Breaking News:

Prabowo Dampingi Soeharto Sebelum Lengser

Siti Hardijanti Rukmana yang akrab disapa Mbak Tutut Soeharto kembali membagikan kisah keluarga besar Cendana era Orde Baru.

Penulis: | Editor: Andy Pribadi
Kunjungan Presiden Republik Indonesia, Soeharto menemui pemimpin Kerajaan Kamboja pada tahun 1997 silam. Mereka berfoto hingga makan malam bersama dengan anggota kerajaan. (Instagram @tututsoeharto) 

SITI

Hardijanti Rukmana yang akrab disapa Mbak Tutut Soeharto kembali membagikan kisah keluarga besar Cendana era Orde Baru.

Prabowo Subianto mendampingi Soeharto sebelum lengser dari jabatan Presiden Republik Indonesia.

Sejarah keluarga itu terekam dalam sejumlah potret yang diunggah Mbak Tutut lewat akun Instagramnya @tututsoeharto pada Kamis (1/11/2018) kemarin.

Mbak Tutut memposting kunjungan Presiden Republik Indonesia, Soeharto yang didampingi oleh Prabowo serta dirinya dan Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto.

Dalam potret, Mbak Tutut menceritakan kejadian tersebut dalam rangka kunjungan Presiden Republik Indonesia, Soeharto menemui pemimpin Kerajaan Kamboja pada tahun 1997 silam. Mereka berfoto hingga makan malam bersama dengan anggota kerajaan.

Tidak diceritakan kehadiran Prabowo yang masih menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dalam pertemuan kala itu.

Akan tetapi, diketahui jika tahun 1997 merupakan tahun bersejarah bagi masyarakat Kamboja.

Ketika itu, terjadi peristiwa Pertikaian Kamboja 1997 atau sering kali disebut Kudeta Kamboja 1997 yang terjadi pada bulan Juli dan Agustus 1997.

Kudeta tersebut muncul akibat perebutan kekuasaan.

Perdana Menteri Pertama Kamboja Hun Sen yang berasal dari Khmer Merah atau Partai Kamboja Demokratik (PKD) mendepak Perdana Menteri Kamboja Kedua Norodom Ranariddh yang berasal dari Front Uni National pour un Cambodge Indépendant (Funcinpec). Akibatnya, puluhan orang tewas pada konflik tersebut.

"Masih dalam kegiatan kunjungan Bapak ke Kamboja tahun 1997. Kita disambut dengan hangat. Persahabatan ASEAN harus terus kita bina. Untuk terciptanya suasana damai di kawasan ini," tulis Mbak Tutut melengkapi postingan.

Setahun usai mengunjungi negara konflik, Indonesia mengalami degradasi.

Konflik yang berasal dari krisis ekonomi kala itu diduga dimanfaatkan oknum elit politik, kepercayaan publik memudar, unjuk rasa berubah menjadi kerusuhan.

Di tengah tekanan militer dan politik, Soeharto mendeklarasikan diri mundur sebagai Presiden Republik Indonesia kedua pada tanggal 21 Mei 1998. (dwi)

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved