Breaking News:

Kasus Ratna Sarumpaet

Permohonan Ratna Sarumpaet Jadi Tahanan Kota Ditolak, Pengacara Nilai Polisi Tidak Konsisten

Argo Yuwono beralasan, penolakan dilakukan dengan alasan subjektivitas penyidik.

Penulis: Rangga Baskoro | Editor: Yaspen Martinus
Warta Kota/Henry Lopulalan
Tersangka kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks, Ratna Sarumpaet, hendak menjalani pemeriksaan kejiwaan di Bidang Kedokteran Kesehatan (Biddokes) Polda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Rabu (10/10/2018). 

KABID Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, untuk kali kedua pihaknya menolak permohonan tahanan kota yang diajukan oleh pengacara Ratna Sarumpaet, Insank Nasruddin.

Argo Yuwono beralasan, penolakan dilakukan dengan alasan subjektivitas penyidik.

"Untuk tahanan kota tidak dikabulkan, alasannya jadi masih dilakukan penahanan adalah subjektivitas penyidik, artinya penyidik masih tetap melakukan penahanan," kata Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Kamis (8/11/2018).

Baca: Sebelum Bikin Hoaks, Psikis Ratna Sarumpaet Sudah Terganggu

Dikonfirmasi secara terpisah, Insank menyesalkan keputusan kepolisian yang menolak permohonan kedua tahanan kota yang diajukan kliennya.

"Kalau alasan kedua ditolak karena subjektivitas penyidik, kami anggap tidak konsisten," ucap Insank.

Lantaran, ia menilai penolakan permohonan pertama diputuskan polisi lantaran penyidik belum memeriksa sejumlah saksi. Namun demikian, saat ini polisi menyatakan sudah cukup memintai keterangan mereka.

Baca: Jusuf Kalla Yakin Elektabilitas Jokowi-Maruf Amin Tak Berpengaruh Jika Rizieq Shihab Pulang

"Karena rujukannya yang awal bahwa penolakan di awal itu mengatakan kalau saksi belum diperiksa. Ibu RS juga belum selesai pemeriksaannya, juga BAP-nya. Makanya pada saat penolakan pertama kami anggap hal ini rasional. Kami bisa memaklumi karena kami ingin proses hukum cepat diselesaikan," paparnya.

Sedangkan permohonan tahanan kota kedua diajukan Insank, lantaran kondisi kesehatan Ratna Sarumpaet yang menurun. Ia pun beranggapan bahwa Ratna Sarumpaet depresi berada di dalam Rutan Mapolda Metro Jaya.

"Kami kan mengajukan pengalihan tersebut dengan rujukan pasal 22 ayat 1 KUHP. Kami di sini, yang menjadi dasar bahwa Ibu RS itu depresi. Sehingga ketika orang depresi, sangat tidak layak harus berada di dalam rutan seperti ini. Tapi, kalau kemudian hal ini ditolak, kami kuasa hukum tentunya sangat kecewa atas penolakan tersebut," beber Insank. (*)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved