Lola Amaria Putar Film 'Lima' di Wellington Selandia Baru

Lola menyatakan, Selandia Baru yang didatanginya untuk memutarkan film Lima adalah negara kelima

Lola Amaria Putar Film 'Lima' di Wellington Selandia Baru
istimewa
Lola Amaria di Selandia Baru 

Ruangan Bali di Gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wellington, Selandia Baru, akhir pekan kemarin penuh sesak. Banyak warga negara Indonesia datang dan antusias hadir untuk nonton bersama pemutaran film Lima garapan Lola Amaria Production.

Sambil menunggu tenggelamnya mentari di musim semi di Wellington, para penonton bersemangat menunggu gelaran nonton bareng. Jeda waktu itu dipakai pembawa acara melontarkan pertanyaan kuis. Mereka antusias dan berebutan memberikan jawaban atas pertanyaan si pembawa acara.

Sebelum film Lima diputar, Lola Amaria --sutradara sekaligus produser film Lima--dan Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya, menggelar diskusi singkat tentang latar-belakang diangkatnya tema Pancasila dalam film yang salah satunya dibintangi Prisia Nasution tersebut.

Lola menyatakan, Selandia Baru yang didatanginya untuk memutarkan film Lima adalah negara kelima yang dihampirinya. Wellington menjadi kota kedua di Selandia Baru yang dikunjungi tim Lola Amaria Production setelah sebelumnya Lima juga sukses ditayangkan di Christchurch.

Setelah Wellington, Lola dijadwalkan memutar film Lima di Auckland. Lola berharap, setelah menonton film Lima, penonton dapat membawa pandangan positif tentang pentingnya toleransi, kebhinnekaan dan semakin memperkuat semangat kebangsaan dan hidup bernegara.

"Film Lima menggambarkan toleransi yang begitu besar dalam kehidupan, terutama di negara kita tercinta, Indonesia," kata Lola saat dihubungi lewat telepon dari Jakarta, Rabu (31/10) siang. Banyak warga Indonesia di Wellington, lanjut Lola, yang mendapatkan banyak pesan lewat filmnya tersebut.

Dalam siaran persnya, Tantowi mengatakan, film tentang pentingnya mengamalkan setiap sila dalam Pancasila dalam kehidupan berbangsa itu adalah guiding principle yang magis karena menyatukan keberagaman Indonesia dari ujung barat di Pulau We, Aceh, hingga Merauke di Papua.

"KBRI dan masyarakat Indonesia di Wellington sangat beruntung menerima kedatangan sineas muda idealis dan kreatif, seperti Lola Amaria," kata Tantowi. Selain mendukung kemajuan perfilman Indonesia yang berkualitas, film Lima diharapkan juga dapat membumikan Pancasila.

"Pancasila adalah ideologi negara yang membakar rasa nasionalisme di hati para diaspora Indonesia di Selandia Baru," ucap mantan Ketua Umum PAPPRI ini. Acara nonton bareng film Lima adalah kerjasama Lola Amaria Production, Persatuan Pelajar Indonsia (PPI) Selandia Baru, Christchurch, Wellington dan Auckland, serta KBRI Wellington.

KBRI Wellington, ujar Tantowi, bahkan akan terus memberi fasilitasi kegiatan serupa yang bertujuan memupuk rasa kebangsaan serta persatuan di tengah kebhinekaan bagi seluruh warga Indonesia di Selandia Baru.

Film Lima dikerjakan lima sutradara Indonesia. Selain Lola, dilibatkan pula empat sutradara film lain, yaitu Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, dan Adriyanto Dewo serta Harvan Agustriansyah yang masing-masing menggarap setiap Sila, kemudian disatukan menjadi plot cerita utuh.

Film berdurasi 110 menit ini mengangkat kisah pentingnya toleransi dan kebhinekaan yang saat ini terancam dengan nilai-nilai chauvinistik terhadap golongan, ras atau agama tertentu. Pesan yang ingin disampaikan, adalah, Pancasila, terutama sila ketiga Persatuan Indonesia tidak akan terberangus dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. (kin)

Penulis:
Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved