Mimpi Dona Jadikan Songket Silungkang Bisa Mendunia

Songket dengan pewarna alam spesifik dan punya nilai jual lebih dan tidak diproduksi dalam jumlah banyak sehingga lebih eksklusif.

Peserta menggunakan busana songket saat mengikuti International Songket Carnaval di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, Kamis (25/8/2016). Melalui karnaval sebagai ajang promosi tersebut pemda setempat menargetkan tenun songket Silungkang yang diproduksi di Kota Sawahlunto dapat menjadi pakaian nasional. (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Prib) 

SONGKET dengan pewarna alam spesifik dan punya nilai jual lebih dan tidak diproduksi dalam jumlah banyak sehingga lebih eksklusif.

Selama ini menenun dianggap identik dengan aktivitas yang dilakoni para perempuan lanjut usia guna mengisi waktu senggang.

Namun, anggapan tersebut dimentahkan oleh seorang perempuan muda Anita Dona Asri (32) asal Desa Lunto Timur, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat.

Kendati perjuangan melawan stigma tersebut tidak mudah,  dara kelahiran 13 Mei 1986 itu membuktikan bahwa perempuan muda juga bisa menenun bahkan dengan karya yang tak kalah apik.

Sosok yang akrab disapa Dona tersebut meyakini urusan pertenunan harus diwarisi agar karya-karya bernilai dari tanah kelahirannya, yakni songket Silungkang, tidak punah namun bisa mendunia.

Belajar menenun sejak kelas 3 SD dari orang tuanya, anak dari pasangan Syamsamir Rajo Alam dan Nuryati itu terus mengembangkan kemampuannya secara otodidak.

Bahkan, saat ia menempuh studi di Universitas Negeri Padang, menenun tetap dilakoni untuk membiayai kuliah secara mandiri hingga lulus.

Saat menjadi mahasiswa Dona membawa satu set panta atau alat tenun bukan mesin ke rumah kos dan saat ada waktu luang jemarinya dengan lincah menenun dengan target sehelai songket per pekan untuk dijual.

Setamat dari Jurusan Bimbingan Konseling Universitas Negeri Padang, ia pun kembali berjuang melawan pandangan masyarakat yang beranggapan seorang sarjana harus bekerja di kantoran. 

Sempat menjalani profesi sebagai guru namun karena sudah telanjur jatuh cinta dengan songket ia pun kembali meneruskan usaha songket orang tuanya yang tutup akibat krisis ekonomi.

"Saya lebih memilih mengembangkan tenun songket," kata Dona.

Meski harus menghadapi pandangan miring, Dona pantang surut untuk fokus menekuni keahlian menenun hingga akhinya berhasil membuka lapangan kerja lewat merek usaha Dolas Songket.

Kala itu hanya satu orang yang menjadi anggota tenunnya, namun kini sudah mencapai 19 orang yang merupakan tetangga sekitar rumah.

Sejak itu proses pengerjaan songket mulai dari manuriang (memintal benang), manghani (merentangkan posisi benang), manyambuang (menyambung benang), mangarok (menentukan bentuk, ukuran, serta motif), hingga menenun menjadi rutinitas keseharian yang ditekuni Dona.


Pewarna Alam

Pada 2014 ia pun mendapatkan kesempatan mendapatkan pendampingan dari Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat (LP2M) Padang bekerja sama dengan Maybank.

Saat itu Dona bersama penenun lainnya diajarkan bagaimana menenun menggunakan pewarna dari bahan alam sehingga kualitas kain lebih bagus dan lembut bahannya.

Tidak hanya itu songket yang dibuat dengan pewarna bahan alam selain ramah lingkungan juga lebih nilai jualnya menjadi lebih tinggi.

Ia pun mengembangkan bahan pewarna alami dari berbagai tanaman di sekitar rumah mulai dari daun putri malu, serbuk surian, kulit manggis, jengkol, dan pacar air.

Memang untuk menghasilkan benang dengan warna alam, diperlukan waktu lebih dari satu minggu untuk perebusan benang, ekstraksi warna dari tanaman atau buah, pencelupan, dan fiksasi atau penguncian warna.

Akan tetapi songket dengan pewarna alam spesifik dan punya nilai jual lebih dan tidak diproduksi dalam jumlah banyak sehingga lebih ekslusif.

Tak hanya itu Dona juga mendapatkan pendampingan dari Bank Indonesia dan terpilih sebagai 20 wirausahawan muda terbaik Bank Indonesia pada 2017.

Dari sisi pemasaran ia pun telah memanfaatkan media sosial berupa instagram untuk memajang hasil karya terbaru yang bisa diakses calon pembeli dari mana pun.

Setiap helai songket karya Dona kini dijual mulai dari Rp600 ribu hingga yang tertinggi mencapai Rp3,5 juta tergantung bahan yang digunakan dan motif yang dibuat

Selain itu dukungan pemerintah Kota Sawahlunto juga cukup tinggi untuk menjadikan songket Silungkang sebagai salah satu produk andalan daerah itu.

Ini terbukti dengan setiap tahun sejak 2015 digelar ajang Sawahlunto International Songket Carnival setiap tahun sebagai sarana memperkenalkan hasil karya tangan tangan terampil dari kota arang tersebut.


Ke Luar Negeri

Berkat kegigihannya memproduksi dan memasarkan songket, setelah melewati seleksi Dona terpilih mewakili Indonesia untuk bertolak ke Brusels, Belgia mengikui ajang European Development Days yang merupakan pameran kerajinan tingkat dunia pada ada 7-8 Juni 2017.

Terpilihya Dona mengulang kembali keberhasilan dua perajin songket asal Silungkang, yaitu Ande Bainsyah dan Ande Baiyah, yang membawa hasil karya mereka untuk dipamerkan di Kota Brussels, Belgia pada 1910 atas undangan Ratu yang memerintah negara tersebut.

Keikutsertaan Dona diawali saat mengikuti seleksi melalui LP2M, dibawah naungan Asosiasi Perempuan Pengusaha Kecil Indonesia (Aspuk).

Ia masuk sebagai 12 finalis se-Indonesia dan satu-satunya dari pulau Sumatera. Dan pada seleksi berikutnya akhirnya terpilih untuk mengikuti ekspose di EDD Brussel.

Keikutsertaannya pada pameran menjadi pintu masuk agar songket Silungkang menjadi lebih dikenal dunia.

Pada 2-5 Agustus 2018 ia pun kembali berkesempatan berpameran di luar negeri pada ajang Festival Indonesia-Moscow 2018 yang digelar di Krasnaya Presnya Park Moscow.

"Kesempatan itu saya menfaatkan untuk menjadikan songket Silungkang kian dikenal sebagai mahakarya seni yang berharga," katanya.

Dona pun berkomitmen untuk terus mengembangkan dan mempertahankan songket Silungkang sebagai bagian tradisi Minang dengan tetap memakai alat tenun bukan mesin, setia dengan motif klasik, menghidupkan motif yang pernah berjaya pada masanya, dan memakai pewarna alamiah.

Ia pun berpesan kepada generasi muda tak perlu malu untuk mempertahankan tradisi songket karena ini adalah peluang yang menjanjikan.

"Bahkan bagi yang ingin kuliah bisa dibiayai lewat jual songket," ujarnya.

Pemerintah kota setempat mendata terdapat 837 perajin pada 18 desa dan kelurahan yang tersebar di empat kecamatan.

Dari jumlah UMKM songket tersebut perajin mampu menghasilkan kain songket sebanyak 192 helai per hari, atau dua helai dalam tiga hari.

Sekarang di Sawahlunto, kota kecil yang berjarak sekitar 80 kilometer dari ibu kota Provinsi Sumatera Barat songket menjadi ikon ekonomi kreatif kota yang dulunya merupakan daerah penghasil batu bara.


Dukungan Perbankan

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Taswin Zakaria fokus menggarap pembiayaan pada sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Tanah Air karena merupakan motor utama penggerak ekonomi.

"Bisnis terbesar Maybank Indonesia adalah sektor UMKM karena itu dalam empat tahun terakhir pertumbuhan aset kami berasal dari sektor tersebut," kata dia saat saat peresmian kembali Kantor Maybank Cabang Padang.

Menurutnya, ke depan akan lebih fokus menggarap UMKM apalagi di Padang 80 persen ekonomi di daerah tersebut ditopang oleh sektor itu.

"Kami akan terus dukung agar perkembangan UMKM semakin pesat," tambahnya.

Saat ini total pembiayaan pada sektor UMKM mencapai 40 persen dari total dana yang ada.

"Kalau berikut retail dan UMKM totalnya ada 70 persen aset kami di sektor itu," ujarnya.

Kemudian sebagai bentuk kepedulian tanggung jawab sosial perusahaan Maybank juga melatih para perempuan penenun yang ada di Sawahlunto agar produk yang dihasilkan bisa dipasarkan dan cara mengelola usaha hingga pemasaran.* (Antara)

Editor: Hertanto Soebijoto
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved