Kolom Maryono Basuki

Hikayat Merdeka atau Mati, Pesan-Pesan Pahlawan

Mayat bergelimpangan di selokan dan pinggir jalan. Sampai tanggal 14 November 1945 pemuda Surabaya (mengklaim) sudah berhasil merontokan pesawat.

Hikayat Merdeka atau Mati, Pesan-Pesan Pahlawan
youtube.com
Sutomo atau dikenal dengan sebutan Bung Tomo, pahlawan nasional

Tembakan pistol, senapan, senapan mesin berat dan ringan sampai mortir saling bersahutan. Asap membubung di atas kota Surabaya. Pasukan Inggris terjepit, bahkan Brigade 49 ini terancam punah.

Mereka sulit mendapat bala bantuan, karena induk pasukan Inggris berada di Semarang (200 mil dari Surabaya). Amunisi dan logistik tambahan yang di-drop dari udara malah jatuh ke pihak Indonesia.

Salah satu pertempuran dramatis terjadi di jembatan Wonokromo. Kontak senjata berlangsung selama lima jam sampai akhirnya pasukan Inggris kehabisan peluru.

Dua peleton Maratha yang masyhur dapat diisolir dan terkepung, nyaris dihabisi massa rakyat. Beruntung personel BKR datang menyelamatkan mereka dan membawa mereka dengan truk ke induk pasukan di pelabuhan Tanjung Perak.

Kali Mas yang membelah kota Surabaya menjadi saksi keganasan perang. Di sungai itu mengambang mayat-mayat tentara Inggris.

Menurut sumber Inggris, korban di pihak mereka 200 orang tewas atau hilang, dan 80 luka-luka. Di sejumlah pos pertahanan, pasukan Inggris mengibarkan bendera putih.

Panglima Tentara Sekutu di Indonesia (AFNEI – Allied Forces Netherlands East Indies), Letnan Jenderal Sir Philip Christison berusaha menyelamatkan pasukannya di Surabaya dengan meminta pemimpin RI di Jakarta turun tangan.

Atas permintaan Christison, 29 Oktober petang Presiden Soekarno, terbang ke Surabaya, didampingi Wakil Presiden Hatta, dan Menteri Pertahanan Amir Sjarifudin.

Pagi 30 Oktober 1945, Bung Karno bersama Mayjen Hawthorn mengadakan perundingan damai dengan para pemimpin pejuang di kantor Gubernur Jawa Timur.

Sepanjang tiga hari, dari 28 Okober sampai 30 Oktober 1945 atau sampai perundingan antara Presiden Soekarno dan Letnan Jenderal Sir Philip Christison berjalan, kontak senjata masih terjadi. Baru setelah dicapai kesepakatan genjatan senjata, suasana mulai mereda.

Halaman
1234
Editor: Achmad Subechi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved