BNPB: Masyarakat dan Pemerintah Daerah Belum Siap Hadapi Bencana-bencana Besar

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana pada 2018 adalah paling besar sejak 2007.

BNPB: Masyarakat dan Pemerintah Daerah Belum Siap Hadapi Bencana-bencana Besar
TRIBUNNEWS/REZA DENI
Kepala Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB, Jakarta Timur, Minggu (7/10/2018). 

DIKELILINGI cincin api, berbagai bencana selalu menyertai Indonesia setiap tahunnya. Namun sayang, masyarakat dan pemerintah daerah belum siap menghadapi bencana.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.

Berdasarkan catatan, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana pada 2018 adalah paling besar sejak 2007.

Baca: Jumlah Korban Meninggal Dunia dan Hilang Akibat Bencana pada 2018 Paling Besar Sejak 2007

Pada 2009, tercatat 1.245 kejadian bencana. Terjadi gempa cukup besar di Jawa Barat dan gempa di Sumatera Barat. Dampak bencana selama tahun 2009 adalah 1.767 orang meninggal dunia dan hilang, 5.160 orang luka-luka, dan 5,53 juta orang mengungsi dan terdampak bencana.

Pada 2010 tercatat 1.944 kejadian bencana. Beberapa kejadian besar terjadi secara beruntun selama 2010, yaitu banjir bandang Wasior, tsunami Mentawai, erupsi Gunung Merapi, dan erupsi Gunung Bromo.

Dampak yang ditimbulkan bencana selama 2010 adalah 1.907 orang meninggal dunia dan hilang, 35.730 orang luka-luka, dan 1,66 juta orang mengungsi dan terdampak bencana.

Baca: Fakhri Husaini: Penunjukan Bima Sakti Sebagai Pelatih Timnas Indonesia Berbahaya

Selama 2018 ini, bencana hidrometeorologi tetap dominan. Jumlah kejadian puting beliung 605 kejadian, banjir 506, kebakaran hutan dan lahan 353, longsor 319, erupsi gunungapi 55, gelombang pasang dan abrasi 33, gempabumi yang merusak 17, dan tsunami 1 kali.

"Statistik bencana tersebut makin menunjukkan bahwa negara kita rawan bencana. Secara umum tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi bencana-bencana besar belum siap," ungkap Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran tertulis pada Jumat (26/10/2018).

"Mitigasi bencana, kesiapsiagaan menghadapi bencana, dan pengurangan risiko bencana masih perlu terus ditingkatkan," tambahnya.

Baca: Timnas U19 Jalani Laga Hidup Mati, Indra Sjafri: Jangan Jadi Bangsa yang Kalah Sebelum Bertanding

Lebih lanjut diungkapkan Sutopo Purwo Nugroho, pengurangan risiko bencana harus dimaknai sebagai investasi pembangunan nasional. Apabila tidak dilakukan, dampak bencana akan selalu menimbulkan korban jiwa besar kerugian ekonomi yang besar.

"Saat ini, wilayah Indonesia akan memasuki musim penghujan. Diperkirakan banjir, longsor, dan puting beliung akan banyak terjadi selama musim penghujan. Gempa bumi tidak dapat diprediksi secara pasti. Rata-rata dalam setahun terjadi 5.000-6.000 kali gempa. Gempa bumi dapat terjadi kapan saja, terutama di daerah-daerah rawan gempa," jelas Sutopo Purwo Nugroho.

"Masyarakat diimbau untuk selalu waspada. Kenali bahayanya dan kurangi risikonya," imbaunya. (*)

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved