Jumlah Korban Meninggal Dunia dan Hilang Akibat Bencana pada 2018 Paling Besar Sejak 2007

BNPB mencatat sejumlah bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian cukup besar yang terjadi sepanjang 2018.

Jumlah Korban Meninggal Dunia dan Hilang Akibat Bencana pada 2018 Paling Besar Sejak 2007
TribunJakarta/Nawir Arsyad Akbar
KEPALA Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho terkait pembaruan informasi gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, di Graha BNPB, Jakarta Timur, Rabu (3/10/2018). 

SEPANJANG 2018, terdapat sebanyak 1.999 bencana alam di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian cukup besar yang terjadi sepanjang 2018.

Bencana pertama diungkapkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, antara lain bencana longsor di Brebes, Jawa Tengah pada 22 Februari 2018, yang mengakibatkan 11 orang meninggal dunia dan 7 orang hilang.

Selanjutnya, banjir bandang di Lampung Tengah pada 26 Februari 2018. Kejadian tersebut mengakibatkan tujuh orang meninggal dunia. Lalu banjir bandang di Mandailing Natal pada 12 Oktober 2018, yang membuat 17 orang meninggal dunia dan 2 orang hilang.

Baca: Kata Jusuf Kalla, Menteng dan Kebayoran Baru Tak Bakal Dapat Dana Kelurahan

Bencana terbesar terjadi saat gempa bumi beruntun mengguncang Lombok dan Sumbawa sejak 29 Juli 2018 hingga 19 Agustus 2018, mengakibatkan 564 orang meninggal dunia dan 445.343 orang mengungsi.

Kemudian, bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018, mengakibatkan 2.081 orang meninggal dunia, 1.309 orang hilang, dan 206.219 orang mengungsi.

Dampak yang ditimbulkan bencana tersebut sangat besar. Tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa mengungsi dan terdampak bencana, 339.969 rumah rusak berat, 7.810 rumah rusak sedang, 20.608 rumah rusak ringan, dan ribuan fasilitas umum rusak.

Baca: Dana Kelurahan Digoreng Oposisi, Jokowi: Hati-hati, Banyak Politikus Sontoloyo

"Tingginya bahaya bencana, seperti gempa, tsunami, erupsi gunung api, banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, puting beliung, dan cuaca ekstrem, juga masih tingginya kerentanan dan masih rendahnya kapasitas menyebabkan tingginya risiko bencana," papar Sutopo Purwo Nugroho.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana pada 2018 paling besar sejak 2007.

Pada 2009 tercatat 1.245 kejadian bencana. Terjadi gempa cukup besar di Jawa Barat dan gempa di Sumatera Barat. Dampak bencana selama 2009 adalah 1.767 orang meninggal dunia dan hilang, 5.160 orang luka-luka, dan 5,53 juta orang mengungsi dan terdampak bencana.

Baca: Prabowo: Sebelum Saya Jadi Presiden, Kalau Bisa Rizieq Shihab Pulang

Pada 2010 tercatat 1.944 kejadian bencana. Beberapa kejadian besar terjadi secara beruntun selama 2010, yaitu banjir bandang Wasior, tsunami Mentawai, erupsi Gunung Merapi, dan erupsi Gunung Bromo.

Dampak yang ditimbulkan bencana selama 2010 adalah 1.907 orang meninggal dunia dan hilang, 35.730 orang luka-luka dan 1,66 juta orang mengungsi dan terdampak bencana.

Selama 2018, bencana hidrometeorologi tetap dominan. Jumlah kejadian puting beliung 605 kejadian, banjir 506, kebakaran hutan dan lahan 353, longsor 319, erupsi gunung api 55, gelombang pasang dan abrasi 33, gempa bumi yang merusak 17, dan tsunami 1 kali.

"Gempa bumi yang merusak dan tsunami memang jarang terjadi. Namun saat terjadi, gempa bumi yang merusak seringkali menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi yang besar," paparnya. (*)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved