Berbulan-bulan Tidak Melaut, Yudi Hanya Mengandalkan Uang Makan Rp 50.000 Per Hari

“Saya sudah 18 tahun jadi ABK dan baru sekarang nganggur selama ini, udah dua bulan nggak melaut,”

Warta Kota/Junianto Hamonangan
Anak Buah Kapak (ABK) Pono, yang sedang mengurus kapal nelayan di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, Jumat (19/10/2018). 

WARTA KOTA, PENJARINGAN---Sejumlah nelayan di Pelabuhan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, tidak bisa melaut hingga berbulan-bulan karena belum juga memperoleh Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI). Alhasil kesulitan ekonomi pun melanda para anak buah kapal (ABK).

Seorang ABK kapal nelayan di Muara Angke, Yudi (35), mengaku sudah dua bulan terakhir ini dirinya tidak melaut.

Maklum saja kapal tempatnya bekerja saat ini, belum mendapat SIPI dari Kementerian Kelautan Perikanan (KKP).

“Saya sudah 18 tahun jadi ABK dan baru sekarang nganggur selama ini, udah dua bulan nggak melaut,” ujar warga asli Tegal itu, Jumat (19/10/2018).

Padahal Yudi harus menghidupi istri dan seorang anaknya yang tinggal di kampung.

Sementara untuk bertahan hidup saat tidak melaut, dirinya hanya mengandalkan uang makan sebesar Rp 50.000 setiap harinya dari pemilik kapal.

“Setiap hari cuma ngandelin uang makan Rp 50.000 dari pemilik kapal. Kadang itu juga saya sisihin buat keluarga di kampung biar cukup,” kata Yudi.

Padahal Yudi bisa mengantongi penghasilan sampai Rp 6 juta untuk sekali melaut.

Dengan kondisi penghasilan yang minim, Yudi mengaku sang istri berniat menjadi tenaga kerja wanita (TKW) agar bisa menambah penghasilan.

“Tapi itu kan nggak cukup, jadinya istri saya pengen kerja di luar negeri, ini masih di tempat penampungan, baru mau berangkat,” kata Yudi.

Halaman
123
Penulis: Junianto Hamonangan
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved