Breaking News:

Pesawat Jatuh

VIDEO: Kematian Co-pilot Lion Air JT 610 Bikin 'Iri' Tetangga

Ungkapan cemburu atas kematian Kapten Harvino diungkapkan salah satu tetangga Kapten Harvino, Dimas Adista lewat channel Youtube

Penulis: | Editor: Andy Pribadi

KECELAKAAN pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang yang jatuh di perairan antara Kepulauan Seribu dengan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada Senin (29/10/2018) pagi membawa duka bagi semua.

Namun tidak bagi tetangga Kapten Harvino selaku Co-pilot pesawat Lion Air JT 610, mereka iri akan kematian sang kapten.

Ungkapan cemburu atas kematian Kapten Harvino diungkapkan salah satu tetangga Kapten Harvino, Dimas Adista lewat channel Youtube @Hawaatiyyun; pada Senin (29/10/2018) malam.

Dalam video diskusi tersebut, Dimas didampingi pendakwah muda, yakni Hawaaariyyun dan Weemar Aditya menceritakan sosok sang kapten semasa hidup.

Dimas Adista secara langsung menyebut dirinya sangat iri atas kematian Kapten Harvino yang diketahui adalah seorang mukmin yang taat. Tidak hanya rutin shalat berjamaah, Kapten Harvino juga tidak pernah melewatkan kajian di masjid.

"Jadi kalau saya pribadinya itu irinya, kami di komplek itu, kami bisa bersaksi di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala saat ini bahwa beliau itu adalah ahli ibadah. Jadi setiap ahad (minggu) itu selalu ada kajian habis subuh dan selalu beliau ini ada saksinya dari Ketua DKM sendiri bahwa beliau jarang sekali absen selama setahun."

Baca: Presiden SBY dan BJ Habibie Pernah Selamatkan Tuti Tursilawati, TKW Yang Dieksekusi di Arab

Kajian itu dijelaskannya adalah syuruq, yakni kajian sebelum matahari terbit. Kajian yang digelar setelah shalat subuh berjamaah di masjid dalam komplek rumah mereka.

"Kajian Ahad pagi itu selalu ada, dan beliau itu selalu di situ, stay (tinggal) di situ mengikuti kajian demi kajian di saat yang lain nyender, ngantuk, dan dengan ikhtiarnya beliau selalu membawa anak-anaknya ke masjid, masih kecil-kecil, selalu membawa anak-anaknya ke masjid," ungkapnya.

Lewat keseharian Kapten Harvino yang taat beribadah, Dimas membayangkan detik-detik kematian yang justru disambut gembira Kapten Harvino.

"Kalau saya irinya membayangkan bahwa, ini asumsi saya ya, boleh ya, ini pribadi. Betapa tenangnya beliau ketika beliau tahu, kan beliau co-pilot ya, dari jendelanya beliau akan melihat bahwa di depan itu mau itu air, es mau apapun juga pasti ujung-ujungnya maut gitu. Tapi mungkin beliau ini lah bisa jadi satu-satunya orang di pesawat itu yang tersenyum karena, harusnya ya ketika lima menit kita menuju maut, beliau melihat ceklis dirinya sendiri kayaknya aman ya," ungkap Dimas.

Halaman
12
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved