhan tank Sherman berhasil dilumpuhkan. Dalam pertempuran 10 November 1945, menurut taksiran Woodburn Kirby dalam The War Against Japan (1965), terdapat 600 korban di pihak Inggris.

Menurut Merle Calvin Ricklefs, dalam A History of Modern Indonesia Since c. 1300, terdapat ribuan korban di pihak Indonesia. Dalam keadaan compang-camping serdadu Inggris berhasil melewati kota Surabaya menuju Semarang.

B.  Pesan-Pesan Para Pahlawan

Para martier Republik Indonesia seolah menyampaikan pesan yang kira-kira sama. Semangat perjuangan “Merdeka atau Mati”. “Merdeka” tidak dapat dimaknai sebagai kebebasan, melainkan sebagai kelanjutan perjuangan menegakkan kedaulatan seraya mewujudkan kesejahteraan sosial dalam keadilan.

Menurut Pak Moestopo (salah satu pejuang Pertempuran Surabaya), kemerdekaan berarti menegakkan “harga diri”, dengan “kerja keras”, untuk “berdiri di atas kaki sendiri”, senantiasa “hidup dalam kesederhanaan”, “tidak berhutang”, berusaha beramal “selalu memberi”, “berbakti kepada masyarakat, bangsa, negara sebagai ladang berkarya”.

Menegakkan harga diri dengan bekerja keras meningkatkan potensi diri hingga layak sejajar dengan bangsa-bangsa maju.

Berdiri di atas kaki sendiri berarti dapat mencukupi kebutuhan diri sendiri, tidak berhutang kepada pihak lain. Karena itu hidup harus dalam kesederhanaan.

Dalam kehidupan bersama selalu mengusahakan untuk memberi (beramal) dalam bentuk apapun (harta, tenaga, pengetahuan, pengalaman). Bertekad untuk berbakti kepada masyarakat, bangsa, negara, umat manusia. Dalam kesadaran bahwa masyarakat dimana kita berada adalah lading tempat berkarya.

Prof. Dr. Moestopo meyakini bahwa perjuangan berlangsung sepanjang hayat. Negara Indonesia yang kala itu baru merdeka kira-kira 10 tahun, memerlukan kondisi masyarakat yang sehat jasmani dan rohani, berpengetahuan politik kebangsaan yang berdasarkan Pancasila, berpengetahuan ekonomi sebagai dasar kemandirian, serta mengkomunikasikan kesadaran hidup sehat, ide Pancasila, serta ekonomi nasional yang mandiri.

Atas dasar pemikiran idealis itu Pak Moestopo mendirikan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dengan empat fakultas. Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Publisistik (Ilmu Komunikasi).

Modal dasar perguruan tinggi yang didirikannya (termasuk perguruan tinggi swasta tertua di Jakarta) adalah tanah beserta rumah pribadi di Jl Hang Lekir Jakarta dan mobil Opel Kapitan (hadiah Menteri PTIP, Prof. Dr. Syarief Thayeb).

Semangat juang diimbaskan oleh pejuang Surabaya itu kepada para karyawan dan dosen penyelenggara pendidikan tinggi yang didirikan.

Karyawan penyelenggara universitas adalah relawan yang hanya bekerja untuk mendapatkan makan ala kadarnya, disertai harapan meningkat pendidikannya sampai tingkat sarjana. Para dosen (kebanyakan pegawai negeri, swasta, TNI, Polri) menyumbangkan waktunya untuk mengajar secara sukarela.

Pesan pak Moestopo sebelum meninggal dunia (9 Oktober 1985) adalah “Bertakwalah kepada Tuhan Yang Mahaesa”, “Hormati ayah, bunda, dan gurumu”, “Hormat dan Taat kepada Kepala Negara”, “Rajin dan Jujur”, “Laksanakan Butir-Butir Mutiara Pancasila”.

Pesan itu sebenarnya telah diteladankan dalam perilaku keseharian Pak Moes. Misalnya, tentang “demokrasi”. Di kelas makna demokrasi diplesetkan oleh pak Moes kedalam bahasa Jawa “do emoh dikerasi”, maknanya anti kekerasan.

Diwujudkan oleh pemerintah maupun oleh rakyat. Pemerintah menjamin keleluasaan masyarakat untuk mengemukakan pendapat dan menentukan pendiriannya sesuai jalur hokum positif.

Sementara masyarakat menjamin keleluasaan pemerintah untuk menentukan kebijakan membangun ksejahteraan dan keadilan. Kala itu, 15 Januari 1974.

Mahasiswa di kampus “Merah Putih” Hang Lekir bersiap-siap untuk ikut berdemo. Pak Moestopo berdiri dengan tongkat penopang tubuh di depan gerbang kampus menghalangi, seraya berteriak … “Siapa yang keluar dari kampus, tidak boleh masuk lagi.” “Saya pecat.” “Sudah pernah berjasa apa kamu kepada negara.” “Kok berani memaksakan kehendak.” Mahasiswa pun surut.

Perilaku telah dicontohkan. Pesan telah disampaikan. Tinggal kita, yang hidup merdeka pada era kini. Apakah berada pada kesadaran untuk meneladani mereka ? Semoga.

Editor: Achmad Subechi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved